Travelog

Taman Kartini, Taman Kota Cimahi Warisan Kolonial Belanda

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan dan trotoar sepanjang jalan raya itu. Diantara berjejernya gedung-gedung bernuansa kemiliteran yang ada di Jalan Baros Kota Cimahi, aku melihat kerumunan orang-orang ada di sana. Kenyataan yang membuatku jadi penasaran karenanya. Pantas saja seperti itu karena ada sebuah taman yang rindang dengan pepohonan layaknya sebuah taman human kota. Hari itu minggu tidak mengherankan banyak orangtua yang mengajak anak-anaknya untuk sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pagi menuju siang. Aku pun rehat di sana beristirahat setelah berjalan sejauh satu kilometer.

Aku sedikit heran karena setelah melihat keadaan di sana semakin membuat keningku mengerut. Sungguh taman yang seharusnya enak untuk dipandang mata, tapi ternyata ada bagian tidak terawat dan terkesan kumuh. Padahal Taman Kartini sudah ada sejak zaman Belanda, taman ini dulunya bernama Taman Wilhelmina. Aku tidak terlalu mempersoalkan hal itu karena kulihat wajah penuh keceriaan orang-orang di sana. Mereka tampak menikmati keseruan liburan.

Taman Kartini/Deffy Ruspiyandy

Bagi mereka dari luar kota yang masuk ke Cimahi melalui pintu tol Baros, tentu akan mudah menemukan taman Kartini karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdik Armed). Taman ini bisa dijadikan sebagai transit karena berada di lokasi strategis serta memiliki lahan parkir cukup luas. Tidak itu saja, jika ingin mengisi perut atau sekedar menikmati minuman, di sana ada banyak pilihan. Bagi orang Cimahi sendiri, taman ini merupakan destinasi wisata yang dapat dikunjungi setiap saat. Tak ada biaya untuk memasukinya.

Saat masuk taman, patung RA Kartini akan menyambut. Pemilihan nama taman yang memakai nama pahlawan emansipasi wanita asal Jepara ini lebih meng-Indonesia dibanding Ratu Wilhelmina. Tentunya, Kota Cimahi adalah saIah satu kota yang memberi taman dengan nama Kartini karena di beberapa kota di Pulau Jawa terdapat pula Taman Kartini yang lain. Meski kalah pamor dengan Alun-Alun Kota Cimahi, namun taman Kartini tetaplah menjadi kebanggaan masyarakat kota. Aku senang saja berdiam di taman itu dan beberapa saat berjalan pula mengelilinginya.

Arena Bermain Anak/Deffy Ruspiyandy

Rasa-rasanya Taman Kartini cocok dikunjungi oleh semua kalangan umur khususnya untuk anak-anak. Berada di sini akan membuat mereka betah karena sarana bermain cukup mendukung perbagai macam permainan. Fasilitas bermain tersebut diantaranya gelayutan, alat jungkit anak dan alat permainan lainnya. Selain itu, ada pula penyewaan motor khusus anak, memancing dengan miniatur ikan juga yang tak bisa dilewatkan adalah odong-odong.

Di sini pun aku melihat beberapa orang remaja bermain skateboard, teradapat arena bermainnya juga. Kelihaian mereka bermain skateboard membuat decak kagum orang-orang yang melihatnya. Menjadi hiburan juga untukku. Ada beberapa tempat swafoto juga di sini, dulu mungkin terlihat indah. Namun sekarang terbengkalai tak terawat. Aku sendiri begitu menikmati suasananya, padahal aku tak sengaja hadir di sini.

Arena Skateboard/Deffy Ruspiyandy

Dulu, di tengah-tengah taman itu terdapat kolam air berbentuk lingkaran (pond) lengkap dengan air mancurnya. Tapi sekarang taman tersebut mengalami sejumlah perubahan, kolam air mancur kini tidak ada dan kolamnya pun tidak terisi oleh air. Dulu pada pagi dan siang hari taman didominasi oleh pengunjung anak-anak dan orangtuanya. Namun ketika malam tiba terlihat lebih banyak anak muda yang berkunjung ke taman tersebut.

Aku lalu menyusuri area yang ada di sana. Kulihat beberapa orang anak sedang bermain air kotor di kolam tersebut. Mereka tertawa-tawa tetapi sungguh kurang menyenangkan karena kolamnya tak terurus, tampak terbengkalai. Belum lagi sampah dedaunan berserakan dan dibiarkan. Aku yang melihatnya hanya bisa mengeluh tanpa melakukan apapun.

Aku pun berguman, “Harusnya taman ini bisa lebih diperhatikan. Taman Kartini menjadi salah satu aset berharga dan menjadi tempat rekreasi sederhana masyarakat sekitar. Jika seandainya aku yang memiliki taman itu, maka aku akan merenovasi taman itu daripada dibiarkan terbengkalai. Aku bukan orang berlebih uang dan aku hanya orang biasa yang berharap jika kelak kembali ke taman itu aku bisa melihat taman itu semakin indah dan terpelihara.”

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.

Suka jalan-jalan dan kumpul dengan teman-teman. Penulis artikel yang juga suka nulis ide cerita di sebuah televisi swasta.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersama Motor Supra Menyusuri Depok Menuju Bakauheni

    Semasa CoronaTravelog

    Berburu Ikan Hias Pasar Muara Bandung

    Travelog

    Berkah dari Limbah

    NusantarasaTravelog

    Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *