Travelog

Naik Wara-Wiri Menuju Ruang Ekspresi

Sinar matahari mulai menerobos sela-sela dedaunan pohon mahoni dan angsana, pagi itu. Hawa dingin perlahan terusir. Empat mobil wara-wiri yang kosong melompong tanpa penumpang menepi dan berhenti di Jalan Baru, Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Keempat pengemudinya kemudian turun. Mereka kemudian berkumpul dan ngerumpi tak jauh dari mulut sebuah gang.

Dua ratusan meter dari empat mobil wara-wiri yang terpakir itu, masuk ke dalam gang, para ibu sedang antre di dua ruang kelas, menunggu nama mereka dipanggil untuk menerima penyerahan buku raport. Hari itu adalah hari penyerahan buku raport di TK dan PAUD Ananda Kusuma, Sukaraja, Sukabumi.

Keempat mobil wara-wari itu dicarter khusus oleh para ibu yang anaknya bersekolah di TK dan PAUD tersebut. Hari itu, setelah usai pembagian raport, para ibu hendak mengajak anak-anaknya sekadar jalan-jalan bergembira.

Hasil modifikasi

Mobil wara-wiri adalah mobil hasil modifikasi. Umumnya, tanpa memiliki kaca samping dan kaca belakang. Badan mobil dihias sehingga tampil mencolok menarik perhatian, terutama anak-anak.

Di wilayah Sukabumi dan Cianjur, mobil wara wiri ini lazim berseliweran di sekitar permukiman. Mayoritas pelanggannya tentu saja anak-anak. Tarifnya adalah Rp2.500,00 per anak. Namun, jika ibu-ibu ikut naik mendampingi putra-putrinya, maka untuk mereka, tarifnya adalah Rp5.000,00.

Wara Wiri
Mobil wara-wiri/Djoko Subinarto

Mobil wara-wiri ini ada yang berukuran pendek, ada juga yang berukuran panjang. Yang pendek dapat memuat 15 orang. Sedangkan yang lebih panjang dapat memuat sampai 30 orang.

Jika penumpang lumayan banyak, para sopir mobil wara-wiri ini dapat mengantongi uang hingga Rp300.000,00 sehari, dengan waktu operasi dari pagi hingga petang hari.Para pengemudi mobil wara wiri juga melayani permintaan carteran, seperti yang dilakukan orangtua murid TK dan PAUD Ananda Kusuma.

Beberapa hari sebelum hari pembagian raport tiba, salah seorang orangtua murid menghubungi salah seorang pengemudi mobil wara wiri dan memintanya menyediakan empat wara wiri untuk dicarter saat hari pembagian raport. Dan pengemudi itu menyanggupi sehingga di hari H, empat mobil wara wiri sudah terparkir rapi, siap ditunggangi anak-anak beserta ibunya.

Maka, setelah acara pembagian raport usai pagi itu, anak-anak TK dan PAUD Ananda Kusuma, didampingi para ibunya, dan beberapa orang guru, segera bergegas menuju mobil wara wiri yang menunggu di Jalan Baru, Sukaraja, Sukabumi.

Salah seorang orangtua siswa, didampingi salah seorang guru, yang tampaknya menjadi koordinator, terlihat mengatur dan memastikan agar tiap anak dan ibunya masuk ke mobil wara wiri sesuai dengan kelompok yang telah ditetapkan.

Keempat supir segera masuk ke dalam wara wiri masing-masing dan menghidupkan mesin. Begitu semua sudah berada di atas tempat duduk masing-masing di dalam wara wiri, satu per satu mobil wara wiri itu meluncur perlahan ke arah barat.

Wara Wiri
Di atas wara-wiri/Djoko Subinarto

Dalam hitungan menit, keempat wara wiri yang beriringan itu mulai mendekati ujung Jalan Baru, Sukaraja. Dari ujung Jalan Baru, Sukaraja, jika belok ke kiri, masuk ke Jalan Lingkar Luar, yang mengarah ke Terminal Sukabumi, Palabuhanratu maupun Bogor. Namun, jika belok ke kanan, kita masuk ke jalan raya utama yang mengarah ke pusat Kota Sukabumi. 

Pagi itu, begitu sampai ujung Jalan Baru, Sukaraja, wara wiri pertama segera  berbelok ke kiri, disusul oleh wara wiri kedua, ketiga dan keempat. Tujuan utama rombongan anak-anak TK dan PAUD Ananda Kusuma hari itu adalah Ruang Ekspresi, yang lokasinya di sekitar Jalan Lingkar Luar, Sukabumi. Ruang Ekspresi berada di kompleks Gedung Widaria Kencana. Selain kerap dijadikan ajang berkumpulnya para seniman dari bermacam bidang seni, untuk berkesenian, Ruang Ekspresi kerap pula dijadikan arena kumpul berbagai komunitas kaum muda di Sukabumi.

Khusus bagi anak-anak, Ruang Ekspresi menyediakan beberapa wahana permainan untuk anak-anak yakni balon luncur, trampolin, kereta api mini, dan kuda-kudaan. Oleh karena itu, begitu wara wiri yang membawa anak-anak TK dan PAUD Ananda Kusuma itu sampai ke depan Gedung Widaria Kencana, anak-anak itu segera diajak oleh ibu-ibu mereka menuju ke wahana permainan.

Kecerian pun langsung hadir di wajah bocah-bocah itu. Mereka bermain dengan riang gembira. Beberapa anak berteriak-teriak kegirangan saat mencoba balon luncur. Yang lainnya menjerit-jerit ketika bermain trampolin.

Untuk dapat menikmati wahana permainan di Ruang Ekspresi, anak-anak itu perlu membayar. Ongkosnya Rp10.000,00 per permainan.

  • Wara Wiri
  • Wara Wiri
  • Wara Wiri

Beres bermain-main di wahana permainan, waktunya tiba untuk pulang. Namun, sebelum pulang, mereka melakukan sesi foto bersama terlebih dahulu. Foto itu pasti akan menjadi kenangan berharga dan bersejarah, khususnya bagi para anak TK dan PAUD itu tatkala mereka telah menjadi insan dewasa—30 atau 40 tahun kemudian.

Dari depan halaman Gedung Widaria Kencana, satu per satu mobil wara wiri itu mulai bergerak menyusuri Jalan Lingkar Luar, Sukabumi, untuk kembali ke kawasan Sukaraja. Akan tetapi, di seperempat perjalanan, rombongan wara wiri itu menyempatkan singgah sejenak ke Rumah Makan Haji Didi. Bukan untuk makan besar, melainkan cuma untuk membeli tahu Sumedang goreng. Untuk 20 tahu Sumedang goreng dihargai Rp15.000,00. Jika ditambah leupeut (semacam lontong) sebanyak 7 buah, maka pembeli perlu menambah Rp5.000,00.

Saat melanjutkan perjalanan pulang, sebagian anggota rombongan tampak duduk santai di dalam wara wiri sembari menikmati tahu goreng hangat dan leupeut  yang baru saja mereka beli, sementara Pak Supir berkonsentrasi penuh mengendalikan wara wiri yang melaju tak terlalu kencang di Jalan Lingkar Luar, Sukabumi, yang tak begitu dipadati kendaraan siang itu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Travelog

    Dari Jogja ke Blora, Melawat ke PATABA

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Dari Sipon Menuju Dermaga Calingcing