Travelog

Bermain Angklung di Kampoeng Dolanan Nusantara Borobudur

Pagi itu belasan mobil VW Safari telah berjajar di area parkir Taman Rekreasi Mendut. Mobil-mobil ini menawarkan jasa berkeliling ke destinasi wisata yang berada di sekitar kawasan Candi Borobudur. Keberadaan VW Safari beberapa tahun belakangan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan Candi Borobudur, karena selain mengunjungi candi, mereka juga bisa mengelilingi kawasan Borobudur dan singgah di berbagai destinasi wisata lain.

Salah satu yang mengelola jasa wisata VW Safari adalah Pak Basir. Ia mulai membuka usaha ini pada tahun 2016 dengan bermodalkan tiga mobil VW Safari. Perjalanannya tidak mudah. Bahkan dua tahun pertama sempat terseok-seok hingga ia sempat berpikir untuk menjual ketiga mobilnya. Namun, ia kemudian mengurungkan niat tersebut dan memilih terus mempromosikan jasa wisata yang saat itu belum memiliki banyak kompetitor. Kesabarannya pun berbuah manis. Bermodal promosi yang cukup gencar di sosial media, VW Safari miliknya kian terkenal di kalangan wisatawan.

vw borobudur
VW Borobudur/Rivai Hidayat

Pak Basir menawarkan beberapa rute yang bisa wisatawan pilih, rute tersebut mayoritas masih di sekitar kawasan Borobudur. Jumlah destinasi dan lamanya berkeliling, tergantung paket wisata yang wisatawan pilih. Hari itu, saya dan beberapa rekan menjajal salah satu rutenya, dan tujuan kami yakni Kampoeng Dolanan Nusantara.

Kampoeng Dolanan Nusantara terletak di Dusun Sodongan, Desa Bumiharjo, Kecamatan Borobudur. Berada di sebelah utara kawasan Candi Borobudur. Kampoeng Dolanan Nusantara pertama kali dibuka pada tahun 2013. Pak Abbet Nugroho, ialah sosok yang mendirikan dan mengelola tempat ini. Kampoeng Dolanan Nusantara berkonsep mengajak pengunjung bermain permainan tradisional dengan suasana pedesaan.

Di sini, saya melihat bermacam-macam permainan tradisional. Ada egrang, bakiak, gobak sodor, gasing, engklek, dakon, dan bekelan. Tidak hanya permainan tradisional, ada juga kelas menari, bernyanyi gending jawa, dan bermain alat musik seperti gamelan, juga angklung.

Siang itu Pak Abbet yang mengenakan baju lurik, blangkon berwarna hitam, dan kain sarung menyambut kehadiran kami. Usai bincang-bincang, beliau telah bersiap untuk memandu kami bermain angklung.

Pak Abbet memilih permainan angklung dengan nada harmonis. Jenis ini dipilih karena menghasilkan banyak nada dan sangat cocok dimainkan oleh banyak orang. Pak Abbet juga mengkombinasikan angklung dengan alat musik modern lainnya. Seperti gitar, drum, dan keyboard.

Sebelum memulai permainan, Pak Abbet memastikan semua peserta mendapatkan angklung sesuai dengan nomor atau kode angka yang tertera pada setiap angklung. Kode angka ini sesuai dengan nada yang akan dihasilkan oleh angklung tersebut. Mulai dari nada do, re, mi, fa, sol, la, si, hingga do tinggi.

Ia kemudian memberikan instruksi dengan kedua tangannya. Instruksi ini adalah tanda untuk peserta memainkan angklung sesuai dengan kode nomor yang ada di angklungnya. Instruksi inilah yang harus kami perhatikan selama bermain angklung.

Pak Abbet juga tidak lupa mengajarkan cara memegang dan memainkan angklung dengan benar. Hal ini perlu diajarkan agar angklung dapat menghasilkan nada dan suara yang sesuai. Peserta tidak langsung menyanyikan sebuah lagu, tetapi mulai dengan latihan kecil memahami instruksi yang ia berikan terlebih dulu.

Aku tidak langsung lancar dalam mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Terkadang aku lupa dengan kode nomor yang ada di angklung. Jujur saja, ini merupakan pengalaman pertamaku memainkan alat musik yang berasal dari Sunda ini.

Setelah berlatih beberapa kali dan “cukup” lancar dalam mengikuti instruksi, Pak Abbet langsung mengajak kami untuk memainkan sebuah lagu. Siang itu kami berhasil memainkan beberapa lagu, salah satunya lagu Ojo Dibandingke ciptaan Abah Lala yang dinyanyikan oleh Farrel Prayoga. Lagu ini menjadi sangat terkenal ketika penyanyi cilik dari Kabupaten Banyuwangi itu menyanyikannya di depan Presiden Joko Widodo saat acara Peringatan HUT Ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara pada 17 Agustus 2022 lalu.

Acara jadi semakin seru ketika ada beberapa peserta yang ikut bernyanyi dan menari mengikuti alunan lagu dan nada yang dihasilkan. Semua orang larut dalam keseruan itu.

Di Kampoeng Dolanan Nusantara peserta tidak hanya berkunjung, tetapi juga diajak untuk belajar dan terlibat langsung dalam permainan tradisional dan kesenian yang ada. Ini sesuai dengan apa yang dikembangkan di Kampoeng Dolanan Nusantara, yaitu wisata berbasis edukasi.

Menurut Pak Abbet, “Dalam permainan atau dolanan tradisional banyak mengajarkan budi pekerti luhur. Selain itu, banyak nilai positif yang terkandung dalam permainan tradisional. Mulai dari keterampilan, kejujuran, empati, sportivitas, gotong royong, hingga kerjasama. Hal ini seperti ini tidak didapatkan dalam bangku sekolah. Hal ini perlu ditanamkan ke generasi muda. Dengan mengikuti permainan tradisional, anak-anak akan juga memiliki ketangkasan fisik, dan tubuh yang sehat.”

Pak Abbet memberikan beberapa contoh nilai positif dalam permainan tradisional. Misalnya dalam permainan dakon yang mengajarkan para pemainnya untuk sportif. Mereka hanya boleh memberi. Tidak boleh nguntit atau mencuri. Contoh lain adalah permainan gobak sodor (go back to dor) yang membutuhkan kerjasama tim untuk mengalahkan lawan.

“Sudah seharusnya permainan tradisional perlu dilestarikan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perkembangan anak.”

jajan di kampoeng dolanan
Jajan di Kampoeng Dolanan/Rivai Hidayat

Selain bermain angklung dan bernyanyi, aneka jajanan pasar menjadi sajian yang Pak Abbet suguhkan kepada kami. Semua tersaji dalam sebuah tampah berlapis daun pisang sebagai alas. Teh dan kopi menjadi pendampingnya.

Di halaman terdapat beberapa gazebo, meja, dan kursi panjang yang bisa digunakan untuk bersantai dan menikmati suasana khas pedesaan. Berada di Kampoeng Dolanan Nusantara seperti diajak balik lagi ke masa kecil. Masa dimana kami sering menghabiskan waktu dengan permainan tradisional.

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Membedah Borobudur: Mengapa Kelebihan Pengunjung Menjadi Bumerang