Photo EssayPilihan Editor

Tak Perlu Buru-Buru di Argopuro

Cobalah sesekali singgah lebih lama

Tak Perlu Buru-Buru di Argopuro
— Kompleks hutan damar, sejenis pohon runjung penghasil getah untuk bahan dasar kopal, yang berbatasan dengan kebun sayur penduduk Bermi. Dari sini jarak ke rumah (basecamp) Cak Arifin masih sekitar dua kilometer. Satu jam jalan kaki atau lima menit dengan ojek.

Pada akhirnya saya mungkin tidak bisa memberikan jawaban pasti terhadap pertanyaan, mengapa harus tujuh hari di Argopuro?

Jika membenturkan preferensi satu sama lain, biasanya tak akan menghasilkan titik temu. Tentu saja saya menghormati setiap pilihan, meskipun saya tidak akan memaksakan orang lain untuk menyepakati keputusan saya. Bagi saya, makna perjalanan seminggu di gunung berbeda jika saya mendaki tak selama itu. Namun, jika ditanya apakah sepadan, saya akan lantang menjawab, “Ya! Sangat sepadan!”

Tak Perlu Buru-Buru di Argopuro
— Lanskap Pegunungan Hyang sisi barat terpotret dari pinggiran ladang penduduk Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Desa di ketinggian 1.023 mdpl ini terkenal sebagai salah satu daerah penghasil susu sapi perah dan kopi terbaik di Jawa Timur. Salah satu hal yang unik, barangkali hampir serupa di tempat lain, tidak semua warga di sini pernah mendaki Argopuro. Atau, kalaupun memiliki satu pengalaman pendakian, sebagian di antaranya mengaku kapok untuk kembali ke sana. Apakah karena alasan fisik atau mengalami hal-hal di luar nalar? Hanya mereka yang tahu.

Tak hanya Lukas dan Evelyne. Jawaban saya tersebut juga (seolah) mendapatkan validasi dari orang lain yang baru saya kenal. Saat akan mendaki Gunung Lawu via Candi Cetho akhir Mei lalu, saya menemui Paul di basecamp Danang (Exotisme Lawu). Dia adalah orang kantoran asal Jakarta yang hobi menghabiskan waktu cuti atau liburnya di gunung. Ia juga pernah mendaki Gunung Argopuro tahun 2022, tetapi hanya empat hari tiga malam. Yang menarik dari pengakuannya adalah Paul ingin kembali ke Argopuro tahun depan.

“Argopuro sangat layak untuk diulang, tetapi harus seminggu kayak kamu. Rasanya sayang kalau cuma empat hari di sana,” ujarnya. (*)


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mendaki Gunung Merbabu via Suwanting: Harapan Selepas Hujan (1)