Travelog

Keseruan Perayaan Sumpah Pemuda di Desa Umpungeng

“Bahkan cukup dengan mengingat kampung ini dan Rumah Indo sudah bisa menghadirkan perasaan damai dalam hati kita.” Ucapan Kak Mei, founder sekaligus relawan Sokola Kaki Langit ini menjadi salah satu yang saya amini diantara banyaknya hal-hal baik yang terjadi selama berkunjung ke Desa Umpungeng yang terletak di Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Kak Mei bercerita banyak hal di balkon Rumah Indo pagi itu, saat rekan lain sibuk mengemasi barang-barang mereka, hendak kembali ke Makassar sebelum siang hari.

Bahkan setelah beberapa hari pasca perjalanan ke Umpungeng kemarin, saya masih merasakan sisa-sisa perasaan baik dari desa yang dikelilingi deretan gunung-gunung yang memukau ini. Perjalanan ke Desa Umpungeng dimulai tanggal 28 Oktober, masih dalam rangkaian memperingati Hari Sumpah Pemuda bersama Sokola Kaki Langit, salah satu komunitas pendidikan di Kota Makassar.

Perjalanan Menuju Umpungeng

Perjalanan menuju Umpungeng kami mulai dengan bersepeda motor ke titik kumpul di Pertamina, daerah Sudiang. Saat tiba di sana, rombongan kami sudah nyaris lengkap, tinggal menunggu dua orang lagi. Saya dan Kak Dewi memutuskan menunggu rombongan yang tersisa, sementara beberapa relawan yang telah hadir memutuskan untuk berangkat lebih awal. 

Sekitar 20 menit setelahnya, dua relawan terakhir pun tiba dan kami langsung memulai perjalanan sepanjang 120 km dari Pertamina Sudiang menuju Gattareng di Kabupaten Soppeng, titik kumpul sebelum memulai pendakian ke Desa Umpungeng. Perjalanan dari Makassar ke Barru sebelum berbelok ke arah Pakkae berlangsung mulus dan menyenangkan. Kami berhenti sebentar mengganti sparepart salah satu motor sebelum melanjutkan perjalanan.

Saya mengambil beberapa foto dan mendengarkan kumpulan lagu The Smiths berulang-ulang, sampai motor kami berbelok ke daerah Pakkae dan menemui beberapa meter jalan sedang dalam pengerjaan. 

Sepanjang perjalanan dari Pakkae sampai ke gerbang perbatasan Barru–Soppeng menjadi salah satu yang paling menyenangkan, meskipun beberapa bagian jalan sedang dilakukan perbaikan besar-besaran. Rombongan kami tiba di check point sekitar pukul dua siang. Saat itu, sebagai rombongan yang tiba lebih dulu, kami memutuskan untuk mengisi tenaga sejenak, menyesap kopi dan Indomie rebus dengan tambahan kacang goreng pada kuahnya. Belum habis semangkok, rombongan lain tiba beruntun. Jadilah warung sederhana dengan bale-bale di depannya ini ramai sesak oleh orang-orang yang saling menyapa, bercerita, dan tampak tidak sabar melanjutkan perjalanan ke Desa Umpungeng. 

Perjalanan dari Makassar ke Soppeng
Perjalanan dari Makassar ke Soppeng/Nawa Jamil

Dari warung di Gattareng, rombongan melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor menuju Bulu Batu, suatu perkampungan di tengah-tengah sebelum desa tujuan kami. Dari sini, medan semakin sukar. Kami melewati tanjakan beton curam yang sesekali diselingi tikungan tajam. Seolah tidak cukup menantang, jalanan beton di awal ternyata tidak sampai di kampung. 

Kami harus melewati medan batu pengerasan dan tanah merah yang berteman tanjakan serta turunan. Jalur paling menantang selama rute Gattareng menuju Bulu Batu terletak sepanjang hutan pinus. Meskipun begitu, kami berhasil tiba di lokasi tempat memarkirkan motor, sebuah rumah panggung dengan sepasang penghuni rumah yang begitu ramah. Saat kami datang, beliau tengah memecahkan kemiri di bawah rumah. 

Tantangan sesungguhnya dalam perjalanan menuju Umpungeng adalah jalur setelah Bulu Batu. Awalnya perjalanan berjalan lancar dengan medan pendakian yang cukup landai. Lalu secara bertahap setelah turunan di jembatan kedua, medan perlahan menanjak. Beton pun berganti tanah basah, lalu setelah jembatan ketiga, saya mencapai batas pendakian, kakiku tidak dapat menaklukan medan yang menikung dan menanjak di saat bersamaan. Untung saja, setelah tiga tanjakan curam, seorang relawan yang telah tiba sejak Rabu, berbaik hati menjemput kami menuju rumah. 

Rumah Indo dan Arajang

Saya mendengar cerita perihal Rumah Indo jauh sebelum menginjakkan kaki ke sini, sejak bertahun-tahun yang lalu. Orang-orang yang menceritakan rumah ini selalu dengan banyak petualangan, kisah-kisah mistis, dan kerinduan yang baik. 

Rumah Indo berada di ketinggian. Saya menaiki beberapa anak tangga sebelum tiba di tangga depan rumah panggung khas Bugis ini. Sewaktu tiba, langit sudah gelap sempurna. Yang terlihat hanya deretan sandal-sepatu yang terkena cahaya senter gawai secara tidak sengaja. Dengan perlahan, saya menaiki tangga rumah ini. Dua batang pohon pisang dan rumah penuh kain merah menyambut kami yang baru tiba malam itu. 

Momen ini merupakan kali pertama dalam hidup, saya memasuki rumah dengan seluruh bangunan tertutup kain merah seperti Rumah Indo. Sebuah pernyataan berani juga pengingat bahwa tempat yang kami datangi ini bukanlah tempat biasa. Begitu saya memasuki rumah, beberapa relawan tengah beristirahat, beberapa lagi sibuk bertukar cerita perihal keseruan trekking tadi. Mengikuti beberapa relawan lain yang tiba beriringan, saya pun ikut meluruskan kaki di rumah itu, tetapi seorang relawan langsung menegur saya. 

“Maaf kak. Kakinya jangan menghadap ke sana ya kak. Harus ke arah sebaliknya,” tegur seorang relawan. 

Buru-buru saya pun memperbaiki posisi selonjoran, memutar badan ke arah sebaliknya dan membelakangi area kamar tempat arajang disimpan. Arajang, sebuah benda pusaka yang hanya kudengar ceritanya sejak tahun 2019. Benda ini begitu lekat dengan sejarah yang membangun kepercayaan orang-orang disekitarnya, tidak hanya di Desa Umpungeng, melainkan seluruh Kabupaten Soppeng dan beberapa daerah Bugis lainnya. 

Arajang merujuk pada benda atau sekumpulan benda pusaka yang memiliki nilai magis dan dipercaya oleh masyarakat sekitar. Biasanya, benda ini merupakan peninggalan raja atau orang-orang yang memiliki kekuatan dalam memperluas suatu kerajaan di masa lalu. Di Rumah Indo, arajang atau pusaka ini berupa segenggam rambut berwarna merah milik Arung Palakka. Konon, rambut dengan sejarah panjang yang bermula pada 1660-an ini, diberikan kepara Arung Umpungeng, pemimpin desa ini, sebagai wujud penghormatan atas bantuan yang diberikan pemimpin desa ini saat membantu Arung Palakka dan pasukannya bersembunyi dari kejaran Kerajaan Gowa dan Wajo. 

tungku
Tungku di dapur indo/Nawa Jamil

Kisah perihal arajang ini serupa antara kisah-kisah yang kudengar dari para relawan di lokasi dan cerita-cerita yang tertulis dari berbagai sumber. Tertulis dalam suatu tulisan, “Akko iye mupakalebbi Arung Umpungeng iya mupakalebbi, akko iya muparakai Arung Umpungeng iya muparakai, akko iye mucaro Arung Umpungeng iya mucaro,” yang berarti, “Jika ini yang engkau muliakan Arung Umpungeng, saya yang kau muliakan, jika ini yang engkau jaga Arung Umpungeng, saya yang kau jaga, jika ini yang engkau hormati Arung Umpungeng, maka sesungguhnya Zat Kemulianlah yang engkau hormati.” 

Sayangnya, saya tidak bisa melihat benda pusaka ini. Arajang tersimpan rapi di dalam kamar dan hanya dikeluarkan satu kali dalam setahun, pada perayaan Maccera Tana dan Mallangi Arajang yang berarti memberikan persembahan pada tanah dan pencucian benda pusaka. Peristiwa ini biasanya dilakukan pada akhir tahun yang akrab diceritakan para relawan sebagai ‘Pesta Adat Umpungeng’. 

Menurut penceritaan kakak relawan yang telah lama mengunjungi tanah ini, pesta adat menjadi momen teramai Umpungeng. Orang-orang dari berbagai latar belakang dan komunitas, utamanya anak muda Desa Umpungeng yang keluar mencari peruntungan di kota. Saat saya tanya kepastian perayaan adat tahun ini, seorang relawan kemudian menjelaskannya. “Biasanya akhir tahun, November atau Desember. Sekitaran waktu tersebut saat Indo sudah merasa waktu tersebut adalah saat yang tepat.”Indo, merupakan sosok perempuan paruh baya yang tinggal di rumah ini dan menjaga arajang. Tak lama setelah saya tiba dan berbincang sebentar bersama relawan lainnya, sosok Indo yang hanya kudengar lewat cerita tengah berjalan dari arah dapur dengan satu nampan penuh gelas keramik dan seteko teh hangat. Ia meletakkan nampan tersebut dengan senyum tipisnya, sembari berucap agar kami menikmati teh manis hangat tersebut dalam bahasa Bugis (bersambung).

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Ke Perkebunan Teh Tegalega untuk Sekadar Menikmati Sunyi

    Travelog

    Cerita dari Atas KM Dobonsolo

    Travelog

    Menjajal Joging ‘Track’ Baru Lapang Merdeka

    Travelog

    Ambon Jawa dan Rumah Hobbit di Tengah Pulau

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Kampung Untia, Sampah, dan Pemberdayaan Perempuan di Rappo