Travelog

‘Camping’ Ceria di Hutan Pinus Loji Blitar

“Mbak, kayaknya baru pulang dari event camping di Hutan Pinus Loji ya? Seru, ya, kayaknya,” tanya salah satu kawan.

Bagi sebagian orang, camping menjadi hobi untuk lebih dekat dengan alam dan menepi sejenak dari segala rutinitas. Tetapi bagaimana dengan acara camping dengan tujuan belajar sambil bersenang-senang?

24 Agustus 2022, saya mengikuti camping ceria dalam rangkaian acara Selling on Village (SOV) 2022 di bumi perkemahan Hutan Pinus Loji, Desa Tulungrejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Selling on Village 2022 diselenggarakan oleh komunitas anak muda di Blitar yang bertujuan mengenalkan potensi wisata Desa Tulungrejo, edukasi tentang kopi lokal, dan pertunjukan seni.

Acara ini bekerja sama dengan Dharma Nagari, kelompok sadar wisata yang mengelola objek wisata di Desa Tulungrejo termasuk Hutan Pinus Loji. Panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini sudah direncanakan sebelum pandemi, namun karena adanya PPKM, maka harus tunda.

Seiring membaiknya situasi pasca pandemi COVID-19, mulai banyak event fun camp yang diselenggarakan di Blitar. Setelah menahan keinginan untuk berwisata di tempat umum, akhirnya saya memutuskan untuk ikut SOV 2022. Acara ini berlangsung selama dua hari.

Hutan Pinus Loji Blitar
Camping ceria SOV di Hutan Pinus Loji Blitar/Rizky Almira

Ada tiga paket yang ditawarkan oleh SOV 2022. Pertama, paket sharing seharga Rp75.000 dengan fasilitas tenda berkapasitas tiga orang bersama peserta lainnya secara acak. Kedua, paket private seharga Rp180.000 yang mendapatkan tenda dengan kapasitas dua orang. Ketiga, paket kolektif seharga Rp210.000 untuk peserta yang ingin mendapatkan tenda dengan kapasitas tiga orang. Semua paket tersebut, mendapat jatah makan sebanyak dua kali.

“Paket-paket yang mereka tawarkan tuh relatif murah, lho, dibanding dengan bawa peralatan ngecamp sendiri, apalagi acara ini ada kegiatan diskusi, hiburan musik, dan jalan-jalan pagi,” kata Agung, partner perjalanan saya.

Sekira bulan Juli, saya sempat camping di Hutan Pinus Loji bersama kawan-kawan. Sengaja memilih hari kerja untuk menghindari kepadatan pengunjung. Selain biaya masuk area wisata, kami juga dikenakan biaya mendirikan tenda untuk per kepala. Belum lagi, biaya sewa peralatan camping yang kami bawa. Jadi, saya antusias untuk ikut dan memilih paket private yang harus dipesan jauh-jauh hari sebelum acara.

Kawasan Hutan Pinus Loji berada di lereng kaki Gunung Kelud, jarak dari Kota Blitar sekitar 35 km yang bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih satu jam. Tidak tersedia angkutan umum dari kota ke Desa Tulungrejo. Saya, Agung, dan Arya—salah seorang kawan—berangkat bersama-sama dengan kendaraan pribadi.

Hari Pertama: Belajar sambil Bersenang-senang

Sesampainya di Hutan Pinus Loji, kami santai menunggu mulai acara yang dibuka sekitar jam 5 sore. Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan Pokdarwis Dharma Nagari, Pemerintah Desa Tulungrejo, dan panitia SOV 2022. Lalu, berikutnya adalah sesi diskusi bersama Komunitas Patriawastra.

“Kain yang digunakan Patriawastra masih berbentuk selebaran yang belum digunting maupun dijahit,” kata Gading, peserta dari Komunitas Patriawastra.

Ternyata Patriawastra merupakan komunitas pemuda berkain yang berbasis di Blitar. Tidak hanya menjelaskan sejarah dan ragam kain dari berbagai daerah di Indonesia, mereka turut mengajak dan mengajari peserta SOV 2022 dalam menggunakan kain untuk gaya busana sehari-hari.

Selain Komunitas Patriawastra, terdapat sesi diskusi di bidang kopi. Malam itu, SOV 2022 mengundang dua narasumber. Pertama, Taufan Perdana pengelola De Classe—artisan gelato & coffee di Blitar—yang menceritakan tentang perjalanan bisnis dan pengalamannya dalam memperoleh sertifikasi Q Arabica Grader. Kedua, diskusi tentang penilaian rasa kopi menggunakan scoresheet dan apapun tentang kopi oleh Khoirul Umam—finalis Barista Innovation Challenge 2022 & pemilik Baratimur Coffee di Malang.

Selesai sesi diskusi dengan pegiat dan pelaku di industri kopi, agenda berikutnya adalah lomba seduh kopi filter satu lawan satu. “Kami menyebutnya ‘Sabung V60’ karena terinspirasi dari gulat satu lawan satu dari sebuah kelompok bela diri yang ada di Indonesia,” terang Deni, humas SOV 2022.

Tidak hanya menambah insight baru tentang industri kopi, peserta juga mendapatkan suguhan pertunjukan musik dari musisi lokal. Hawa dingin khas dataran tinggi bukan merupakan  halangan bagi saya untuk menikmati acaranya. Api unggun menjadi salah satu fasilitas dalam acara ini. Panitia menyediakan jagung manis yang boleh dipanggang oleh siapapun. Duduk santai melingkari api unggun, sembari ngemil jagung bakar, dan menyimak pertunjukan musik. Seru kan?

Hari Kedua: Jalan-jalan ke Kebun Kopi

“Nanti ikut jalan-jalan ke kebun kopi, nggak?” tanya Arif, ketua panitia SOV 2022.

“Ikut dong! Berangkat setelah ini, ya?” tanya saya.

“Kami ngekor di belakangmu aja, ya, Rif! Belum tau lokasinya di mana nih!” tambah Agung.

Acara ditutup begitu semua peserta selesai sarapan. Tetapi sebelum pulang, panitia mengajak peserta untuk menjelajahi salah satu sudut Desa Tulungrejo. Kami was-was nyasar, ditambah dengan kendaraan kami adalah satu-satunya kendaraan roda empat yang melaju ke kebun kopi. Peserta lain mengendarai kendaraan roda dua yang lebih leluasa jalannya.

Kami tetap setia di belakang motor Arif. Ia masih melaju dengan tenang. Tetapi di tengah jalan, Arif tiba-tiba saja berhenti dan gelagatnya seperti orang bingung. Tanpa ragu ia bertanya pada warga lokal yang sedang melintas. Dari jauh, seorang lelaki paruh baya memberi isyarat untuk jalan terus ke arah yang ia tunjuk.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Selang berapa lama, Arif menghentikan laju kendaraannya untuk bertanya lagi. Saya hitung sudah tiga kali Arif bertanya jalan pada warga lokal, meskipun ia juga sudah mengandalkan Google Maps.

“Putar balik, ya. Kita salah jalan. Pura yang kita tuju bukan di Desa Krisik ini, tapi yang ada di Desa Tulungrejo,” ajak Kiki—kawan kami yang juga ikut dalam rombongan.

Menurut arahan dari panitia, sebelum menilik kebun kopi milik warga, peserta diajak mengunjungi Pura Sapto Argo Sido Langgeng, Dusun Sumbergondo, Desa Tulungrejo. Akhirnya, saya dan kawan-kawan tiba di pura setelah tersesat ke tetangga desa.

Hutan Pinus Loji Blitar
Pura Sapto Agro Sido Langgeng di Desa Tulungrejo/Rizky Almira

Pura Sapto Argo Sido Langgeng menjadi salah satu destinasi wisata religi di Desa Tulungrejo, yang berdiri sejak tahun 1963 dengan konsep menggabungkan budaya dari tiga kerajaan besar di Nusantara. Penggunaan bata merahnya terinspirasi dari Kerajaan Majapahit. Bentuk gapura terinspirasi dari Candi Penataran yang merupakan peninggalan dari kerajaan Kediri. Bagian dalam ada bangunan yang menyerupai Candi Prambanan, terinspirasi dari Kerajaan Mataram.

“Arsitektur bangunan Pura Sapto Argo Sido Langgeng sangat unik karena mengambil tiga kerajaan besar yang ada di Nusantara, sebagai bentuk penghormatan leluhur tanah Jawa yang telah menganut Hindu terlebih dahulu,” terang Bagus Cipto Mulyo, pemangku umat Hindu setempat.

Pengelola pura mewajibkan pengunjung memakai kain jarik yang telah disediakan. Syarat lainnya, pengunjung wanita tidak boleh dalam keadaan sedang menstruasi. Setelah menyimak cerita tentang Pura Sapto Argo Sido Langgeng, saya menyadari bahwa pemeluk agama Hindu di desa ini masih cukup banyak. Selama perjalanan menuju ke pura, saya juga melewati beberapa kebun kopi yang dikelola oleh warga lokal.

Salah satunya adalah kebun kopi milik Pak Tris. Begitu sampai di rumah Pak Tris, kami diajak untuk menengok kebun kopinya yang terdekat. Ia menjelaskan secara singkat mengenai upayanya dalam mengolah kopi sirsah yang ditanam. Setelah dipanen, kopi akan dijemur di bawah matahari. Proses ini dinamakan natural. Setelah biji kopi dikupas, Pak Tris menyangrai kopi dengan cara tradisional, yakni di atas tungku kayu. 

Sebelum kami pamit, Pak Tris menyeduhkan kopi tubruk hasil olahannya. “Monggo incip kopi khas kampung dulu sebelum pulang,” kata Pak Tris mempersilakan.
Senang kali ini bisa camping tidak hanya untuk menyenangkan diri sendiri tetapi juga dapat ilmu dan pengalaman baru, ditambah bisa bertemu dengan orang-orang baru. Semoga bermanfaat.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Meluangkan waktu untuk menulis di sela kesibukan mencari cuan.

Meluangkan waktu untuk menulis di sela kesibukan mencari cuan.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Membelah Kebun Teh Gambung Menuju Pangalengan