Travelog

Menelusuri Jejak Proklamator Indonesia di Museum Bung Karno

Segala kisah tentang Bung Karno selalu menarik untuk sekadar didengar atau diceritakan ulang. Mulai dari cerita perjuangan dalam memerdekakan bangsa Indonesia hingga cerita-cerita menarik lain seperti lukisan dan tempat peristirahatan terakhirnya. Tak jauh dari makam beliau yang terletak di Jalan Ir. Soekarno nomor 152, Blitar, terdapat Museum Bung Karno yang menyimpan beberapa koleksi peninggalannya.

Di Museum Bung Karno kita bisa melihat benda-benda dengan nilai artistik tinggi; benda-benda unik; hingga sebuah lukisan yang menyiratkan pesan mistik. Untuk melihat semua itu, cukup dengan donasi seikhlasnya sebagai tiket masuk. Museum ini buka setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB.

Kabar terbaik dari sekian banyak ungkapan yang telah disampaikan sebelumnya adalah saya dan enam orang rekanyang sudah seperti keluarga sendiripada bulan September lalu berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Dan, kali ini saya akan menceritakannya.

Museum Bung Karno Blitar

Deret lukisan para pejuang Indonesia di Museum Bung Karno/Akhmad Idris

Peninggalan Bung Karno yang Unik dan Artistik

Di museum Bung Karno, saya dimanjakan dengan pelbagai koleksi yang meliputi buku-buku tulisan Bung Karno; kisah hidup Bung Karno; koleksi lukisan, koleksi audio visual; hingga patung Bung Karno.

Karya tulis Bung Karno menjadi bukti bahwa beliau tak hanya memberikan arahan, namun juga menambah wawasan. Kumpulan buku tentang perjalanan hidup beliau juga diharapkan memberi motivasi terhadap generasi masa kini bahwa perjuangan tidak dapat dilakukan hanya dengan berpangku tangan sembari berharap keajaiban datang. Jajaran lukisan, baik lukisan wajah Bung Karno maupun wajah-wajah para pahlawan yang lain seolah memberikan imajinasi pada penikmatnya tentang kelekatan antara perjuangan dan pengorbanan.

Selain koleksi-koleksi tersebut, juga terdapat koleksi barang-barang pribadi Bung Karno. Terdapat baju putih peninggalan Bung Karno yang sudah tampak lusuh karena usia, namun upaya pengawetan pihak museum membuatnya tidak sampai rusak. Selain baju, juga terdapat koper tua berwarna hitam namun tetap memiliki kesan kewibawaan. Tak ketinggalan juga koleksi uang seri Bung Karno mulai dari tahun 1964. Dari koleksi-koleksi klasik ini manusia akan menyadari bahwa hal-hal yang ketinggalan zaman tidak selalu harus ditinggalkan, sebab kelak kenangan akan menjadi hal yang paling dicari ketika semuanya perlahan mulai pergi dan tak kembali.

Museum Bung Karno Blitar

Lukisan Bung Karno/Akhmad Idris

Pada akhirnya, semua benda-benda bersejarah ini seolah-olah mampu bercerita tentang perjuangan para pahlawan lewat jepretan-jepretan foto hitam-putih di masa penjajahan; tentang kegigihan merebut kemerdekaan lewat wajah-wajah pantang menyerah dari jajaran lukisan; dan tentang kedalaman wawasan pengetahuan lewat karya-karya tulisnya yang tetap saja abadi meski mati adalah satu di antara hal yang pasti.

Lukisan Bung Karno di sudut museum

Ada sebuah pemandangan menarik di sudut ruangan museum bagian barat, tepatnya di sebuah lukisan yang berbingkai kayu dengan corak keemasan. Banyak orang yang berkerumun mengamati lukisan tersebut dengan saksama. Ada yang berpindah dari sisi kiri ke kanan dan juga sebaliknya.

Lukisan dengan gambar Bung Karno yang sedang mengangkat tangan kanannya inilah yang menurut sebagian besar orang bahwa jantungnya seolah-olah sedang berdetak. Jika diperhatikan dengan teliti, memang pada area tengah lukisan tampak bergetar (entah karena angin, perbandingan panjang & lebar, atau memang karena faktor mistis).

Makam Bung Karno Blitar

Berziarah ke makam Bung Karno/Akhmad Idris

Konon sosok jin dari Gunung Kelud merasuk ke dalam lukisan tersebut sehingga membuatnya seakan-akan berdetak. Entahlah, namun satu hal yang pasti, lukisan ini menggambarkan pesan Bung Karno tentang perjuangan kemerdekaan yang harus terus dilanjutkan.

Berziarah ke Makam Bung Karno

Setelah puas melihat-lihat koleksi di museum, saya langsung menuju kompleks pemakaman Bung Karno. Berziarah adalah cerita perjalanan keabadian, bahwa satu-satunya perjalanan yang abadi adalah mati. Di hadapan sebuah batu besar dengan nama Bung Karno, para pengunjung bisa sejenak duduk takzim untuk menengadahkan tangan; menundukkan kepala; atau sekadar memejamkan mata demi sebuah doa yang dihaturkan untuk salah satu sosok yang membuat rakyat Indonesia kini bisa bernapas lega.

Di akhir kunjungan, pengunjung akan diarahkan menuju jalan keluar dengan melewati area semacam pasar oleh-oleh yang menawarkan pelbagai souvenir yang berhubungan dengan Bung Karno dan kota Blitar. Akhir kata, berziarah dan berwisata memang jelas dua hal yang sangat berbeda, namun melakukan dua hal tersebut dalam satu waktu adalah sebuah anugerah. Terima kasih untuk Bapak Ir. Soekarno atas jerih, kasih, dan gigih untuk kebebasan bumi pertiwi. Bermula dari kebebasan itulah, saya dengan leluasa bisa merampungkan barisan kata ini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dosen dan penulis buku "Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia."

Akhmad Idris

Dosen dan penulis buku "Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia."
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Sampah KitaTravelog

Berkemah Tanpa Sampah, Apakah Jadi Susah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *