NusantarasaTravelog

Desa Sassa dan Sajian Baik dari Rumah Seorang Kawan

Desa Sassa menjadi salah satu daerah dari rangkaian tur ensiklopedia pangan olahan yang saya dan rekan tim lakukan selama kurang lebih tujuh hari. Kami memulainya dari sebuah sentra produksi gambung, menuju kue khas Luwu yang terbuat dari beras dengan isian kelapa parut dan gula merah, hingga berakhir di daerah Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Desa Sassa
Perjalanan menuju Desa Sassa/Nawa Jamil

Masamba merupakan lokasi riset terakhir kami di daerah Luwu sebelum kembali ke Kota Makassar. Sebelum ke sini, saya terlebih dahulu mengabari seorang kawan lama di Makassar, Kak Fajar—orang Limola atau To Limola, salah satu suku tertua di Masamba dengan beragam referensi budaya yang cukup kaya. Di hari keempat, kami akhirnya memacu kendaraan penuh muatan dengan kecepatan penuh menuju Masamba yang berjarak sekitar 60-an kilometer, tetapi kami tidak menuju pusat daerah Masamba, melainkan berbelok kiri beberapa meter setelah Pasar Sentral Sabbang di daerah Baebunta.

Perjalanan menanjak sekitar 10 km bermula setelah mobil kami berbelok kiri pada jalan yang cukup kecil persis di samping lapangan masyarakat di sana. Lagu-lagu kesukaan yang rilis awal 2000-an mengiringi laju mobil kami di atas jalanan yang cukup bergelombang. Di sisi kiri maupun kanan, kami jalanan-jalanan yang tampak baru dibuka menyapa, pohon-pohon sawit lebat yang tumbuh berjarak, hutan-hutan, tanah merah, dan bekas ban kendaraan-kendaraan besar pengangkut hasil sawit.

Sekitar 20 menit, kami akhirnya memasuki daerah perkampungan Sassa kemudian berhenti di samping rumah Kak Fajar. Beberapa anggota tim telah mendatangi rumah Kak Fajar sehari sebelumnya untuk memberitahukan perihal tugas ekspedisi kami, sekaligus meminta kesediaan Ibu Fajar untuk memasak beberapa penganan tradisional yang akan kami dokumentasikan.

Kami bertemu ayah dari Kak Fajar yang langsung mempersilahkan kami masuk begitu kami keluar dari mobil, sementara dari dalam rumah, ibu dan Kak Sukma—kakaknya Kak Fajar, juga muncul menyapa kemudian mempersilakan kami masuk ke rumah mereka. Di ruang tengah rumah itu, beberapa potong ubi mentega, buah sulikan, daun pandan, dan kelapa-kelapa yang masih utuh tampak ditumpuk di sudut ruangan. Kami benar-benar bersyukur akan bantuan keluarga yang ramah dan sambutannya yang hangat.

Lenye-lenye, rappa, jus sulikan, dan songgo

Di Desa Sassa, kami mengabadikan proses pembuatan lenye-lenye, rappa, jus sulikan, dan songgo. Awalnya, kami dokumentasikan proses pembuatan jus sulikan yang cukup sederhana. Menariknya, bahan baku jus yakni sulikan, hanya bisa ditemui di desa ini. Sulikan, saya bahkan tidak tahu nama lain dari tanaman ini, mirip dengan buah kecombrang, tetapi bentuknya lebih lonjong, dengan kulit buah yang lebih tipis namun keras.

Proses pembuatannya cukup mudah, hanya memisahkan daging buah dari kulitnya satu per satu, lalu menghaluskannya dengan blender kemudian menyaringnya. Terakhir, sulikan yang sudah halus kemudian kami rebus dengan air dan gula sekitar 5 menit.

Secara tampilan, jus ini memiliki warna dan konsentrasi mirip jus jambu biji, tetapi rasanya yang lebih manis dan asam, dengan aroma kecombrang membawa ke dalam pengalaman rasa yang benar-benar baru.

  • Desa Sassa
  • Desa Sassa
  • Desa Sassa

Selain pembuatan jus sulikan, kami juga membuat tiga hidangan berbahan dasar sagu seperti lenye-lenye, rappa, dan sinole. Kehadiran sagu di hampir seluruh daratan Luwu, membuat hidangan berbahan dasar sagu sangat mudah kami temukan, termasuk diversifikasinya di berbagai daerah. Di desa ini saja, kami menemukan banyak olahan sagu, yang mana tiga di antaranya berhasil kami dokumentasikan.

Sinole merupakan olahan sagu yang cukup sederhana dan sering diperuntukkan sebagai pengganti nasi. Makanan ini hanya menggunakan tiga bahan, yakni sagu yang sedikit basah, sedikit garam, dan parutan kelapa. Pembuatannya pun cukup mudah, sebab hanya perlu memanaskannya di atas api sambil terus dibenyek-benyek dan dipisah-pisahkan. Sinole akan matang begitu sagu lebih kering dan berwarna putih pucat, serta mengeluarkan aroma gurih khas kelapa.

Kami sangat beruntung sebab ibu Kak fajar dan orang tua tantenya begitu antusias membantu kami sepanjang hari. Setelah membuat sinole dan jus sulikan, kami berlanjut dengan membuat rappa dan lenye-lenye yang secara kebetulan, dibuat dari adonan sagu yang sama. Perbedaannya terletak di bentuk dan cara pembuatan, yang mana rappa kami buat seperti pepes sementara lenye-lenye menyerupai martabak manis tipis yang di tengahnya berisi gula merah.  

  • Desa Sassa
  • Desa Sassa

Setelah membuat keduanya, proses memasak adonannya pun terbagi dua, rappa kami bakar di halaman rumah sementara tante dari Kak Fajar memasak lenye-lenye di dapur rumah. Dengan tujuan penulisan ensiklopedia dan video pangan olahan yang kami lakukan, maka selama proses memasak beragam pangan olahan tersebut, kami juga harus terlatih dengan pendokumentasian, baik dalam bentuk video maupun foto.  

Setelah selesai memasak, makanan-makanan tersebut tidak langsung kami makan. Kami terlebih dahulu mendokumentasikannya menggunakan apapun alat yang tersedia saat itu, mulai dari properti sampai latar foto yang menggunakan kertas manila yang dipegang manual oleh kawan kami, saya pun tentu kebagian giliran.

Pembuatan pangan olahan, termasuk pendokumentasian, berlangsung cukup lama, sejak pagi hingga sore hari dan harus berhenti sementara selama siang untuk istirahat, salat Jumat, dan makan siang. Saya sangat terharu dengan sajian di rumah ini. Bahkan dua nampan besar tidak cukup menampung keramahan tuan rumah kami. Selain kapurung bergaya masamba, kami juga dijamu dengan aneka lauk termasuk songgo, yang tadi kami dokumentasikan proses pembuatannya.

Kami kembali dari Desa Sassa setelah Asar, sekitar pukul empat sore dengan perut kenyang dan hati senang. Perjalanan pulang kami lalui dengan bersemangat sebab selangkah lagi kami bisa merampungkan data riset. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan karaoke, berbincang-bincang, hingga tidak terasa kami melewati jembatan miring yang menandakan sebentar lagi kami memasuki daerah pinggiran Kota Palopo.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.

Menumbuhkan sayur di halaman rumah dan menulis sebagai Nawa Jamil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Selamat Pagi dari Negeri di Atas Awan To’Tombi Lolai