Pilihan EditorTravelog

Karena Lapar, Aku Ada

Sepiring nasi dan semangkuk Indomie Goreng Jumbo dan 2 telur ayam kampung setengah matang yang kupesan di warung indomie  langgananku di Jalan Jaksa langsung ludes tak sampai 10 menit.

Iya, aku kelaparan.

Berencana menyantap Nasi Ulam Misjaya

Sebenarnya aku berencana untuk makan di Nasi Ulam Misjaya di Petak 9.

Nasi ulam adalah hidangan khas Betawi berupa nasi campur dengan bermacam lauk. Seperti yang tertulis di lembagakebudayaanbetawi.org, kuliner ini merupakan perpaduan dari beberapa budaya:  serundeng banyak ditemui di daerah dengan budaya Melayu yang bersumber dari India, semur dan perkedel kentang adalah pengaruh dari Belanda, bihun dan dendeng manis adalah masakan yang dipengaruhi dari budaya memasak Tionghoa. Dan ada 2 varian jenis: varian kering dan varian basah.

Komposisi nasi ulam varian kering adalah nasi putih yang dicampur serundeng. Lauk-pauk sebagai pelengkapnya adalah dendeng, sambal goreng telur, tempe-tahu goreng. Adapun nasi ulam varian basah yaitu nasi putih dilengkapi dengan bihun goreng, perkedel, dendeng sapi manis, cumi kering asin, disiram dengan kuah semur tahu kentang. Dan di kedua varian tersebut diberi rajangan ketimun, daun kemangi dan kerupuk pada bagian atasnya.

Nasi Ulam Misjaya yang menjadi tujuan awalku ke Petak 9 telah berjualan dengan menggunakan gerobak di depan Klenteng Toa Se Bio, Jl. Kemenangan II dari tahun 60an.

Dan sore itu ketika aku sampai di depan klenteng, Pak Misjaya dengan centong nasinya sedang sibuk menyendokkan nasi ke piring piring yang ada di depannya. Ada 5 orang berkerumun di sekitar gerobak, tampaknya sedang menunggu pesanan. 4 meja yang disediakan Pak Misjaya di depan pintu klenteng pun sudah penuh terisi oleh para pelanggan yang sedang menikmati nasi ulam mereka.

Melihat keadaan itu aku nanar, tertunduk lesu, mengurungkan niatku dan memilih pulang saja ke kost-an.

Singgah sebentar di Wiraha Dharma Bakti/Klenteng Kim Tek Ie

Di jalan menuju halte busway Glodok dari gerobak Nasi Ulam Misjaya aku mampir sebentar di Wihara Dharma Bakti/Klenteng Kim Tek Ie yang telah ada sejak 1650. Tampaknya renovasi klenteng tertua di Jakarta yang terbakar di tahun 2015 ini akan segera dilaksanakan. Di halaman tampak bangunan baru yang akan digunakan untuk ibadah, ini menggantikan bangunan tempat ibadah sementara yang ada di bagian belakang bangunan klenteng yang terbakar.

Aku mengambil beberapa foto dan sedikit terkejut ketika melihat susunan panitia pemugaran Wihara Dharma Bakti yang ditempel di dinding pos pengamanan Wihara. Ada nama Liem Sioe Liong/Soedono Salim di bagian Dewan Kehormatan, padahal sudah meninggal di tahun 2012. Beliau adalah pendiri Grup Salim, yang mana merk dan perusahaan dengan nama depan Indo seperti: Indomilk, Indofood, Indomobil sampai Indomart ada di bawah Grup Salim. 

Liem Sioe Liong juga terkenal dekat dengan Soeharto, bahkan sebelum beliau menjadi Presiden. Di masa penggunaan nama Tionghoa harus diganti dengan nama-nama Indonesia, Soeharto yang memberikan nama Soedono padanya. Soe (Su) dalam bahasa Jawa berarti baik, Dono adalah bahasa Jawa nya dari dana yang bisa diartikan juga uang. Sementara nama belakang Salim dipilih Lim Sioe Liong sebagai nama keluarganya Nasi Ulam Misjaya

Masih di daerah Petak 9 secara tak sengaja aku menemukan “Liong” yang lainnya, Roti Liong. Telah ada dari tahun 60an dan menjadikannya salah satu merek roti tua di Jakarta bersama Tan Ek Tjoan (1921), Maison Weiner Bakery (1936), Roti Lauw (1960) dan Toko Roti Tegal di Matraman (1968). Tapi dari semua merek itu hanya Roti Liong yang masih menggunakan pikulan  dalam menjual rotinya. Aku membeli roti dengan isian coklat seharga 4.000 rupiah. Tekstur roti yang mulai jarang ditemui ini tidak terlalu lembut –mungkin karena penggunaan pelembut roti yang tidak terlalu banyak– tapi itu yang menjadi ciri khas roti roti jadul.

Sebelum ke Petak 9, aku berada di dalam bus Transjakarta jurusan Pluit – Balaikota dan memutuskan turun di halte Stasiun Kota untuk mencari makan. Hari semakin sore dan aku belum makan siang.

Menyusuri Pasar Asemka

Keluar dari halte aku menyusuri jalanan di samping Museum Mandiri menuju Pasar Asemka. Masih ada beberapa pedagang menggelar dagangannya di kiri kanan jalan walau sudah sore. Pasar Asemka adalah salah satu pasar grosir terbesar di Jakarta. Di jaman VOC setelah peristiwa Geger Pecinan 1740, keturunan Tionghoa tidak boleh tinggal di dalam benteng kota Batavia. Mereka dipusatkan di satu daerah yang disebut Pecinan dan Pasar Asemka termasuk dalam wilayah tersebut. Dulu terdapat pintu kecil tempat keluar masuk warga Pecinan ke dalam benteng kota Batavia dan sampai sekarang dijadikan nama jalan, Jalan Pintu Kecil.

Disini aku sebenarnya ingin makan Sate Kuah di Soto Tangkar H. Diding yang pernah direkomendasikan oleh Pak Bondan Winarno di salah satu program tv tentang kuliner, tapi sayang sudah tutup. Nasi Tim Pasar Pagi “Ayauw” yang melegenda karena kelezatan rasanya tutup juga. Sepertinya toko dan warung makan di sini tutup sore hari.

Aku mencoba peruntunganku kembali. Restoran dengan masakan Hakka menjadi tujuanku selanjutnya. Restoran rumahan ini telah ada dari 1925 dan mungkin ini satu satunya restoran masakan Tionghoa yang paling tua di Jakarta. Sekarang lokasinya berada di tengah tengah pemukiman warga di sekitar Jalan Perniagaan Timur. Setelah melewati beberapa belokan di gang-gang kecil aku mendapati gerbang yang telah tertutup di bagian pintu masuk Wong Fu Kie.

Aku mengumpat dalam hati dan mulai berpikir dosa apa yang telah kulakukan di masa lalu. Untunglah otakku masih bisa berpikir jernih ditengah keroncongan yang semakin menggila.

“Nasi Ulam Misjaya gak mungkin tutup sore ini,” aku berkata dalam hati. 

Jarak antara Wong Fu Kie dan Nasi Ulam Misjaya sekitar 1 kilometer lebih. Dengan sangat percaya diri aku mempercepat langkahku. Jadwal berjualan Nasi Ulam Misjaya adalah buka jam 4 sore dan tutup jam 10 malam.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Daan Andraan

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.
Artikel Terkait
Sampah KitaTravelog

Kembali ke Merbabu, Kali Ini Tanpa Sampah

ItineraryPilihan Editor

Mendaki Carstensz di Usia Remaja, Khansa Syahlaa Menemukan Pelajaran

Travelog

Kali Pertama Merasakan Berada di Dalam Perut Bumi

Travelog

Pantai Balekambang: Perjalanan yang Tak Direncanakan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *