Pilihan EditorTravelog

Secangkir Kopi Posong dan Sebat Tembakau Premium

Cuaca lagi asyik-asyiknya buat jalan. Kendaraan aku starter, saya bergegas menyusuri jalan aspal Semarang – Temanggung lewat Sumowono. Tujuan kali ini adalah Posong, kota kecil yang namanya mulai terangkat karena kopi dan tembakau premium. Soal wisatanya memang saya kesampingkan karena tujuan utama perjalanan kali ini hanya untuk menikmati secangkir kopi sambil sebat tembakau premium di sana.

Posong berada di kaki Gunung Sindoro, sebelum tiba, saya sudah membayangkan ketika sampai di sana akan disambut kabut. Dingin? Tentu saja. Tapi tak masalah buat saya. Justru ngopi dan sebat saat cuaca lagi dingin-dinginnya makin nikmat!

Kalau dipikir-pikir, saya memang lebih senang berada di tempat yang sepi, menghabiskan waktu sendiri dalam ketenangan. Pas banget dengan perjalanan kali ini. Kopi dan tembakau, lebih dari cukup kalau hanya untuk plesir.

Wisata Posong

Suasana Posong di siang hari/Nico Krisnanda

Tembakau premium Posong, semakin diceritakan, semakin bikin penasaran

Kata saudara saya yang asli penduduk Posong, saking bagusnya kualitas tembakau di sana, harganya bisa ratusan ribu per kilo. Gimana nggak tergiur, ini sih kayak kucing dikasih ikan. Mau tempatnya jauh pun saya jabanin. Tancap gas!

Ia menambahkan kalau hanya ada satu hektar lahan saya yang menghasilkan tembakau premium, itupun sudah punya pembeli langganan yakni “bos rokok terbesar di Indonesia”. Dari rekomendasinya, saya menuju seorang rumah warga yang juga petani di sekitar perkebunan tersebut. Nama lokasi dan nama petani tersebut saya samarkan saja, ya. Maaf sekali saya nggak mau berbagi ke kalian untuk satu hal ini.

Sekitar pukul 06.00 pagi perjalanan dengan motor matic warna hitam-merah yang sudah menemani saya lima tahun belakangan ini dimulai. Kala itu, saya cuman membawa bekal power bank 10.000 mAh dan uang tunai yang “cukup banyak” karena mungkin di sana tidak ada EDC untuk pembayaran non-tunai. Bisa dibilang isi dompet saya itu pas-pasan banget, sayangnya untuk urusan kopi dan tembakau—ada aja duitnya.

Belum ada setengah jalan, perut terasa keroncongan. Layaknya manusia normal, “cacing-cacing” di perut sudah mulai berdemo. Ah, nggak asyik kalau pas sebat nanti perut berdendang tubuh gemetaran. Warung soto di pertigaan pasar Sumowono tiba-tiba mengalihkan perhatian, kendaraan saya parkir, perut saya isi. Satu porsi soto ditambah dengan dua sate puyuh dan tiga mendoan sudah lebih dari cukup. Perjalanan saya lanjutkan.

Setelah dua jam perjalanan, saya tiba di lokasi. Dari saku jaket, saya keluarkan buku catatan kecil yang berisi alamat si bapak petani, sebut saja Pak Agus. Dengan bantuan GPS (gunakan penduduk setempat), dan berputar-putar selama 30 menit, barulah saya tiba di rumahnya. Gang rumah beliau sempit, cukup jauh dari jalan raya. Pantas saja saya agak kesulitan menemukannya. 

Menatap rumah Pak Agus, saya termangu sejenak. Membayangkan, rasanya kok menyenangkan ya punya rumah di desa dengan suasana khas pegunungan. Rumah dengan atap seng berlatar anak-anak kecil bermain di halaman, beberapa di antara mereka menggunakan parem (bedak dingin) untuk menutupi wajah. Di sudut yang lain, tiga orang nenek-nenek tampak mengobrol sambil mengunyah daun sirih, di seberangnya seorang lelaki paruh baya asyik dengan cangkul dan tanaman obat. Lalu, ada aroma kayu bakar yang sudah bercampur dengan sejuknya hawa gunung.

Sesampainya di sana, satu rumah yang tergolong paling apik di antara rumah lain di sekitarnya, saya bertamu dan mengucap salam. Alih-alih Pak Agus yang menyambut, ini malah seorang perempuan dengan paras ayu.

Setelah menguraikan apa yang ada di pikiran  tentang tujuan bertamu dan kenginan bertemu dengan Pak Agus, perempuan tersebut mempersilahkan saya untuk menunggu sebentar karena Bapak masih berada di kebun. Tanpa disadari, senyum saya semakin lebar karena sudah dekat waktunya untuk mencicipi tembakau Pak Agus.

Tembakau Premium Posong

Tembakau Premium Posong/Nico Krisnanda

Sekitar setengah jam berlalu, Pak Agus akhirnya datang dan memperkenalkan diri. Sedikit basa-basi sampai akhirnya beliau membuka perbincangan soal tembakau premium. Tak beda jauh dengan informasi dari saudaraku, Pak Agus ternyata pemilik dari sehektar tanah penghasil tembakau premium tersebut. Ia kemudian menyampaikan bahwa bersama dengan teman-temannya mengolah beberapa hektar yang memang terpisah dari kebun tembakau lain. 

Ada harga, ada rasa menjadi ciri khas tembakau premium Posong

Tembakau ini punya cara perawatan dan bibit yang berbeda, jadi cita rasa aftertaste yang dihasilkan pun juga berbeda dengan tembakau pada umumnya. Tak heran jika harganya pada saat itu mencapai Rp700.000 – Rp900.000 per kilogramnya untuk tembakau kering. Harga ini bisa sepuluh kali lipat mengingat harga tembakau kering biasanya hanya dikisaran Rp72.000 per kilogram.

Dari gap harga tembakau tersebut, tentu semakin bikin penasaran dengan rasanya, bukan? Untung saja, uang yang saya bawa tadi sepertinya cukup untuk menggondol satu kilogram tembakau premium ini nantinya.

Tembakau Premium Posong

Tembakau Premium Posong/Nico Krisnanda

Sebagai bahan uji coba, beliau memberikan satu linting tembakau premium kepada saya sembari menjelaskan tentang serba-serbinya. Jujur saja, tidak semua yang dikatakan beliau bisa saya tangkap karena saya terlalu fokus lintingan tadi.

Benar saja, baik cita rasa dan aftertaste-nya berbeda dari tembakau pada umumnya. Kalau YouTuber kuliner acap kali bilang rasa makanan yang “bikin nagih, enak banget, nggak tahu lagi mau ngomong apa, kayak mau mati rasanya,” kira-kira seperti itulah yang bisa saya sampaikan. Serius, nggak bercanda.

Dari perkebunan tembakau ini, kira-kira hanya ada sekitar lima ton tembakau premium basah yang dapat dipanen. Kalau dikeringkan, tentu beratnya sangat menyusut. Dari lima ton tadi, Pak Agus menyisihkan 10 kg untuk disimpan secara pribadi. Sebagian akan dijual kembali, dan beruntunglah saya bisa mendapatkan 1 kg untuk dibawa pulang.

Cukup lama kami saling bercengkrama dan tukar pikiran, apalagi hobi kami ternyata sama, gemar mengoleksi tembakau dari daerah lain di Indonesia. Tapi sayang sekali, satu tujuan saya tidak bisa ditemukan di rumah Pak Agus: Kopi Posong. Atas rekomendasinya, saya diarahkan ke penyajinya di Wisata Posong.

Kopi Posong/Nico Krisnanda

Kopi Posong/Nico Krisnanda

Kopi Posong atau kopi tembakau khas Posong

Saya kemudian berpamitan, tancap gas ke tempat selanjutnya. Tak lupa bungkusan berisi sekilo tembakau premium saya masukkan ke dalam jok motor. Kalau melihat Google Maps, perjalanan saya membutuhkan waktu sekitar setengah jam lagi. Wisata Posong, aku datang!

Setelah sampai, buru-buru saya memesan kopi Posong di salah satu warung yang ada di sana. Apa yang saya bayangkan tadi sebelum berangkat ternyata terjadi juga. Kabut turun disertai rintik hujan yang ringan. Ah, hari ini lengkap dan sempuna sekali, ya!

Sambil menunggu ibu warung menyajikan kopinya, saya buka bungkusan tembakau premium dan menyiapkan lintingan kertas rokok bermerek Narayana. 

Rokok sudah menyala dan tak lama kemudian kopi sudah tersaji di depan saya. 

Sedikit bertanya pada ibu penjual tersebut mengapa kopi mereka bisa sangat spesial. Ternyata karena perawatan dan penanamannya pun berbeda dengan tanaman kopi lainnya. Jika kalian berkunjung ke kebun kopi selain di daerah Posong, tentu sering melihat tanaman kopi yang berdekatan dan rimbun.

Kopi Posong/Nico Krisnanda

Kopi Posong/Nico Krisnanda

Di Posong ini, tanaman kopi ditanam bersama dengan tanaman tembakau yang menjadi komoditas utama di wilayah ini. Jadi ada jarak sekitar 3 sampai 5 meter antara tanaman kopi satu dengan yang lainya. Ibu tersebut mengatakan kalau rasa dari kopinya spesial, seperti ada “tembakau-tembakaunya” gitu.

Memang benar sih, menurut apa yang sudah saya pelajari, karakteristik kopi memang tak jauh dari tanaman apa saja yang ada di lokasi tumbuhnya. Misal tumbuh di antara tembakau maka kita bisa menemukan rasa tembakau di kopi tersebut. begitu juga dengan kopi liberika Kendal yang jadi favorit saya, ada aroma buah nangka dalam kopinya karena ditanam berdekatan dengan pohon nangka.

Kopi Posong/Nico Krisnanda

Oleh-oleh kopi Posong/Nico Krisnanda

Setelah perjalanan hari ini, rasanya hari-hari seperti ini yang selalu saya nantikan: santai, sebat, dan minum kopi. Sebat demi sebat, seruput demi seruput, sambil memandangi sekitar yang hijau dan berkabut.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!

Nico Krisnanda

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

ItineraryPilihan Editor

Mendaki Carstensz di Usia Remaja, Khansa Syahlaa Menemukan Pelajaran

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *