ItineraryPilihan Editor

Atmosfer Tua Jakarta dalam Sketsa

Saya melampiaskan keinginan untuk menelusuri sejarah dan ruang-ruang lampau di Jakarta. Di setiap destinasi, saya mengeluarkan peralatan menggambar dan membuat sketsa kota Jakarta.

Galeri Nasional

sketsa kota jakarta

Bangunan tua Galeri Nasional yang diapit gedung baru/Andri Nur Oesman

Dari ngobrol dengan pengelola galeri dan kawan-kawan #kamisketsagalnas yang rutin bersama-sama membuat sketsa kota Jakarta, saya jadi tahu bahwa gedung ini adalah salah satu yang paling tua dalam kompleks Galeri Nasional.

Berkecamuk rasanya ketika melihat dari perspektif ini. Lihat saja bagaimana gedung-gedung pencakar langit berdiri gagah menatap rendah penghuni tua dari belakang. Seketika itu pula saya mantapkan diri untuk menorehkan tinta.

Gedung Filateli

sketsa kota jakarta

Langit-langit Museum Filateli/Andri Nur Oesman

Sketsa kota Jakarta ini saya gambar saat ikut kegiatan Indonesia’s Sketchers (IS) Jakarta dan International Watercolor Society (IWS) Jakarta di sekitar Pasar Baru.

Objek pertama yang menjadi perhatian saya adalah Gedung Kantor Pos yang baru saja dipugar dan dibuka kembali dengan nama Gedung Filateli. Meski penuh dengan elemen kekinian, aura tuanya tidak hilang. Terutama pada bagian paling ikonik dari gedung ini: bukaan besar dari kaca patri dengan pola khas gedung-gedung kolonial.

Gedung Sekolah Jurnalistik Antara

sketsa kota jakarta

Pohon raksasa di depan Gedung Antara/Andri Nur Oesman

Objek kedua yang memanggil-manggil mata ketika berjalan menyusuri Kali Ciliwung depan Pasar Baru adalah Gedung Antara.

Bangunan tua itu tidak terlalu terawat. Juga, tidak terlihat tanda-tanda akan segera direstorasi. Tapi, pohon tua yang bergoyang bersama angin itu seperti melambai menggoda mata yang ingin melihat Gedung Antara secara utuh.

Museum Sumpah Pemuda

sketsa kota jakarta

Salah satu sudut Museum Sumpah Pemuda/Andri Nur Oesman

Adalah sebuah kebahagiaan, terutama bagi diri yang mencintai kisah-kisah lampau, untuk menyaksikan bagaimana saksi-saksi bisu sejarah dirawat. Gedung Museum Sumpah Pemuda ini, misalnya. Meski masih dalam proses pemugaran, museum ini sudah sangat layak untuk dikunjungi. Koleksi dan tata-pamernya sudah lumayan menawan.

Salah satu yang paling membuat saya kagum adalah biola milik Eyang WR Supratman. Tapi, yang membuat saya jatuh cinta adalah sudut pandang pada sketsa ini. Coba saja lihat sendiri: pemuda yang dengan ekspresi sulit ditebak sedang mendengarkan radio dengan latar musik rekaman sumpah pemuda. Istimewa.

Kopi Kota Tua di Gedung Kerta Niaga

sketsa kota jakarta

Salah satu pojok bangunan di Kota Tua/Andri Nur Oesman

Gedung Kerta Niaga mungkin adalah salah satu yang paling baru direstorasi. Melihat gedung itu dalam keadaan yang lebih baik, saya tersentuh. Dulu, ketika masih sekolah, saya cukup sering mengunjungi gedung-gedung di Kawasan Kota Tua untuk mengambil data, salah satunya gedung ini.

Sebagai penikmat warung kopi, kesenangan menjadi berkali-lipat ketika saya dapat merasakan berada dalam gedung itu cukup lama sambil menikmati kopi dan membuat sketsa kota Jakarta dari sudut pandang ini.

Bakoel Koffie di Cikini

sketsa kota jakarta

Sketsa “pra-diwarnai” Bakoel Koffie Cikini/Andri Nur Oesman

Meski membuat sketsa dengan cat air adalah sebuah kenyamanan, terkadang waktu datang dan menghalangi penyelesaiannya.

Maka, sketsa kota Jakarta ini dibiarkan dalam kondisi pra-diwarnai. Hanya goresan-goresan garis dari tinta yang merekam nuansa interior gedung ini, yang sudah berdiri sejak Indonesia bahkan belum menjadi sebuah negara.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Tukang pandang dan tukang ngabisin kertas

Tukang pandang dan tukang ngabisin kertas
Artikel Terkait
Pilihan EditorTravelog

Sepenggal Cerita dari Selatan Pulau Timor—Fatubraun

NusantarasaPilihan Editor

Mencicipi Opor Sunggingan, Menu Kegemaran Sunan Kudus

Itinerary

Curug Leuwi Hejo, Destinasi Air Terjun Hijau Toska di Bogor

Pilihan EditorTravelog

Cornelis Grinwis dan Kisah Pencarian Makamnya oleh Indonesia Graveyard

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *