Interval

14 Peaks, Mendaki 14 Puncak Gunung Tertinggi di Dunia bersama Nirmal Purja

Pernahkah kalian terpikir, bagaimana bisa meraih sesuatu yang besar dalam hidup? Banyak orang yang berani bermimpi tapi sedikit yang menjadikannya kenyataan. Apalagi mimpi-mimpi itu terasa besar, yang kadang tidak hanya orang lain yang meremehkan, bahkan diri kita sendiri. Menaklukan puncak-puncak dunia sudah menjadi catatan rekor dan kepuasan manusia. Banyak pendaki yang berangan-angan untuk bisa mendaki puncak-puncak tertinggi di dunia, salah satunya adalah Nirmal Purja.

Film dokumenter dari Netflix yang berjudul 14 Peaks mengantarkan kisah Nirmal Purja yang berkeinginan mendaki 14 puncak gunung dengan ketinggian lebih dari 8000 mdpl yang ada di bumi dengan waktu yang singkat.

Cerita dimulai dengan potongan-potongan video zaman dahulu yang menceritakan perjuangan manusia menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi. Puncak yang tinggi selalu mengundang resiko untuk manusia; baik dari sisi fisik, psikologis, alamiah yang bisa mengantarkan seseorang kepada kematian begitu cepat. Salah satu orang pertama yang berhasil mendaki ke 14 puncak tertinggi itu adalah Reinhold Messner dalam kurun waktu 16 tahun. Cuplikan wawancara Reinhold mengisahkan apa saja tantangan untuk memenuhi hasratnya dalam menaklukkan 14 puncak tersebut.

Nims Purja mulai memaparkan rencananya mendaki 14 puncak gunung yang terbagi dalam 3 fase dalam kurun waktu 7 bulan dan menamainya dengan Project Possible. Nims mulai mengumpulkan timnya yang beranggotakan Mingma, Galjen, Lakpa Dendi, dan Gesman. Nims harus meninggalkan istrinya demi bisa memecahkan rekor dunia, dan mulai berangkat ke Nepal dari Inggris. Cuplikan-cuplikan perpisahan dengan istrinya dan menemui teman-temannya beserta komentar-komentar dari pendaki lainnya turut ditampilkan sebagai pengantar.

Dalam pendakian gunung, orang Nepal selalu tersingkirkan dari percaturan pendaki dunia. Rata-rata yang diperhitungkan adalah pendaki dari negara-negara barat, padahal orang-orang Nepal lah yang juga berjasa membantu para pendaki dari barat untuk mencapai puncak, meski nama-namanya jarang terdengar. 

14 Peaks nimsdai
14 Peaks via nimsdai.com

“Pendaki Nepal punya sejarah panjang pendakian gunung, tetapi untuk menjadi nomor satu di kancah internasional, kami belum bisa mencapai level itu,” ucap Mingma.

Nims kecil  hidup sederhana di Kota Chitwan, Nepal. Didikan sang ibu yang keras berhasil mengantarkan Nims dan dua orang saudaranya dalam kesuksesan masing-masing. Ayahnya adalah mantan tentara Gurkha yang terkenal sebagai prajurit “super” yang kemudian menjadi bagian dari tentara Inggris. Begitu pula Nims, yang sempat menjadi kesatuan tentara Gurkha mengikuti jejak ayahnya. Nims terbiasa menerima tantangan yang diberikan, bertekad menjadi yang terbaik. 

“Ibu dan ayahku banyak berkorban untuk kami,” terang Nims. “Aku ingin mendaki untuk tunjukkan kemampuanku adalah berkat ibu,” tambahnya.

Persiapan Nims untuk memulai proyek ini tidak main-main. Sebagai mantan tentara Gurkha, fisiknya memang sudah teruji melewati berbagai medan berbahaya. Gunung adalah gunung, Nims mempersiapkan pendakiannya selama 6 bulan, berlari sejauh 20 km dengan beban bawaan 34 kg kemudian dilanjutkan dengan gym sampai pukul 11 malam. 

Annapurna adalah daftar pertama dari ke 14 gunung tersebut dengan ketinggian 8.901 mdpl. Tim ekspedisi sempat merasa kesulitan menaklukkan Annapurna, tapi semangat tim ini tidak pernah berubah. Annapurna terkenal dengan longsoran saljunya yang hampir setiap saat, meskipun cuaca cerah. Ada kejadian menarik saat mereka menuruni Annapurna. Seorang kru pendaki lain hilang di ketinggian. Kru Project Possible memutuskan untuk menyelamatkannya.

Saat menuju Dhaulagiri, yang ternyata tidak begitu ramah menyambut kedatangan mereka,  badai serta kabut turut serta menemani pendakian mereka. Pendakian ke-3 yaitu Kanchenjunga juga menantang mereka untuk mendaki dalam satu hari karena cuaca buruk dan kondisi pengar sehabis berpesta merayakan kesuksesan pendakian sebelumnya. Meskipun pendakian menggunakan oksigen, Nims memaparkan bahwa ada kelemahan fatal ketika menggunakan oksigen; begitu oksigen habis, tubuh tidak terbiasa dengan lingkungan minim oksigen. Lagi-lagi mereka menemukan seorang pendaki yang sekarat dan kehabisan oksigen, meskipun sudah berusaha menyelamatkannya, naas nasibnya tidak tertolong.

Torquil Jones, sang sutradara film ini saat diwawancarai oleh The Moveable Fest mengungkapkan saat pertemuan dengan dirinya dengan Nims terjadi begitu cepat. Dirinya menyetujui untuk membuat film ini. “Tantangannya adalah bagaimana menyelaraskan cerita 14 puncak dengan kehidupan Nims dan apa yang memotivasinya untuk memulai proyek ini,” ungkapnya.

Torquil Jones memang sudah sangat lihai dalam menyutradarai dokumenter-dokumenter, tengok saja hasil karyanya yang lain seperti Bryan Robson: More Than a Manager, Arsene Wenger: Invincible, Finding Jack Charlton. Secara personal, saya memberikan kredit tersendiri untuk mengalirnya adegan per adegan yang menampilkan Nims secara personal maupun Nims secara tim. Adegan- adegan masa lalu Nims tidak ditampilkan secara utuh dalam satu waktu, tetapi untuk melihat siapa Nims sebenarnya, kita harus nonton filmnya sampai habis.

Film ini mendapat rating yang tinggi dari situs Rotten Tomatoes mencapai 97% untuk skor audiens. Sedangkan IMDB memberikan rating 8,4/10 dari 3000 lebih vote. Film dokumenter ini mengajarkan kerja sama tim yang mana mereka tidak hanya bertekad untuk menaklukan 14 puncak tertinggi dengan waktu yang singkat, juga kebanggaan akan Nepal dan masyarakatnya yang sudah jauh mendaki gunung bahkan sebelum kegiatan ini populer. Nims ingin menyuarakan bahwa tidak hanya pendaki dari barat yang bisa masuk dalam catatan-catatan sejarah.14 Peaks bisa jadi pengisi yang bagus untuk akhir pekan para pendaki yang mungkin belum kesampaian menikmati puncak-puncak tertinggi di dunia tanpa harus mendaki sesungguhnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
Interval

Meneropong Tren Pariwisata 2023

IntervalPilihan Editor

Resensi 'Interval: Esai-Esai Kritis Tentang Perjalanan dan Pariwisata'

IntervalPilihan Editor

Dark Tourism: Apa, Mengapa, dan Bagaimana

Interval

Resep Dapur ala Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Q&A: Pendakian Perdana Admin Jelajah Pendaki Indonesia