Travelog

Melihat Masa Lalu Ndalem Sasana Mulya

Rasa penasaran akan Ndalem Sasana Mulya membuncah karena tidak ulasan mengenai rumah ini di internet. Mendengarkan cerita secara langsung dari empunya rumah sekaligus keluarga raja menjadi pilihan terakhir. Mendapat cerita sejarah Ndalem Pangeran, sembari mematuhi adat budaya keraton, yang harus dijalankan dan dihormati bukan perkara mudah. Layaknya bertamu ke tetangga sebelah, saya tidak bisa asal masuk dan harus memahami kondisi yang ada.

Ndalem Sasana Mulya bisa dikatakan satu dari sekian rumah pangeranan yang masih utuh dan lengkap. Ndalem Sasana Mulya berada di Kampung Baluwarti, sebelah barat laut Keraton Kasunanan Surakarta atau biasa dikenal Keraton Solo. Dari jalan di depannya, ndalem sudah nampak jelas, hanya sedikit tertutup rimbunnya pohon. 

Sepintas Ndalem Sasana Mulya, setiap sore dipenuhi warga sekitar. Mereka berkumpul untuk belajar tari Jawa. Tari Jawa yang dipertunjukkan, merupakan tari kreasi dari pendahulu pemilik Ndalem Sasana Mulya.

Lalu, apa hubungan Ndalem Sasana Mulya dan Pangeran Keraton Solo? Merangkum dari informasi keluarga, begini cerita lengkap Ndalem Sasana Mulya.

Ndalem Sasana Mulya
Tampak samping Ndalem Sasana Mulya/Ibnu R

Ndalem Ngabean, Cikal Bakal Ndalem Sasana Mulya. 

Ndalem Sasana Mulya didirikan tahun 1811, awalnya bernama Ndalem Ngabean. Ndalem Ngabean menurut Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo, merupakan kediaman pribadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi. Pangeran Adipati Hangabehi, merupakan putra Sinuhun Kanjeng Sunan Pakubuwana IV dan selir Mas Ayu Ratnasari.

Pangeran Adipati Hangabehi dengan istri Raden Ayu Hangabehi, menempati ndalem Ngabean hingga tahun 1858. Lebih tepatnya hingga beliau naik tahta sebagai Sinuhun Pakubuwana VIII. Selepas Pangeran Adipati Hangabehi, ndalem Ngabean ditempati Pangeran Haryo Hangabehi. Pangeran Haryo Hangabehi merupakan putra Sunan Pakubuwana X dan Raden Ayu Mandayaretna.

Pangeran Haryo Hangabei, merupakan Sunan Pakubuwana XI. Beliau merupakan pangeran berpengaruh di Surakarta atau Solo, karena menjabat sebagai anggota Sarekat Islam Solo tahun 1912. Sarekat Islam Solo diketuai Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Tahun 1913, Pangeran Haryo Hangabehi menyerahkan jabatan sebagai anggota Sarekat Islam atas perintah sang ayah yakni Sunan Pakubuwana X.

Turun jabatan Pangeran Haryo Hangabehi, dilaporkan secara langsung oleh Residen Solo yakni Van Wijk. Bagi anggota Sarekat Islam di tahun 1912, Pangeran Haryo Hangabehi merupakan sosok Ratu Adil. Di balik itu, tentu terdapat intrik yang menyelimuti. Hanya itu cerita yang disampaikan oleh Gusti Pangeran Haryo Dipokusumo selaku keluarga Keraton Kasunanan Surakarta.

  • Ndalem Sasana Mulya
  • Ndalem Sasana Mulya
  • Ndalem Sasana Mulya
  • Ndalem Sasana Mulya
  • Ndalem Sasana Mulya

Ndalem Sasana Mulya atau Ndalem Ngabean bergaya tradisional Jawa, dengan pendhapa, pringgitan, gandok, gadri, senthong kiwo, senthong tengen, dan Ndalem Ageng yang masih berdiri utuh. Ndalem Ageng digunakan hanya waktu tertentu, karena sebagai tempat persemayaman jenazah raja sebelum dibawa ke Imogiri dan tempat dilangsungkan pernikahan putra putri raja. 

Saat ini Ndalem Ageng digunakan sebagai tempat latihan tari dan karawitan, sebagai bentuk nguri-uri kebudayaan Jawa. Bagian pendhapa ditopang dengan 8 saka guru utama dan sejumlah 36 saka pengapit, saka artinya tiang penyangga pendhapa. Tiang penyangga dibuat dengan cara ditatah dan di sambungkan satu sama lain tanpa paku. Atap berbentuk limasan, layaknya bangunan bangsawan keraton. 

Lantai bagian dalam Ndalem Ageng lebih tinggi dibanding pendhapa atau pringgitan, sebagai simbol kesakralan Ndalem Ageng. Kesakralan Ndalem Ageng didasarkan atas kesucian Ndalem Ageng, karena tidak semua orang dapat memasukinya. Lokasi Ndalem Sasana Mulyo yang masuk kawasan Baluwarti dan rumah pangeran, tentunya bukan sembarang orang yang bisa menempati atau memiliki. Tak ayal pemiliknya sekarang, masih bagian keluarga raja.

Menelisik ke atas kuncungan pendhapa terdapat sengkalan atau inskripsi berbahasa Jawa yang menunjukan tahun pendirian Ndalem Sasana Mulyo, yakni tahun 1811 ditulis berdasar penanggalan Jawa maka dibuat dalam huruf Jawa. Sengkalan tidak hanya ada di Ndalem Pangeran, tetapi juga ada di keraton dan bangunan peninggalan kolonial. Maknanya sama, hanya yang membedakan ukirannya. 

Tidak diketahui persis siapa perancang Ndalem Sasana Mulya atau Ndalem Ngabean ini, yang pasti merupakan arsitek kenamaan Keraton Kasunanan Solo. 

Ndalem Sasana MulyaNdalem Ngabean

Lodji Ndalem Sasana Mulyo, Satu-satunya Lodji Bergaya Indis di Ndalem Pangeran.

Keluar dari pendhapa, Ndalem Sasana Mulya semakin terlihat mewah dengan keberadaan lodji Ndalem Ngabean dan gazebo di depannya. Lodji Ndalem Ngabean awalnya rumah calon penerus takhta kerajaan, sebelum diangkat menjadi raja. Lodji Ndalem Ngabean bergaya Indische, merupakan perpaduan antara dua budaya Eropa dan Jawa.

Lodji tersebut dilengkapi dengan jendela dan pintu krepyak besar berhias mahkota kerajaan Belanda di ventilasinya. Ukiran kayu pada bagian fasad depan lebih banyak berupa floral, dengan penggunaan ubin motif. Ndalem Sasana Mulya dan lodji Ndalem Ngabean, berada di satu halaman. Bagian depan ndalem, terdapat gazebo bergaya sama dengan Lodji Ndalem Ngabean. 

Gazebo digunakan sebagai pertunjukan musik ketika Pangeran Haryo Hangabehi menerima tamu kenegaraan. Layaknya di Keraton Kasultanan Yogyakarta, musik yang digelar di gazebo Ndalem Ngabean tentu musik tradisional dan musik Barat. Gelaran musik disesuaikan dengan tamu yang datang, namun sekarang gazebo tidak difungsikan sebagai panggung musik. 

Beranjak keluar halaman, pandangan tertuju pada kampung di seberangnya. Kampung para abdi dalem Pangeran. Adapun abdi dalem yang tinggal di Ndalem Pangeran, hanya orang tertentu. Harapan besar bagi semua pecinta bangunan kuno di mana pun, Ndalem Sasana Mulyo ini dapat bertahan melawan waktu. Pelestarian tetap harus dilakukan tanpa harus mengubah keasliannya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.