Travelog

Perjalanan ke Gunung Butak

Kedua kalinya saya mendaki, kali ini saya bersama teman-teman mendaki ke Gunung Butak yang terletak di antara Kabupaten Malang dan Blitar. Sebelumnya saya tidak ada rencana untuk trekking, karena sudah mau pulang ke kampung halaman. Tapi kapan lagi saya akan melakukan trekking jika tidak mengiyakan ajakan ini. Hampir saya menolak, tapi lebih banyak niat untuk mengiyakannya, kemudian saya melakukan negosiasi dengan orang tua. Barulah saya bergegas untuk ikut.

Rombongan kami berjumlah tujuh orang, tiga perempuan dan empat laki-laki. Kami berangkat dari Kota Malang dengan titik kumpul di daerah Tlogomas, rencana untuk kumpul ialah jam 06.30. Tapi seperti biasalah jam kami, adalah jam karet. Terdapat beberapa hal sehingga kami tidak tepat waktu, sehingga kami semua baru sampai di titik kumpul sekitar jam 08.30. Kemudian kami melakukan perjalanan untuk ke basecamp, dan tiba pukul 09.30. Sesampainya kami sampai di basecamp, kami melakukan pendaftaran dan packing ulang, karena ada beberapa barang yang harus di tata kembali. Tiket masuk untuk satu orang seingat saya adalah Rp15.000.

Pendakian dimulai kurang lebih pukul 10.00. Sebelum perjalanan mendaki kami melakukan doa bersama. Sebelumnya, tidak ada satupun dari kami yang pernah menuju Puncak Butak, sehingga kami masih buta tentang trek untuk menuju puncak dan kami mengandalkan peta yang sudah kami foto di basecamp.

Peta Gunung Butak
Peta Gunung Butak/Cindar Bumi

Ketinggian Gunung Butak 2.868 Mdpl, medan pertama yang kami lewati merupakan batuan kecil-kecil dan banyak pohon bambu, pisang dan sedikit tanaman pertanian, mungkin kurang lebih sekitar tiga puluh menit perjalanan kami nyasar. Ya, ini kesalahan kami memilih jalur kanan, yang harusnya ke kiri. Kami baru tahu kalau jalan yang kami lewati salah karena bertemu dengan seorang bapak-bapak sedang mengendarai motor dan membawa hasil ngarit rumput.

Beliau mengatakan bahwa “Mas-Mbak sampean nyasar kalau lewat sini, karena kalau lewat jalan ini, nanti tembusannya wisata Coban Rondo,” ketika kami tahu, bahwa kami salah jalan ya kami hanya tertawa dan mungkin semua ngebatin “Kok bisa sih, gimana ini yang baca peta?” Tapi tidak apa, rasanya juga sama semua mulai lelah, letih dan lesu. Tertawa lagi dan lagi sembari jalan putar balik, lanjut menelusuri jalan kesalahan untuk menuju jalan yang benar. Tidak ada yang bisa disalahkan di sini, ini konsekuensi pilihan kami.

Lanjut perjalanan saat itu matahari sedang terik-teriknya. Kami tetap harus menjaga semangat untuk sampai di puncaknya nanti, begitu juga turunnya. Menuju Butak terdapat empat pos, untuk menuju pos pertama estimasi waktu yang diperlukan adalah satu jam, namun kami menempuh dengan waktu dua jam, waktu terpotong karena sempat nyasar.

Perjalanan untuk menuju pos satu, semakin terik semakin terasa pula jauhnya, entah kenapa kami tidak sampai-sampai. Padahal kami terus berjalan, meskipun sering istirahatnya. Jargon atau motivasi kami untuk menuju pos satu adalah “semangat di depan ada es teh”.

Sesampainya kami di pos satu, disana kami melakukan makan siang dengan nasi pecel yang sudah dibawakan oleh salah satu anggota kami, setelah makan ada yang menunaikan ibadah dan menyeduh minuman saset rasa jeruk yang airnya berasal langsung dari sumber mata air. Suasana di pos satu, waktu itu tidak ramai oleh pendaki, hanya terdapat dua kelompok pendaki, mungkin kurang lebih satu kelompok berisi empat sampai lima personil, mereka juga akan melakukan perjalanan menuju Puncak Butak.

Di pos satu terdapat renovasi rumah-rumahan yang mungkin akan dijadikan tempat untuk persinggahan bagi para pendaki untuk melakukan istirahat. Saat kami istirahat di sana terlihat beberapa monyet yang sedang memperhatikan para pendaki, beberapa diantaranya duduk-duduk di atas pohon dan beberapa di pelataran pos satu.

Saat di pos satu kami diberitahu oleh salah satu penjaga warung bahwa jangan memberi makan monyet-monyet di sini, jika mau makan usahakan tidak ada monyet yang mengetahui, supaya makanan tidak direbut. Tujuan dari tidak diperbolehkannya memberi makan monyet adalah dikhawatirkan nantinya mereka akan mengambil atau menjadi terbiasa meminta makanan para pendaki. Di pos satu ini kami akhirnya menitipkan beberapa botol minuman, karena bekal air minum yang kita bawa terlalu banyak.

Gunung Panderman yang terlihat saat kami perjalanan
Gunung Panderman yang terlihat saat kami perjalanan/Cindar Bumi

Lanjut perjalanan menuju pos dua, belum ada lima belas menit kami berjalan. Terdapat dua teman saya yang kakinya kram, sehingga kami sering berhenti. Kram kaki mereka bisa jadi disebabkan oleh kebanyakan minum es, atau mungkin beban yang dibawa terlalu berat. Saat sampai di pos dua kami disini dapat melihat pemandangan Gunung Panderman.

Perjalanan menyusuri untuk sampai pos tiga merupakan perjalanan yang amat panjang, benar-benar panjang. Kami harus melalui Torong Dowo atau Hutan Lumut. Cahaya yang masuk di hutan lumut tidak begitu banyak, sehingga cahaya sedikit redup, redupnya cahaya ini semakin membuat hutan terlihat hijau namun gelap. Kanan-kiri banyak pepohonan dan bebatuan yang diselimuti oleh lumut, karena cahaya hanya sedikit yang masuk, rasa dingin sudah mulai terasa. 

Hari mulai gelap, sekitar pukul 17.30, kami masih belum sampai puncak atau sabana tempat yang merupakan destinasi untuk membangun tenda, estimasi yang kita gunakan sangat tidak tepat, alias meleset dari rencana. Semakin gelap, semakin lelah terasa, baru jalan dua menit, kami istirahat bisa menghabiskan lima sampai sepuluh menit, dan menurut saya medan semakin tinggi.

Kabut juga sudah mulai berdatangan, matahari mulai terbenam dan kami berjalan menggunakan senter dan flash ponsel masing-masing. Dalam benak saya yang benar-benar lelah “Saya bakal sampai puncak enggak ya?”

Lanjut berjalan, hingga kami memutuskan untuk membangun dua tenda di pos tiga, di sana yang laki-laki mulai melakukan pekerjaan domestic yaitu memasak makanan dan membuat minuman hangat. Sedangkan kami yang perempuan hanya berdiam diri di tenda. Ketika kami yang perempuan ingin membantu, mereka yang laki-laki bilang Udah nggak usah, di tenda saja!”

Menyenangkan, tapi agak merasa jadi beban juga, sebenarnya kami ingin melanjutkan lagi perjalanan sampai pos terakhir, tapi salah satu ketua pendaki veteran kita bilang “Udah besok saja, resikonya terlalu banyak, ini udah gelap, gerimis, dan kabut”. Oke tidak masalah, setelah kami makan malam, kami istirahat.

Keesokan harinya, saya merasa suhu udara sangat dingin, akhirnya saya menggunakan empat jaket, satu vest, tiga kaos kaki, dan sarung tangan tebal. Setidaknya ini membantu saya sedikit lebih hangat. Hari itu saya benar-benar ingin sekali matahari menampakan dirinya, agar saya merasakan hangatnya. Namun sayang sekali, mendung. Semakin mendekati puncak, angin semakin kencang. Saat menuju ke pos terakhir, saya benar-benar banyak berhentinya. Sampai akhirnya tas yang seharusnya menjadi kewajiban untuk saya bawa, dibawakan oleh rekan saya.

Bunga Edelweiss
Bunga Edelweiss/Cindar Bumi

Mau nangis rasanya saat benar-benar merasakan kedinginan, mungkin ini lebay, tapi memang dingin sekali.  Ada sesuatu yang membuat saya menjadi sedikit lebih semangat waktu itu, saya diberikan kesempatan oleh Tuhan melihat bunga edelweiss yang mulai bermekaran. Di sini saya baru tahu bahwa tanaman edelweiss ini bisa tinggi, mungkin tiga sampai lima meter. Entah kenapa rasanya senang saja, ketika melihatnya. Mood saya seketika membaik.

Sesampainya di puncak Cemoro Kandang atau Sabana sekitar pukul 09.00, kami membangun satu tenda untuk beristirahat. Menyalakan kompor untuk memasak sarapan sekaligus makan siang, lalu tak ketinggalan untuk mendokumentasikan perjalanan ini.

Sekitar pukul 12.00 kami mulai membereskan peralatan masak dan tenda. Sekali lagi sangat-sangat sayang, kami semua tidak ada yang summit menuju Puncak Butak, karena kami sudah terlanjur tepar terlebih dahulu. Kami juga menyimpan energi untuk turun ke basecamp.

Perjalanan turun memang lebih cepat nyatanya, tapi kami sampai di pos satu hari sudah mulai gelap. Saat itu juga, alam ini sedang kurang bersahabat ya dengan kami. Ketua pendaki kami selalu mengatakan “Sebentar lagi kita sampai basecamp, dengarkan ada suara adzan, lihat ada lampu, itu rumah penduduk, di sana ada warung!” Kalimat motivasi tapi sungguh menyebalkan. Karena kalau capek ya capek aja, tapi terima kasih ketua sudah memberi semangat kami. 

Meskipun tidak sampai puncak, tapi terima kasih telah membuat kenangan dengan perjalanan yang panjang meninggalkan kenangan manis.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu

Beberapa kisah yang ingin disampaikan oleh Bumi

Beberapa kisah yang ingin disampaikan oleh Bumi
Artikel Terkait
Travelog

Yogyakarta: dari Tebing Breksi, hingga Malioboro

Travelog

Sepenggal Kisah dari Lawatan ke Pendiri Salib Putih Salatiga

Travelog

Tak Sengaja Menemukan Tugu Helm Kopral Syarif

NusantarasaTravelog

Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Tentang Rumah di Balik Kaki Gunung Tompobulu