Travelog

Mengenang Warung Bakmi tanpa Plang Nama

Seingat saya, waktu itu awal tahun 2016. Sore itu mendung tebal menggantung di langit Yogyakarta. Saya yang baru rampung kuliah langsung melompat ke motor Ajo yang sudah siaga menjemput di depan kampus.

“Aku belum makan, nih. Cari makan, yuk?” ujar saya sambil memasang helm.

“Eh, mau coba tempat makan baru, nggak? Di Bantul. Aku dulu pernah lewat, tapi tempat itu mencurigakan.”

Saya iyakan saja ajakannya. Kalau Ajo sudah bilang “mencurigakan,” hanya ada dua kemungkinan: makanannya enak atau tempatnya apik. Motor hitam digeber Ajo membelah jalanan kota menuju Jalan Parangtritis. Kami sempat berhenti untuk memakai mantol plastik seharga sepuluh ribu. Hujan sudah turun dengan deras. Saya pikir tempat makan itu ada di sekitar Sewon atau Bantul kota. Ternyata tidak. Motor terus melaju hingga mendekati Desa Jetis.

Mau ke mana, sih, ini? Perut sudah meronta, kaki hingga paha sudah basah karena tidak tertutup mantol. Ah… celana panjang ini bahkan sudah bisa diperas saking basahnya.

Ajo bilang tujuan kami sudah dekat. Lima puluh meter dari selatan jembatan menuju Gereja Ganjuran, motor kami menyeberang ke arah timur, masuk ke areal parkir sebuah warung bakmi Jawa tanpa plang nama.

Di bagian depan warung, seperti warung bakmi Jawa lazimnya, wilayah kekuasaan sang koki dipamerkan. Mi kuning, bihun, dan aneka sayuran ditempatkan di etalase kaca samping kompor. Nasi di bakul bambu dan ditutup dengan serbet kotak-kotak berada bersisian dengan bihun. Ayam-ayam utuh tergantung di bagian atas.

Kami disambut oleh seorang ibu setengah baya yang mempersilakan kami masuk ke dalam, di mana meja dan kursi pengunjung ditempatkan. Tiang pintunya agak rendah. Saya dan Ajo sampai menunduk saat melewatinya. Bagian dalam warung berlantai kayu. Bangunan semi permanen itu diisi beberapa meja kursi kayu dan diberi lilin minyak sebagai penerangan. Tiang bangunan ditempeli lampu minyak sebagai penerangan tambahan. Belum ada tanda-tanda listrik akan menyentuh warung ini.

Saya memesan bakmi godog, sementara Ajo memesan magelangan. Sambil menunggu pesanan tiba, saya bertanya.

“Kenapa bisa nemu tempat ini?” Saya heran, sebab, selain jauh, tempat ini menyempil di antara persawahan.

Ajo, dengan wajah usilnya, menjawab: “Waktu itu aku lewat jalan ini terus lihat warung ini rame banget. Aku penasaran, tapi belum sempat coba. Baru sekarang ini kesampaian.”

Ah… ternyata sederhana sekali alasannya.

Hujan semakin deras. Angin meniup-niup seng yang menjadi atap warung. Di tengah kekhawatiran itu, dua gelas teh panas disusul bakmi godog dan magelangan datang. Aroma kaldu ayam menguar di udara, menghangatkan perut yang sejak pagi belum diisi.

Cerita kami berlanjut. Ajo memesan lagi satu piring bakmi godog untuk memuaskan… entah lapar atau rasa penasarannya.

Saat hujan berhenti, saya dan Ajo memutuskan kembali pulang. Saat membayar, saya bertanya, “Nama warungnya apa, Pak?”

Seorang bapak yang menguasai tungku sebelah depan menjawab, “Bakmi Pak Geno. Baru sekali ini, ya, ke sini?”

Saya mengangguk.

Ia lalu seperti mencari sesuatu. Rupanya mencari kertas dan bolpoin, lalu menulis sederet angka.

“Ini nomer HP saya. Nanti kalau mau ke sini, bisa pesan dulu biar nggak nunggu lama.”

Saya terima kertas itu lalu saya masukkan ke dompet.

Kehilangan Pak Geno

Saya dan Ajo sempat beberapa kali makan di Warung Pak Geno. Bahkan, kami sempat memamerkan warung itu ke beberapa teman, salah satunya Hanum, teman kuliah saya. Kami berjanji akan mengajaknya mengunjungi Gereja Ganjuran dan mampir ke Warung Pak Geno.

Di hari yang sudah dijanjikan, saya, Ajo, Hanum, dan seorang kawan lagi, Sarca, melaju menuju Ganjuran. Tapi sayang Warung Pak Geno tidak buka. Warungnya sukses menyaru dengan gelapnya malam. Tidak ada ayam bergantungan atau pendar lilin samar-samar dari dalam.

Bukan. Bukan tidak buka.

Di depan warung ada semacam pengumuman yang ditulis di papan putih: “DIJUAL.” Air muka Ajo berubah, begitu juga saya. Kami telah menobatkan warung itu sebagai salah satu tempat makan favorit.

Tapi saya dan Ajo masih bisa bercanda. Kami bilang ke Hanum kalau dia belum beruntung. Akhirnya kami melipir ke Gereja Ganjuran lalu berhenti makan di salah satu warung nasi goreng dekat gereja.

Sepulang dari Ganjuran, saya mencari-cari kertas nomor telepon yang dulu pernah diberikan kepada saya. Tidak ada. Entah hilang di mana.

Sekitar empat tahun berlalu, saya masih sering bertanya-tanya Pak Geno pindah ke mana. Hingga di akhir tahun 2019, saat sudah tinggal dekat Gereja Ganjuran, saya pun masih menyimpan pertanyaan tentang misteri hilangnya Warung Pak Geno, sampai suatu hari, saat berangkat kerja, saya melihat plang besi berwarna biru tua dengan nama warung yang mirip. Mungkinkah itu Pak Geno yang itu?

Tapi sampai saat ini saya belum pernah mampir.

Bentuk warungnya berubah. Bangunannya tidak lagi dari bambu, tapi dari beton, lebih besar dan luas. Tidak hanya itu saja, tidak ada lilin sebagai penerangan, diganti dengan lampu listrik yang membuat warung terang benderang. Kalau pun itu benar warungnya Pak Geno yang dulu berada di pinggir sawah, sepertinya banyak hal yang sudah berubah.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Vidiadari

Merantau dari Banjarmasin ke Yogyakarta sejak 2005. Kadang mencuri waktu untuk jalan-jalan di antara kesibukan meneliti dan mengajar di universitas.
Related posts
Travelog

Suatu Malam di M Bloc Space

Pilihan EditorTravelog

Semalam di Tli'u

Pilihan EditorTravelog

Menuju Oh Aem

Pilihan EditorTravelog

Refleksi Diri di Hadapan Rajawali (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *