Itinerary

Selter 101: Tiada Hujan tapi Kok Rembes?

Klantang klinting klantang klinting…. Alarm berbunyi menandakan pukul 03.00 dini hari. “Summit attack time” rupanya. Dibukanya ritsleting sleeping bag oleh si Adul.

“Loh, ini koq kaki kayak basah, ya? Emang semalem hujan?” tanya Adul dalam hati. Dilihatnya di sisi-sisi tenda ada titik-titik air yang sedikit demi sedikit mengalir ke bagian footprint.

Benarkah hujan turun ketika Adul tidur?

Faktanya, Adul saat itu mendaki pas musim kemarau. Yang menemaninya malam itu hanyalah bintang dari Bimasakti. Lalu, dari manakah air yang merembes di tenda Adul? Embun pagi? Mungkin saja. Tapi ada kemungkinan lain yang jarang diperhitungkan pendaki sekarang: air itu berasal dari hidung kita sendiri.

Aneh? Tidak kalau memang kamu menamatkan pelajaran biologimu dengan baik.

Mari kita flashback ke pelajaran biologi dulu mengenai respirasi atau pernapasan. Mungkin kita hanya tahu teori bahwasanya oksigen akan bertukar dengan karbon dioksida saat bernapas. Tapi kita mungkin lupa bahwasanya ada uap air yang keluar berbarengan pelepasan CO2. Tidak percaya? Coba bernapas depan cermin, pasti akan ada uap air di situ.

Sampai sini kita sepakat tentang pernapasan ya, Dul?

Terus mari kita bicara tentang tenda. Umumnya, di Indonesia tenda yang beredar menggunakan sistem double layer di mana terdapat bahan yang breathable dan dilapisi dengan layer yang berbahan waterproof atau tahan air. Jika Adul tertidur dalam tenda yang layer-nya tahan air di bagian luar sementara di luar tidak hujan, titik-titik air di bagian dalam tenda ya diproduksi oleh Adul sendiri.

Bingung?

Ribet, sih, memang. Jadi si Adul ini kalau bernapas bisa mengeluarkan uap air sekitar 1 liter dalam semalam, belum ditambah teman pendakiannya yang berjumlah tiga orang. Uap air yang dihasilkan secara total menjadi sekitar 4 liter dalam semalam.

Lalu, mengapa uap airnya bisa muncul di inner tenda? Karena si Adul dkk. ini pendaki pemula, belum pahamlah mereka bagaimana mendirikan tenda dengan benar. Layer terluar tenda Adul hanya terikat dengan tali rafia yang tak teratur bentuknya, memungkinkan lapisan dalam dan luar tenda menempel satu sama lain.

beli gear traveling
Tenda via pexels.com/Snapwire

Tapi apakah titik-titik air ini karena napas semata? Tentu tidak. Sebagaimana kita tahu, udara pegunungan akan lebih lembap saat malam hari, dengan suhu udara yang semakin menurun. Kelembapan air yang menempel di lapisan luar tenda ditambah suhu yang menurun akan membuat layer luar itu bak lapisan es. Terbayang ‘kan bagaimana dinginnya kalau outer ini langsung menempel ke bagian inner?

Terus begini, Dul. Dalam membangun tenda kamu harus memberi ruang antara inner dan outer. Mengapa? Supaya tidak terjadi kondensasi (perubahan wujud gas menjadi cair) yang menyebabkan bagian inner basah. Ruang itu akan memungkinkan uap air keluar dan tenda menjadi kering. Jika kedua layer menempel, uap air akan langsung bertemu layer tahan air yang menyebabkan uap kembali ke dalam berupa titik-titik embun.

Trik supaya tak terjadi kondensasi salah satunya adalah tidak menutup terlalu rapat bagian outer tenda, terutama untuk tenda dengan vestibule—itu loh yang ada teras buat masak-masak. Biarkan terbuka apabila cuaca cerah saat malam hari dan tutup setengah pintu saja apabila hujan. Akan lebih bagus jika layer bagian luar dipasak secara terpisah dari inner, sehingga ruang antara kedua layer makin maksimal dan peluang terjadinya kondensasi dapat diminimalisir.

Ternyata jarak antar-layer saja dapat menentukan keselamatan kita dalam mendaki gunung. Sepele, bukan?

Selain itu, sebenarnya ada hal lain yang juga sangat menentukan: kelembapan tanah. Oleh karena itu, ada baiknya untuk melapisi alas tenda dengan aluminium foil atau emergency blanket sebelum menggelar matras tiga puluh ribuan itu.

Alasan saya menulis ini ialah mengingatkan kembali si Adul tentang keselamatan pendakian, bahwa kecelakaan-kecelakaan dalam pendakian bukan hanya disebabkan oleh trek. Semakin ke sini, semakin sering saya melihat pendaki yang memasang flysheet asal-asalan—diikat dengan tali rafia pula—sehingga air tak bisa mengalir ke tanah karena tegangan tali yang kurang kencang, yang ujung-ujungnya akan memudahkan terjadinya kondensasi. Investasilah sedikit dengan membeli tali prusik.

Kecelakaan pendakian berawal dari hal yang simpel, sesimpel lupanya kita dengan pelajaran biologi dan fisika—atau, sederhananya, IPA—yang telah diajarkan sejak sekolah dasar.

Harga tendamu boleh saja berjuta-juta rupiah. Tapi, kalau tidak mengerti tentang konsep tenda itu sendiri, ya, buat apa?

Jangan lupa: di gunung, tidak ada yang bisa menolong diri kita selain kita sendiri.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Husen S.

Tinggal bahagia di Kecamatan Sawangan. Gemar mengemas keril walaupun tidak ada pendakian yang dilakukan. Seneng aja packing-nya.
Related posts
Itinerary

5 Cara Santai untuk Menikmati Perjalanan

Itinerary

5 Ide "Slow Travel" yang Bisa Kamu Coba Tahun 2020

Itinerary

2 Destinasi Ini Cocok buat "Solo Traveling" Perdana

Itinerary

Nggak Perlu Khawatir, 7 Hal Ini Hampir Selalu Ada di Kawasan Backpacker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *