Travelog

Merayapi Aliran Citarum Lama

Embun masih belum benar-benar meninggalkan daun dan rerumputan saat mobil rentalan yang kami tumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan Taman Ganesha, Bandung, tempat kami awal berkumpul. Tujuan kami hari itu adalah kawasan Rajamandala, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Di kawasan tersebut, kami hendak melakukan petualangan susur sungai di sekitar aliran Citarum lama, yang lokasinya tidak jauh dari PLTA Saguling. Dibanding dengan kawasan-kawasan lainnya yang ada dalam aliran Sungai Citarum, kawasan Citarum lama, yang berada di ketinggian sekitar 300-an meter di atas permukaan laut, kondisinya jauh relatif lebih bersih dan lebih asri. 

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam, tibalah kami di tempat yang dituju. Tak jauh dari tempat kami memarkir mobil saat itu terpampang Sanghyang Tikoro, yang merupakan gua dengan sungai bawah tanah yang berada di jajaran perbukitan aliran Sungai Citarum lama. Secara harfiah, sanghyang (bahasa Sunda) berarti dewa, sementara tikoro artinya kerongkongan. Jadi, Sanghyang Tikoro berarti Dewa Kerongkongan.  

Sanghyang Tikoro

Gua Sanghyang Tikoro di aliran Sungai Citarum lama/Djoko Subinarto.

Di kawasan Sanghyang Tikoro ini terdapat dua alur sungai. Sungai pertama mengarah ke kiri seperti sungai biasa dan bisa dilihat dengan jelas alirannya, sementara sungai kedua mengarah ke kanan, lenyap di Sanghyang Tikoro. Sejauh ini, masih banyak misteri yang belum terungkap terkait dengan kondisi detil bagian dalam Gua Sanghyang Tikoro.

Usai mengamati Sanghyang Tikoro, kami kemudian menuju Gua Sanghyang Poek yang letaknya sekitar dua kilometer dari Sanghyang Tikoro. Perjalanan menuju Sanghyang Poek ditempuh dengan cara nikreuh alias berjalan kaki, menyusuri jalan setapak di pinggir Sungai Citarum lama. Sanghyang Poek berupa gua kapur dan merupakan bekas gua bawah tanah ketika aliran Sungai Citarum belum dibendung menjadi Waduk Saguling seperti sekarang ini.

Sesuai dengan namanya yaitu Sanghyang Poek yang berarti Dewa Gelap, gua ini gelap gulita. Sebagaimana diketahui, poek dalam bahasa Sunda berarti gelap. Tanpa alat penerangan yang memadai, mustahil kita bisa melihat apa pun di dalam gua ini.

Lorong gua berkelok-kelok dengan panjang sekitar sepuluh meter. Stalagtit menghiasi sebagian dinding atas gua. Dasar gua basah, lembab serta tidak rata. Menyusuri lorong Gua Sanghyang Poek, kita perlu ekstra hati-hati. Lengah sedikit, alamat kaki ataupun kepala kita bakal terantuk batu kapur.

Keluar dari Gua Sanghyang Poek, kami langsung berada di bibir Sungai Citarum. Suara gemericik air yang mengalir di sela-sela bebatuan ke arah barat memecah kesunyian yang ada di sekitar mulut Gua Sanghyang Poek yang mungkin bagi sebagian orang terkesan angker.

Sekelompok pecinta alam menyusuri Sungai Citarum lama

Sekelompok pecinta alam menyusuri Sungai Citarum lama/Djoko Subinarto

Pewarna kain

Ihwal nama Citarum, sejumlah sumber menyebut nama tersebut terkait erat dengan sejenis tumbuhan bernama tarum (Indigofera tinctoria), yang daunnya bisa dipakai untuk bahan pewarna kain. Dari tradisi mewarnai kain menggunakan daun tarum inilah kemudian muncul nama-nama seperti Citarum, Pataruman maupun Tarumanagara.

Seusai beristirahat beberapa saat di depan mulut gua Sanghyang Poek yang menghadap Citarum, kami melanjutkan petualangan dengan menyusuri aliran Sungai Citarum. Tujuan kami adalah kawasan Leuwi Gobang dan Leuwi Malang. Selain harus berjalan dan melompat di antara batu-batu besar, kami juga sekali-kali harus nyemplung ke dalam sungai. Batu-batu besar yang ada di sepanjang aliran Citarum lama tidak jarang menyulitkan sebagian dari kami untuk bisa bergerak lebih cepat dan leluasa. 

Batu-batu besar di aliran Sungai Citarum lama

Batu-batu besar di aliran Sungai Citarum lama/Djoko Subinarto

Di antara batu-batu besar yang berserakan, kita dapat menjumpai jublegan (pothole). Jublegan terjadi oleh adanya batu kecil atau kerikil yang terjebak pada cekungan sebuah batu lain yang lebih besar di daerah aliran sungai dan menimbulkan gerusan yang akhirnya meninggalkan bekas berupa lubang menganga seperti jubleg (lesung). 

Gua Sanghyang Poek yang mengarah ke Sungai Citarum

Gua Sanghyang Poek yang mengarah ke Sungai Citarum/Djoko Subinarto.

Leuwi Gobang sendiri merupakan salah satu kawasan aliran Citarum di mana lapisan batu pasir berselang-seling dengan batu lempung dalam posisi tegak seperti pedang (gobang). Karena itulah, kawasan ini dinamai Leuwi Gobang. Kata leuwi sendiri berarti lubuk, yaitu bagian terdalam pada aliran sebuah sungai. Adapun Leuwi Malang merupakan daerah aliran Citarum dalam Patahan Rajamandala yang dipenuhi oleh lapisan-lapisan batuan yang sebarannya melintang (malang) pada aliran sungai. 

Saat menuju kawasan Leuwi Malang, kami dibuat agak ketar-ketir. Masalahnya, selain medannya semakin berat, cuaca yang semula cerah mendadak berubah mendung. Tidak lama, rintik hujan mulai turun.  Dalam kondisi medan yang bertambah berat dan hujan bertambah deras, toh perjalanan tetap dilanjutkan menuju kawasan Leuwi Malang. Lepas tengah hari, akhirnya kami sampai di Leuwi Malang. Hujan masih belum reda. Beberapa kawan yang tidak membawa perlengkapan hujan kemudian berinisiatif menggunakan daun keladi besar sebagai pengganti payung untuk melindungi diri mereka.

“Beginilah alam, tidak bisa diprediksi,” celetuk salah seorang dari kami. 

Semakin buruk

Setelah beristirahat dan bersantap siang di Leuwi Malang, rencananya perjalanan kami akan diteruskan hingga mencapai daerah Leuwi Heureut. Kawasan ini merupakan lubuk yang cukup dalam dengan genangan air yang tenang berwarna kehijauan di antara lapisan-lapisan batu pasir tebal. Aliran sungai Citarum mengalami penyempitan (heureut) di kawasan ini sehingga kemudian dijuluki sebagai Leuwi Heureut.

Sayang, mengingat cuaca semakin buruk dan medan menuju ke daerah Leuwi Heureut terbilang sangat berat, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami sepakat memutuskan untuk membatalkan perjalanan lanjutan ke kawasan ini. Dengan demikian, petualangan kami pun harus berakhir di Leuwi Malang. 

Setelah beres-beres, kami segera bergegas kembali menuju Sanghyang Poek. Meski demikian, bukan berarti perjalanan balik dari Leuwi Malang ini cukup mudah. Pasalnya, hujan yang tadinya sudah reda kembali turun menyiram bumi, yang menjadikan perjalanan pulang perlu semakin hati-hati karena kondisi medan yang dilewati kian licin. 

Tiba kembali di Sanghyang Poek, kami lagi-lagi harus beristirahat, sekadar melepaskan penat di bibir gua, sebelum kemudian bergegas menuju kawasan Indonesia Power Plant untuk akhirnya kembali ke Kota Bandung saat hari merambat malam.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Travelog

Kulineran di Banjarmasin

Travelog

Aku Mengumpat dan Bercerita di Jalan MH. Thamrin

Travelog

Perjalanan Menuju Kesembuhan

Travelog

Hai Generasi Micin, Kenali Dulu Sejarah Mie Instan di Museum Ini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *