Travelog

Mengajak Anak-anak Flores untuk Menjaga Laut dan Megafauna

Mendung menghiasi langit Solor pagi itu. Karena sedang musim hujan, matahari ditutupi oleh awan. Namun, semangat saya untuk berangkat ke lokasi tidak surut.

Saat jam menunjuk angka tujuh, dengan motor “kongkor” Supra 125X saya meluncur menuju lokasi, yakni SD Inpres Wulublolong yang berada di Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur.

Setelah melewati beberapa perkampungan, akhirnya saya tiba di rumah pantia. Ia adalah pengatur waktu untuk kegiatan ini. Kepada saya kemudian disuguhkan air mineral untuk menawar lelah.

Lalu, satu per satu teman-teman dari Komunitas Solor Peduli mulai berdatangan. Kami pun bergegas ke sekolah. Setiba di sana kami disambut dengan baik oleh kepala sekolah, yang langsung mempersilakan kami untuk mempersiapkan kegiatan. Tanpa mengulur waktu, teman-teman pun mulai mengambil posisi sesuai tugas masing-masing.

“Selamat pagi. Salam sejahtera untuk kita semua. Semoga kita semua dalam keadaan sehat walafiat,” itulah sapaan singkat dari salah seorang panita kepada anak-anak SD yang sedari pagi menunggu kedatangan kami.

Satu per satu kami memperkenalkan diri dan memberi penjelasan singkat tentang profesi masing-masing, termasuk saya. Saya tak banyak bercerita tentang profesi saya, peneliti megafauna laut. “Lanjutnya ada dalam kelas [yang] sebentar [lagi akan dimulai],” ujar saya pada anak-anak. Profesi ini tentunya belum terlalu dikenal oleh anak SD.

Sebagai informasi, tugas yang diberikan oleh panitia kepada saya adalah menjadi inspirator. Alasan pasti kenapa saya ditugaskan begitu saya kurang tahu. Saya duga, barangkali karena profesi saya bisa dikatakan langka.

Dimulai dengan gotong-royong membersihkan pantai

Sebelum sesi kelas dimulai, seperti yang sudah disepakati sebelumnya, kami mengajak para murid untuk membersihan pantai di kampung itu. Saya pun langsung memimpin anak-anak SD itu untuk mengumpulkan sampah yang berserakan sepanjang pantai di Lewohedo.

Anak-anak itu sangat bersemangat. Padahal, dari sekolah ke pantai mereka harus melewati tanjakan lumayan tinggi. Mereka jalan kaki sambil memikul karung bekas yang sengaja mereka siapkan untuk memuat sampah.

Setiba di pantai, saya umumkan pada mereka bahwa yang paling banyak mengumpulkan sampah di karung nanti akan diberikan hadiah. Diiming-imingi kesenangan seperti itu, semuanya dengan bersemangat menyerbu pantai untuk mengumpulkan sampah paling banyak.

Semangat mereka terus bergelora meskipun aktivitas itu cukup melelahkan. Alhasil saya juga tetap semangat untuk mendampingi mereka mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di pesisir Desa Lewohedo. Lalu, setelah lokasi itu bersih kami pun istirahat sejenak dan meneguk air untuk meredakan haus dan lelah.

Kenapa harus membersihkan pantai?

Usai istirahat, saya lontarkan sebuah pertanyaan pada para siswa SD itu, “Kenapa kita harus membersihkan pantai?”

Jawaban mereka beragam. Semuanya membuat saya terkejut, sebab saya tak menduga ternyata mereka sudah memiliki dasar-dasar pengetahun tentang kepedualian terhada lingkungan. Ada yang menjawab supaya pantai kita bersih. Yang lainnya mejawab agar ikan kita tetap sehat. Dalam hati saya membatin, “Hebat banget kamu, Nak.”

Lalu, sambil memperlihatkan selembar gambar ikan paus, saya bercerita tentang matinya seekor paus jenis paus sperma sepanjang 9,5 meter di Wakatobi beberapa pekan lalu. Kemudian saya bertanya, “Tahukah kalian apa yang menyebabkan paus ini mati?”

Ternyata ada salah seorang anak yang menjawab begini, “Karena memakan sampah.” Refleks, karena senang, saya langsung berteriak lantang pada mereka bahwa jawaban itu benar!

Faktanya, di dalam perut paus sepanjang hampir sepuluh meter itu ada 5,9 kg sampah. Bayangkan saja bagaimana paus itu bisa bertahan dengan sampah sebanyak itu di perutnya. Mendengar cerita itu, semua anak terdiam.

Dengan bahasa sederhana, saya jelaskan pada mereka bahwa paus itu mengalami disorientasi navigasi sehingga ia tak mampu membedakan mana yang makanan dan mana yang bukan makanan, telebih ketika habitatnya sudah begitu tercemar oleh sampah.

“Karena itulah, adik-adik sekalian, jangan pernah lagi membuang sampah ke laut karena paus itu ada di wilayah perairan kita di Pulau Solor,” saya mengajak mereka dengan bersemangat. “Kita perlu menjaga dan melestarikan habitat dan jenisnya, karena mamalia laut ini berperan sangat penting dalam menjaga ekosistem laut, terutama meregulasi populasi mangsa.”

Untuk membuat sesi berbagi ini lebih berkesan, saya mengarahkan murid-murid saya itu, bersama teman-teman Solor Peduli, untuk berbaris sambil mengangkat kertas-kertas yang membentuk kalimat: “SELAMATKAN KAMI DARI SAMPAH DI LAUT.”

Mejelaskan profesi peneliti megafauna laut kepada siswa SD

Usai sesi bersih pantai, kami kembali ke sekolah. Waktunya untuk menjadi inspirator. Jam pertama saya dapat giliran mengisi kelas 5 dan 6.

Sebelum masuk ke ruang kelas, saya mempersiapkan segala peralatan yang saya bawa, temasuk laptop dan proyektor. Saya ingin memutar sebuah video tentang megafauna laut di Solor. Dari sini saya mulai bercerita panjang lebar tentang diri saya dan profesi yang saya geluti, yakni peneliti.

“Adik-adik ada yang tahu tentang [profesi] peneliti?” Pertanyaan saya itu hanya dijawab degan kebisuan dan keheningan. Barangkali benar dugaan saya; profesi peneliti adalah sesuatu yang baru bagi mereka. Namun justru karena itulah teman-teman Solor Peduli memilih saya sebagai pengisi materi di kelas.

Maka, begitu saya harus mengisi materi di kelas yang lebih rendah, yakni kelas 1, 2, dan 3, saya mesti memutar otak memikirkan cara untuk menjelaskan profesi saya pada anak-anak itu.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menggunakan alat peraga, seperti binokular, masker, snorkel, dan fins. Selain itu saya juga kembali memutar video tentang megafauna laut. Ternyata mereka bersemangat sekali menonton tayangan itu. Mereka semua berteriak, bersorak gembira melihat megafauna laut itu mulai meliuk-liukkan badan dalam air. Salah seorang di antara mereka bahkan berteriak, “AAA! BAGUS SEKALI!”

Selesai menonton, saya lanjut becerita bahwa megafauna laut yang baru saja mereka lihat itu semuanya ada di wilayah perairan kita di Solor, sehingga kita perlu menjaga, merawat, dan melestarikan mereka dan habitatnya, tidak, alih-alih, memusnahkan mereka. Saya pun menambahkan bahwa megafauna laut itu adalah sumber daya atau potensi yang perlu kita kembangkan untuk kehidupan yang berkelanjutan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan pariwisata.

Edhy Topan

Bekerja di sebuah NGO di Flores yang bergerak di bidang konservasi laut. Ia aktif mendampingi masyarakat pesisir.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *