Pilihan EditorTravelog

Membakar Lemak di Saraga

“Masih tutup, Kak!” Demikian ujar petugas keamanan Saraga, saat saya dan beberapa kawan ramai-ramai memasuki komplek sarana olahraga di Kota Kembang itu. Ternyata sudah dua tahun Saraga tutup, dan belum diputuskan waktu bukanya meski kini aturan terkait pandemi sudah melonggar.

Saya berdecak. Sebabnya, sore itu kami terlanjur meluangkan waktu untuk olah tubuh usai bekerja. Mau pindah lokasi ke Lapangan Gasibu, tapi sungguh lelah sekali membayangkan padatnya di jantung Kota Bandung tersebut. Wajar, di sore hari, semua orang berjejal pulang. Dan karena Saraga tutup, orang-orang yang ingin tubuhnya bugar semua melabuhkan diri ke Gasibu.

Melihat wajah masam saya, petugas keamanan tersebut buru-buru menambahkan, “Datang 1–2 minggu lagi kak. Nampaknya kami sudah akan beroperasi karena lapangannya mulai dibersihkan.”

Kami hanya mengangguk sopan seraya memutar kendaraan menuju arah pulang.

Lapangan Saraga Bandung
Peregangan tubuh/Aghniya Ilma Hasan

Akhirnya, Saraga Kembali Buka!

Tak dinyana, kembalinya kami ke Saraga tak perlu waktu lama. Dalam laman media sosialnya, Saraga menyatakan akan segera buka.

Jumat sore kala itu, kami kembali ke Saraga. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp4.000, kami diberi akses masuk, dibuktikan dengan secarik karcis berisi barcode untuk dipindai di gerbang. Sedikit informasi, itu harga untuk masuk ke trek lari saja. Kalau ingin berenang, fitness, bahkan menyelam, ada harga khusus tapi tidak lebih dari Rp35.000 kok!

Jadi, mari kita masuk ke lapangan Saraga.

Izinkan saya memperkenalkan suasana sore itu. Tidak tumpah ruah seperti Gasibu (yang isinya percampuran antara orang-orang yang berolahraga atau sekadar nongkrong), tapi tetap cukup ramai. Ada yang berlari, jalan cepat, atau melakukan peregangan tubuh di sisi-sisi trek lari. 

Saya sendiri dan kawan-kawan sudah berpakaian olahraga lengkap. Tinggal pemanasan, dan tinggal memulai olahraga kami.

  • Lapangan Saraga Bandung
  • Lapangan Saraga Bandung
  • Lapangan Saraga Bandung
  • Lapangan Saraga Bandung
  • Lapangan Saraga Bandung

Trek larinya memiliki lintasan sepanjang 400 meter. Jadi kalau mengelilinginya 5 kali, maka saya sudah berlari 2 kilometer. Untuk ukuran seseorang yang jarang berolahraga, saya rasa angka ini cukup ambisius. Tapi karena berolahraga dengan teman, saya yakin bisa menjalaninya.

Saya cukup senang berolahraga di Saraga. Lapangannya terdiri dari material pasiran batu bata merah yang dihancurkan lembut, dan kemudian dipadatkan pada permukaan lapangan. Konon, lapangan jenis ini nyaman digunakan karena tidak keras pada telapak kaki. Meski dulu saya tidak cukup memperhatikan, ternyata persoalan material lapangan ini berpengaruh juga pada semangat olahraga saya.

Hal menyenangkan lainnya adalah karena ada berbagai aktivitas olahraga yang bisa dilakukan di sini selain berlari. Misalnya latihan beban tubuh. Jadi begini, di sekeliling arena, ada puluhan alat bantu bagi mereka yang ingin melakukan sit up, squat, atau sekadar latihan langkah kaki.

Memang, alat-alatnya sendiri nampak terabaikan. Bisa jadi karena sedikit tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan sekitar Saraga. Tapi kalau digunakan, saya yakin alat-alat ini bermanfaat sekali untuk kebugaran. Karena di samping alat-alat tersebut, ada panduan olahraga dan berapa lama gerakan tersebut harus dilakukan.

Lapangan Saraga Bandung
Terapi injak batu/Aghniya Ilma Hasan

Selain itu, ada satu hal yang baru saya perhatikan setelah beberapa kali ke Saraga. Ternyata di salah satu sisi arena, ada semacam ruang untuk terapi injak batu.

“Saya kira itu cuma hiasan taman,” celetuk saya pada seorang kawan. Dia terkekeh, seraya melepas sepatu untuk mencoba terapi tersebut. Wajar saja saya mengira begitu, karena tempat terapi injak batu itu berupa deretan-deretan batu alam yang mengelilingi sebuah pohon.

“Katanya, kalau kamu merasa sakit saat menginjak batu, tandanya tubuhmu tidak bugar,” tutur kawan saya. Saya hanya mengangguk. Mungkin benar memiliki manfaat tertentu, tapi untuk menilai kebugaran seseorang dari sana saja, saya masih sangsi. 

Kendati demikian, kalau kamu sedang berolahraga di Saraga, jangan lupa coba yang satu ini. Lumayan untuk melancarkan sirkulasi darah. Kita juga tidak perlu mahal-mahal pergi ke tempat refleksi atau ahli akupunktur untuk terapi.

Nah tak jauh dari sana, menurun dari arena lari, ada lapangan voli dan basket. Nampaknya memang harus menghubungi petugas setempat jika ingin menggunakan fasilitas ini. Bisa jadi ada biaya khusus juga. Tapi karena dua hal tadi adalah olahraga kelompok, mungkin biaya sewanya tidak akan terlalu berat.

Oh iya, sebagai informasi, di bagian tengah trek lari, ada lapangan bola yang konon sudah berstandar internasional. Saya tidak pernah melihat ada orang yang menggunakan lapangan tersebut, tapi barangkali Anda dan kawan-kawan memerlukan tempat sepak bola, Saraga bisa jadi pilihan.

Begitulah catatan olahraga saya di sore hari itu. Meski tidak purna berlari lima keliling, yang penting hati puas karena bisa kembali ke Saraga setelah 2 tahun lamanya. Akhirnya, kami pulang dengan badan yang lebih segar, dan lemak yang (mudah-mudahan) terbakar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Aghniya Ilma Hasan, karib dipanggil Naya. Saat ini beraktivitas menjadi Program Manager di sebuah platform pengembangan diri. Senang menulis, jalan-jalan, dan menyapamu di akun Instagram @cendekianya. 🙂

Aghniya Ilma Hasan, karib dipanggil Naya. Saat ini beraktivitas menjadi Program Manager di sebuah platform pengembangan diri. Senang menulis, jalan-jalan, dan menyapamu di akun Instagram @cendekianya. :)
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Misteri Gajah di Leuwigajah