Itinerary

Mencicipi Kudapan Favorit Raja di “Kedai Ndoro Bei” Kotagede

Sekitar empat ratus tahun silam, sejarah mencatat, Kotagede didirikan sebagai Ibu Kota Kerajaan Mataram. Pendirinya adalah Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Penembahan Senopati.

Latar sejarah yang kuat itu meninggalkan sisa-sisa peradaban yang masih bisa kamu nikmati sampai sekarang.

Makam Raja-Raja Mataram masih terawat. Lorong-lorong kecil di antara bangunan-bangunan tua itu akan membawa kamu ke dalam nostalgia masa lalu. Makanan-makanan tradisional seperti kudapan yang dibuat oleh orang-orang zaman dahulu juga masih dapat kamu nikmati sampai sekarang.

Warung Ndoro Bei

Limun Ndoro Bei dengan empat varian rasa/Junno Mahesa

Cerita-cerita di balik kudapan tradisional

Kipo, roti kembang waru, legomoro, yangko, ukel dan banjar adalah deretan kudapan tradisional yang masih bisa kamu temukan di Kotagede. Selain cita rasanya yang unik, kudapan-kudapan itu juga punya cerita yang nggak kalah menarik.

Kipo disebut-sebut sebagai kudapan favorit Panembahan Senopati. Mengenai asal namanya, ada kisah yang menarik. Suatu kali, Panembahan Senopati yang penasaran menanyakan apa nama kudapan yang enak itu. Dalam bahasa Jawa, barangkali ekspresinya, “Iki opo?” atau “Ini [namanya] apa?” Kudapan yang belum ada namanya itu pun kemudian disebut kipo, singkatan dari “iki opo.”

kedai ndoro bei

Kudapan-kudapan lokal yang “delicious”/Junno Mahesa

Cerita tentang roti kembang waru lain lagi. Kudapan ini dipercaya sebagai salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dan Belanda. Buktinya, bahan baku roti kembang waru adalah gandum. Namun, roti kembang waru bukan sekadar kudapan untuk dikonsumsi. Dalam desainnya terkandung sebuah filosofi Jawa, hasta brata, yang menceritakan soal kesempurnaan seorang pemimpin—yang harus memiliki delapan sifat, seperti jumlah lingkaran yang ada pada roti itu.

Ukel dan banjar juga nggak kalah menarik. Selalu berdua, ukel dan banjar merepresentasikan pandangan hidup orang Jawa yang meyakini bahwa semua yang ada di bumi memiliki pasangan. Ukel dan banjar seperti yin dan yang, siang dan malam, pagi dan sore.

Mendengar cerita di atas, mungkin saja kamu jadi penasaran pengen nyobain kudapan-kudapan khas Jogja yang ada di Kotagede itu. Tapi, memangnya nggak susah nyari makanan-makanan yang namanya jarang didengar itu?

Kedai Ndoro Bei yang “local and delicious”

Nggak susah, kok. Kamu tinggal mampir saja ke Kedai Ndoro Bei di Kotagede. Kedai ini menawarkan menu “locallicious,” local dan delicious, yang unik.

Karena unik, nggak heran kalau Kedai Ndoro Bei sering dikunjungi sama wisatawan, baik sebelum maupun setelah menjelajahi Kotagede. Istimewanya, selain kudapan tradisional serta beragam makanan dan minuman, Kedai Ndoro Bei juga menyajikan berbagai informasi menarik seputar Kotagede, termasuk yang berhubungan dengan sejarah.

kedai ndoro bei

Indomie rebus masak tradisional yang bikin ngiler/Junno Mahesa

Bangunan utama Kedai Ndoro Bei berbentuk pendopo tanpa sekat. Dalam budaya Jawa ini bermakna bahwa sang pemilik rumah terbuka dengan para tamu yang datang. Pendoponya juga dibuat pada posisi yang lebih tinggi, yang berarti tuan rumah selalu menghormati atau meninggikan setiap tamu yang datang.

Dan jangan kaget juga kalau di pendopo nggak disediakan kursi, sebab Ndoro Bei, selaku pemilik kedai, ingin semua tamu merasa akrab dan bebas bertutur-bercerita tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau sebaliknya.

Kedai Ndoro Bei yang buka dari jam 4 sore sampai 11 malam ini nggak seberapa jauh dari Pasar Kotagede. Dari pasar itu, kamu terus saja ke barat sampai menemukan pertigaan. Kemudian, belok ke kanan (utara). Kamu akan menemukan kedai di sebelah kanan (timur) jalan. Kalau ke Jogja, jangan lupa mampir ke sana.

Kedai Ndoro Bei, Jl. Nyi Pembayun 14A, Kotagede, Yogyakarta, IG: @kedaindorobei


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Seorang pria sederhana yang kebetulan hidup di dunia kreatif. Sempat menjadi news anchor di radio lokal jogja, marketing communication di perusahaan cinderamata , maupun strategic planner di agency lokal Jogja. Penggemar kopi sejati ini menghabiskan waktunya dengan menulis, berbincang, dan belajar budaya diseluruh dunia.

Travelling menjadi bagian dari hidupnya. Karena hidup adalah perjalanan, dan dengan berjalan kita belajar. Kini Ia aktif sebagai freelance creative planner, sembari menikmati waktunya sebagai entrepreneur dan traveller.

Seorang pria sederhana yang kebetulan hidup di dunia kreatif. Sempat menjadi news anchor di radio lokal jogja, marketing communication di perusahaan cinderamata , maupun strategic planner di agency lokal Jogja. Penggemar kopi sejati ini menghabiskan waktunya dengan menulis, berbincang, dan belajar budaya diseluruh dunia.Travelling menjadi bagian dari hidupnya. Karena hidup adalah perjalanan, dan dengan berjalan kita belajar. Kini Ia aktif sebagai freelance creative planner, sembari menikmati waktunya sebagai entrepreneur dan traveller.
Artikel Terkait
Itinerary

Curug Leuwi Hejo, Destinasi Air Terjun Hijau Toska di Bogor

Itinerary

Awas Rem Blong di Gekbrong

Itinerary

Sambut 2022 dengan 7 Film Perjalanan Ini

ItineraryPilihan Editor

Indonesia Graveyard: Merawat serta Belajar dari Makam Kuno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *