Travelog

Belajar Sejarah Geologi Indonesia di Museum Geologi Bandung

Demi memanfaatkan akhir pekan yang santai tapi juga menambah wawasan, saya berencana pergi ke sebuah museum di Kota Bandung. Setelah melihat berbagai rekomendasi yang tersedia, Museum Geologi Bandung menjadi pilihan.

Gedung museum juga sudah mrmiliki status bangunan cagar budaya (TEMPO_Prima Mulia)
Pengunjung di Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat via TEMPO/Prima Mulia

Museum Geologi Bandung yang dulunya adalah laboratorium geologi bernama Geologische Museum dibawahi Dienst van den Mijnbouw (Departemen Pertambangan) ini menjadi satu-satunya museum geologi di Indonesia. Sampai sekarang fungsi dari bangunan ini selain menjadi museum, juga masih mempertahankan fungsi asalnya yakni sebagai pusat pengembangan dan penelitian dibawahi oleh Sekretariat Badan Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.

Setelah membayar karcis masuk seharga Rp3.000, saya dengan tidak sabar mulai masuk ke gedung yang bergaya arsitektur art deco dengan yang merupakan bangunan khas kolonial setelah Perang Dunia I. Halamannya cukup luas untuk menampung banyak kunjungan sekaligus. Suasana siang itu cukup ramai dengan lalu lalang anak-anak yang didampingi orang tuanya. Jujur saja, baru kali ini saya melihat museum yang dikelola negara bisa seramai ini pada akhir pekan. Tiket murah dan lokasi strategis mungkin cukup membantu pemasaran museum pada khalayak ramai.

Sejarah Museum Geologi Bandung

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, Museum Geologi Bandung atau Geologische Museum dibangun pada tahun 1928. Pemerintah Hindia Belanda yang memang sangat tertarik dengan kondisi geologi di Indonesia sebenarnya sudah melakukan berbagai penyelidikan dari tahun 1850 oleh Dienst van het Mijnwezen (Departemen Dinas Pertambangan) yang berlokasi di Bogor. Lambat laun dengan terkumpulnya berbagai macam benda geologi dari seluruh Hindia Belanda, maka diusulkanlah pembangunan sebuah gedung baru khusus untuk menampung benda-benda tersebut. Maka seorang arsitek berkebangsaan Belanda yakni IR.Menalda Van Schouwenburg datang untuk merancang gedung yang akan berfungsi sebagai “Balai Geologi Hindia Belanda”. 

Gedung ini diresmikan pada 6 Mei 1929, bebarengan dengan acara Kongres Ilmu Pengetahuan Pasifik yang ke-IV. Dienst van het Mijnwezen yang sudah berganti nama menjadi Dienst van den Mijnbouwi mengurusi gedung ini hingga masa pendudukan Jepang.

Masa pendudukan Jepang terhitung singkat (1942-1945), namun bergantinya kekuasaan ini menyebabkan beberapa perubahan nama, di antaranya adalah Dienst van den Mijnbouw yang berubah nama menjadi Kogyoo Zimusho, serta ikut merubah nama gedung Geologische Museum menjadi Chishitsu Chosacho. Dengan fokus Jepang pada penguatan pasukan di Asia Tenggara, maka kegiatan selanjutnya dari Chishitsu Chosacho tidak diketahui lebih lanjut karena adanya pemusnahan dokumen-dokumen milik Jepang akibat kekalahan mereka pada tahun 1945.

Kekalahan Jepang berimbas pengembalian aset-aset ke tangan pemerintah Indonesia. Pengelolaan gedung pun dilaksanakan oleh Pusat Djawatan Tambang dan Geologi yang kerap kali berpindah tempat akibat agresi yang dilancarkan pemerintah Belanda. Gedung ini direnovasi dalam kurun waktu setahun pada 1999 dan dibuka lagi pada 20 Agustus 2000 oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Pengunjung paling banyak dari Museum Geologi Bandung adalah anak-anak sekolah (TEMPO_Prima Mulia)
Pelajar mengisi liburan dengan mengunjungi Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat via TEMPO/Prima Mulia

Ruang Pameran Museum Geologi

Kedatangan saya langsung disambut oleh replika fosil mamut setinggi 3 meter. Ruang pertama yang saya masuki ini disebut ruang orientasi Museum Geologi. Ada berbagai macam informasi, peta Indonesia skala besar, dan papan layar LCD yang siap menyambut pengunjung. Replika fosil mamut yang sedari tadi saya perhatikan menjadi rebutan anak-anak untuk berfoto. Pada lantai dasar ini ada dua ruangan lainnya yang dapat dijelajahi yakni ruangan timur untuk ruang geologi Indonesia dan ruangan barat untuk ruang sejarah kehidupan. Di lantai dua terdapat ruang sumber daya geologi dan ruang manfaat dan bencana geologi. 

FYI, hanya sekitar 20% koleksi museum yang dipamerkan, sisanya disimpan secara apik pada suatu ruang penyimpanan koleksi yang hingga kini menampung 417.822 koleksi.

Memasuki ruang sejarah kehidupan, saya dibuat kagum dengan alur penceritaan bumi sebelum dimulainya kehidupan hingga kehidupan yang sudah beragam. Pelbagai fosil manusia purba yang dipamerkan dalam kotak kaca yang diterangi dengan lampu untuk memperjelas. Ada fosil Homo Erectus dari Trinil, Ngandong, Sangiran, hingga Homo Floresiensis dari Flores.

Ada juga fosil hewan-hewan purba dari kura-kura, babi rusa, kerbau, badak hingga replika fosil t-rex. Ilustrasi yang dilukis cukup detail menggambarkan kehidupan para dinosaurus. Membayangkan jika hewan tersebut masih hidup di masa sekarang, cukup membuat saya bergidik ngeri. Pada sisi lainnya, saya melihat sejarah Kota Bandung yang dulunya merupakan cekungan danau purba yang masih didapat tinggalannya berupa batuan-batuan dan fosil ikan air tawar dan ular.

Berlanjut ke ruang geologi Indonesia, seakan untuk mempertegas status ruang geologinya, terdapat globe raksasa yang menunjukkan peta dunia. Dibanding ruangan sebelumnya, ruangan ini terasa lebih temaram dengan cahaya lampu kekuningan yang berpendar. Saya melihat-lihat koleksi meteor yang pernah jatuh di Nusantara, ada di Banten, Temanggung, Pasuruan, dan lainnya. Di sini kita bisa melihat penjelasan terbentuknya pulau-pulau yang ada di Indonesia, lengkap dengan bebatuan yang didapat dari pulau-pulau tersebut.

Meskipun replika, fosil t-rex ini tetap digemari pengunjung (TEMPO_Prima Mulia)
Sejumlah pelajar mengamati replika rangka Tyrannosaurus rex (T-rex), di Museum Geologi, Bandung, Jawa Barat via TEMPO/Prima Mulia

Juga, paparan gunung-gunung api di Indonesia dilengkapi dengan penjelasan Indonesia yang terletak di ring of fire hingga dampak alam apa saja yang kita hadapi. Beberapa diperkuat dengan penjelasan digital dari layar LCD yang tersedia. Jenis bebatuan yang dipamerkan tidak hanya yang berasal dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Konon, jumlah koleksi bebatuan di sini mencapai 108.905 buah.

Yang paling menarik bagi saya adalah animasi yang menjelaskan terciptanya bumi di tata surya, bagaimana animasi planet-planet serta ledakan mampu memicu anak-anak untuk memperhatikan lebih lama.

Berlanjut ke lantai dua, masuk ke ruang sumber daya geologi. Ada beberapa artefak yang dipamerkan pada ruangan ini seperti macam-macam benda dengan bahan pembuatnya; ada keris, kapak batu, arca, kalung, hingga pernak-pernik masa modern seperti sendok, kamera, dan laptop.

Ruangan lainnya yakni ruang manfaat dan bencana geologi. Ruangan ini menjelaskan bagaimana sumber daya geologi Indonesia membawa manfaat positif dan negatif dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Semisal pemanfaatan geothermal sebagai energi terbarukan, apa saja dampak letusan gunung bagi lingkungan sekitar bahkan ada bangkai motor dari erupsi Gunung Merapi pada 2010 yang menyisakan duka mendalam karena banyaknya korban dan hilangnya sosok fenomenal Mbah Marijan.

Selesai berkeliling, saya menuju tangga dan segera berjalan menuju ruang orientasi untuk menuju halaman. Saya akan melanjutkan penjelajahan Kota Bandung menuju Gedung Sate yang hanya sepelemparan batu dari lokasi museum. Melihat gedung-gedung kuno di Bandung yang masih lestari, saya tidak bisa menyangkal bahwa tata kota era kolonial memang didesain sedemikian rupa dengan pengelompokkan tata ruang kota yang apik.

Gedung Museum Geologi Bandung yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya pada 2009 laksana memanggil ingatan akan sebuah kota-kota Indonesia era kolonial. Tidak hanya menyimpan kekayaan geologi dari berbagai pulau di Indonesia, museum ini juga menjadi saksi bisu perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Travelog

Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

Travelog

Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

NusantarasaTravelog

Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’