Pilihan EditorTravelog

Mengasihi Bumi dan Mencintai Langit bersama Bumi Langit Institute

“Merawat dan menjaga alam adalah tanggung jawab manusia sebagai makhluk berakal budi. Alam sudah memberi banyak, kita seharusnya bisa bersikap baik terhadap alam,” tutur Pak Iskandar sore itu. Kunjungan saya dan beberapa rekan dari komunitas lingkungan berakhir berkesan kala sang pemilik Bumi Langit Institute, Pak Iskandar Waworuntu, tengah berdiam di Yogyakarta. 

Bumi Langit Institute
Rumah Joglo berbahan kayu sebagai ciri khas area Bumi Langit/Dyah Sekar Purnama

Pak Iskandar serupa bintang bagi anak-anak muda yang masih penasaran dan mengeksplorasi ragam aksi lingkungan seperti kami. Figur Pak Iskandar selama ini hanya bisa kami lihat melalui layar laptop atau televisi, berkisah tentang kearifan alam melalui dokumenter “Semes7a”. Pengalaman tak terduga tersebut dimulai dari kunjungan ‘asyik-asyikan’ kami ke Bumi Langit Institute.

Didasari oleh penegasan rekan saya bahwa Bumi Langit adalah tempat yang berkonsep sustainable yang menyajikan makanan enak dan pengalaman dekat dengan alam, kami tak dapat menolak. Saya dan tiga rekan saya bertolak dari wilayah Ring Road Utara Yogyakarta ke daerah Imogiri, Kabupaten Bantul, dengan layanan mobil online yang disewa selama 12 jam. Saat itu hari Sabtu, namun jalanan Yogyakarta tampak lancar seakan warganya tak sedang sibuk dan wisatawan tak sedang huru-hara. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam dari Yogyakarta ke kawasan Imogiri, tempat Bumi Langit Institute berdiri di antara perbukitan hijau dan hutan pinus. 

Rindang, sederhana, dan sejuk. Itulah tiga kata yang menjadi first impression kami ketika memasuki wilayah Bumi Langit. Kami disambut oleh sebuah joglo luas yang menyajikan pemandangan Kota Yogyakarta dari kejauhan. Joglo ini berfungsi sebagai restoran sekaligus tempat para tamu pertama berhenti dan mengamati area Bumi Langit. 

Berbagai jajanan tradisional dan kue berbahan unik berjajar di meja kayu yang berdiri di sisi joglo. Di sebelah meja jajanan, tertata manis barang-barang kerajinan kayu dan non-kayu yang memiliki nilai ramah lingkungan. Konsep semi-outdoor dari Joglo ini membuat udara segar Imogiri menyelusup masuk mengimbangi terik mentari pukul dua belas hari itu. 

Bumi Langit Institute
Sajian berbahan organik nan sedap khas Bumi Langit/Dyah Sekar Purnama

Makan di restoran Bumi Langit, atau disebut Warung Bumi, merupakan pengalaman yang menyenangkan. Selain bumbu medhok dan sedap yang digunakan restoran, bahan-bahan yang digunakan juga menambah nilai unik menu Warung Bumi. Bahan-bahan yang digunakan dalam masakan merupakan bahan yang ditumbuhkan dan diambil dari wilayah kebun Bumi Langit, mulai dari beras hingga protein hewani seperti ayam. Hal tersebut membuat sajian Warung Bumi mendapat predikat organik. Saya memesan ayam goreng kecombrang dan kombucha telang. Ayam goreng yang disajikan oleh Warung Bumi memiliki rasa gurih yang pas, tambah sedap dengan sambal kecombrang yang segar dan melimpah di atasnya, ditambah nasi berwarna kecokelatan produksi Bumi Langit yang pulen dan dilahap saat masih panas.  Begitu menggugah selera! 

Kombucha produksi Bumi Langit juga patut diacungi jempol. Disajikan dengan es, hadir dengan warna ungu-biru memikat akibat tambahan bunga telang. Rasa masam akan mengejutkan lidah saat pertama meneguk kombucha ini, namun kemudian digantikan oleh rasa segar. Cocok sekali dinikmati pada siang hari yang panas. Selain itu, makanan yang disajikan oleh Warung Bumi pastinya sehat karena diproduksi secara berkelanjutan, tanpa tambahan pestisida ataupun bahan kimia lain.

Hal yang wajib dilakukan saat mengunjungi Bumi Langit adalah mengikuti Tur Kebun. Sesi Tur Kebun bertujuan memfasilitasi pengunjung untuk melihat sekeliling Bumi Langit, mulai dari kebun hingga bangunan fungsional disana. Biasanya, tur ini berdurasi 1–2 jam dan ditempuh dengan berjalan kaki. Tur Kebun Bumi Langit menghadirkan pengalaman agrowisata yang menyenangkan sekaligus terkesan ‘berbeda’. Kita dapat melihat berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan di Bumi Langit, seperti beragam jenis sayuran hingga buah-buahan kecil seperti beri hutan. Bumi Langit juga mengambil produk hewani dari ternak yang dikembangkan di sana, mulai dari ayam, bebek, hingga sapi.  

Bumi Langit Institute
Beri hutan yang ranum dan siap disantap langsung dari pohonnya/Dyah Sekar Purnama

Hal unik yang menjadi ciri khas Bumi Langit adalah konsep permakultur yang diusungnya. Permakultur adalah konsep pertanian berkelanjutan yang mementingkan ekologi, yang mana manusia harus hidup seimbang dan mengambil secukupnya dari alam. Konsep tersebut terlihat jelas di Bumi Langit. Pemandu kami menjelaskan bagaimana warga dan para relawan makan dari kebun sendiri. Olahan produk buah-buahan, seperti selai beri hutan, menjadi bukti bahwa Bumi Langit benar-benar memanfaatkan sumber dari alam sekitar. 

Sampah organik yang dihasilkan pun akan digunakan untuk kompos atau biogas. Contohnya saja, sayuran yang tidak terpakai akan dimasukkan ke kandang ayam. Sayuran tersebut akan menjadi pakan ayam ataupun dicacah menjadi potongan kecil oleh kaki ayam, sehingga memudahkan proses kompos. Bumi Langit adalah tempat yang cocok bagi para pegiat lingkungan atau orang yang tertarik dengan konsep sustainability dan ramah lingkungan.

Terdapat beberapa rumah yang terbuat dari kayu di Bumi Langit. Rumah-rumah tersebut digunakan sebagai tempat tinggal keluarga Pak Iskandar, founder Bumi Langit. Selain itu, beberapa rumah juga ditempati oleh para relawan yang belajar permakultur atau menghabiskan waktu liburan mereka untuk melatih keterampilan. Ada juga bangunan kayu lain yang berfungsi sebagai balai pertemuan dan perpustakaan, berjajar rapi diapit pepohonan dan rumput hijau. Kami juga disambut oleh senyum ramah para relawan yang sedang mondar-mandir di kebun, sedang belajar menanam atau membuat kompos. Suasana yang ramah dan ‘seperti di rumah’ melekat dengan atmosfer Bumi Langit.

Hari itu, Fortuna seakan berpihak pada kami. Setelah berkeliling dan mendapat informasi baru mengenai konsep permakultur dan usaha menjaga lingkungan, kami beristirahat di sebuah rumah. Bermain bersama anak anjing sekaligus melepas dahaga dengan air mineral yang disajikan guide kami. 

Tak disangka, rumah tersebut adalah tempat kediaman Pak Iskandar Waworuntu dan beliau muncul dari dalam rumah, menyapa kami. Mendengar tentang organisasi kami, Pak Iskandar langsung berkenan untuk menyambut dan mengajak kami mengobrol. Sungguh kesempatan langka, karena menurut pemandu kami, Pak Iskandar jarang berada di rumah maupun Yogyakarta.

Bumi Langit Institute
Bertegur sapa dengan Pak Iskandar dan Bu Darmila, pendiri Bumi Langit Institute/Dyah Sekar Purnama

Perbincangan di sore hari itu membuka benak kami tentang pentingnya harmoni antara alam dan manusia. Kami mengetahui tentang Pak Iskandar dan usahanya menjaga lingkungan melalui dokumenter “Semes7a,” yang mana konsep permakultur dan Bumi Langit Institute diulas. Sebagai pemeluk agama yang taat, Pak Iskandar menerapkan konsep-konsep agama dalam hubungan antara manusia dan alam. Salah satu pesan yang beliau titipkan adalah menjadi berakhlak pada alam, berfokus pada bagaimana kita dapat memperlakukan alam dengan bertanggung jawab. Kehidupan Pak Iskandar dan keluarganya juga membuat kami kagum. 

“Masa pensiun idaman,” ujar teman-teman saya. Pak Iskandar dan istrinya tinggal berkecukupan dengan gaya hidup sederhana dan minim limbah di Bumi Langit. Berbagai makanan telah disediakan oleh alam sekitar dan kebun mereka. Di tengah-tengah perbincangan dengan Pak Iskandar, Bu Darmila, istri beliau, datang dari kebun usai memetik timun dan kangkung untuk makan malam. Prinsip dan gaya hidup Pak Iskandar benar-benar menambah wawasan baru bagi kami.

Bumi Langit Institute dapat menjadi tempat pilihan kala berkunjung ke Yogyakarta, terutama bagimu yang tertarik dengan isu lingkungan atau menyasar tempat wisata bernuansa alam. Selain pengalaman baru, Bumi Langit Institute juga memfasilitasi pengunjungnya dengan pengetahuan baru. Bumi Langit Institute tak hanya berperan sebagai destinasi yang menarik, namun juga secuil contoh bagaimana manusia dapat hidup harmonis dengan bumi. Kunjungan ke Bumi Langit Institute mengingatkan kami kembali akan pentingnya mengasihi bumi, hijau dan jauh dari eksploitasi, serta mencintai langit, biru dan minim polusi, sebagai lambang harmoni antara manusia dan semesta.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Kembali ke Fatubraun

    Pilihan EditorTravelog

    Singgah di Rumah Tenun Kampung Sabu

    Perjalanan LestariTravelog

    Berkebun Karang bersama Nuansa Pulau

    Travelog

    Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Memulai Kebun Pertama di Mekko