Interval

Jago, Senjakala Seorang Bajo

Baru-baru ini film dokumenter Free Solo tentang pemanjat tebing free-solo Alex Honnold menang penghargaan Best Documentary dalam Academy Awards ke-91.

Saya sendiri baru menonton trailer-nya—itu pun sudah beberapa tahun lalu. Tapi saya bisa menebak kenapa film itu begitu menarik di mata para juri. Siapa yang takkan terkesima menyaksikan montase-montase Honnold sedang meraih poin demi poin di El Capitan, Yosemite, bergerak kalem melawan gravitasi hanya dibantu sekantong Mg, tanpa tali.

Belum sempat menonton versi lengkapnya, awal bulan kemarin seorang kawan memperkenalkan saya pada sebuah film dokumenter lain yang dirilis tahun 2015, beberapa tahun sebelum Free Solo, yang rasa-rasanya bisa “bersaing” dengan film keluaran National Geographic itu. Judulnya Jago: A Life Underwater.

Yang membuat film Jago menarik, tokoh yang diangkat adalah seorang kakek tua dari komunitas suku Bajo di Togean, Sulawesi Tengah, yang pada usia senja masih saja menembak ikan di dasar laut demi melanjutkan hidup.

“Kalau saya tak sempat lagi memburu, pasti saya meninggal,” demikian tutur sang kakek.

Kehidupan seorang Bajo di usia senja

Kakek itu bernama Rohani. Ia hidup sebatang kara di sebuah rumah panggung kayu yang fondasinya langsung menancap dasar laut lazimnya rumah tradisional suku Bajo.

Sekarang umurnya sudah lebih dari 80 tahun. Tapi ia pernah muda. Di masa jayanya Rohani paling jago dalam urusan mencari ikan sampai ke dasar laut, kedalaman puluhan meter, tanpa bantuan oksigen. Sebab itulah ia dijuluki “jago.”

Pengalaman-pengalaman Rohani masih tersimpan rapi dalam ingatannya, termasuk fragmen-fragmen dari masa kecilnya. Misalnya yang satu ini: suatu sore ketika sedang mendayung sampan yang dibuatkan oleh ayahnya, Rohani kecil iseng melihat ke bawah dengan kacamata renangnya dan mendapati seseorang sedang berjalan di dasar laut. Siapa itu? Entahlah.

Meskipun sampai sekarang ia tak tahu siapa yang kala itu menapak di dasar laut, pengalaman itu membuat Rohani bertekad untuk menjadi seorang penyelam dan penembak ikan yang jago. Bagi seorang laki-laki Bajo, kemampuan menyelam dan menembak sangat vital; itu yang jadi daya tarik mereka di mata perempuan.

Ia terus melatih kemampuan menyelam dan menembak ikan. Terus, terus, dan terus sampai akhirnya ia benar-benar menjadi seorang jago yang reputasinya menyebar sampai ke mana-mana.

Mandiri, ia merantau, lalu menikah dan punya anak.

Lalu sebuah tragedi terjadi. Anak laki-lakinya yang sedang menyelam menggunakan kompresor mengalami kecelakaan dan meninggal. Rohani sebenarnya tidak memberi izin sebab ia anggap anaknya belum siap. Tapi sang anak nekat. Ia pergi diam-diam dan pulang hanya sebagai nama. Itulah titik balik yang membuat Rohani hidup sebatang kara di masa tuanya.

Minimalis dan elegan seperti taman batu ala Jepang

Selain kisah mengharukan Rohani, yang bikin film dokumenter ini menarik adalah sinematografinya yang apik. Sudut-sudut pengambilan gambarnya benar-benar tampak terencana—entah potongan gambar yang diambil dari darat, laut, atau udara. Juga, pencahayaan dan nuansa warnanya begitu artistik.

Bukan bermaksud sarkastik: film Jago sukses membuat Togean tampak “biasa-biasa saja.” Kepulauan Togean tidak ditampilkan secara vulgar seperti dalam iklan-iklan pariwisata. Laut yang tenang dan jernih hanyalah arena, sementara lampu sorot mengarah sepenuhnya ke Jago dan ingatannya tentang masa lampau.

Film dokumenter ini mengingatkan saya pada Marlina, film fiksi “Satay Western” yang secara anggun menampilkan sabana Sumba sebagai latar alih-alih (sekadar) destinasi wisata potensial.

Emosi penonton akan dibuai oleh musik latar yang dramatis namun tak terasa berlebihan. Sesekali alunan suara belakang itu akan membuat penonton merenung, di lain kali akan bikin berdebar-debar. Anehnya, terkadang musik latar ini, bagi saya, seperti melebur ke dalam suara Rohani sampai-sampai saya tidak bisa memutuskan mana unsur yang lebih berperan dalam membangun suasana. Seperti pita merah pembungkus kado ulang tahun, musik latar yang membius adalah pelengkap yang membungkus film Jago sehingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh.

Film ini seimbang, serapi bonsai, minimalis dan elegan seperti taman batu ala Jepang. Makanya selama sekitar 48 menit mata saya tak pernah lepas dari layar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Pembaca realisme magis dan catatan perjalanan.
Related posts
Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (2)

Interval

Hostel: Identitas dan Konsumsi Budaya (1)

Interval

Mengaca pada Sri Lanka, Menilik Pariwisata Indonesia

Interval

Mojok di Diên Biên Phu

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *