ItineraryNusantarasa

Menyantap Cita Rasa Kelezatan Soto Kudus

Bila menyebut Kudus, maka yang terlintas adalah jenang, kretek, dan masjid menara. Ketiganya memang identik dengan Kudus. Kudus masyhur dengan produk jenangnya. Jenang menjadi oleh-oleh paling diburu wisatawan yang bertamasya ke objek-objek wisata di Kudus.

Lalu kretek menjadi bagian penting dari Kudus, karena sejarah panjang awal kemunculan kretek sangat terkait erat dengan daerah ini, sehingga Kudus pun dijuluki sebagai Kota Kretek. Adapun masjid menara, karena di Kudus terdapat sebuah masjid yang dikenal dengan nama Masjid Menara Kudus. 

Nama resmi masjid ini sebenarnya adalah Masjid Al-Aqsa Manarat Kudus. Namun lebih kondang dengan sebutan Masjid Menara Kudus, karena di masjid kuno peninggalan Sunan Kudus yang dibangun tahun 1549 M ini, terdapat sebuah menara dengan ketinggian 18 meter, dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m.

Soto Bu Jatmi
Soto Bu Jatmi, disajikan dalam mangkuk biasa, menawarkan cita rasa soto kudus yang nikat nan lezat/Badiatul Muchlisin Asti

Di luar tiga kata itu: jenang, kretek, dan masjid menara, sebenarnya masih ada satu kata lagi yang merepresentasikan Kudus, yaitu soto. Di kancah perkulineran Indonesia, terutama di blantika persotoan, soto Kudus termasuk sajian berkuah yang cukup diperhitungkan. 

Tahun 2009, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80, Bango merilis sebuah buku berjudul 80 Warisan Kuliner Nusantara. Di dalam buku tersebut termuat 80 kuliner pusaka pilihan warisan leluhur yang patut di-uri-uri, mengingat kehadirannya menjadi peneguh identitas dan juga pengejawantahan budaya bangsa. Di antara 80 kuliner pusaka pilihan itu, soto Kudus masuk di dalamnya.

Soto Kudus masyhur karena cita rasa kelezatannya. Di Kudus, banyak dijumpai soto-soto legendaris, yang bisa menjadi pilihan saat nglencer ke kota Kudus dan ingin membuktikan kelezatan sotonya. Di antara nama-nama yang lekat sebagai pelopor soto di Kudus dan telah memiliki jejak perjalanan yang cukup panjang di dunia persotoan antara lain: Pak Denuh, Pak Di, Pak Ramidjan, Karso Karsi, Bu Jatmi, dan Haji Sulichan.

Potret Kelezatan Soto Kudus

Di blantika persotoan Indonesia, varian soto sangat banyak. Sebuah data yang dirilis oleh Murdijati Gardjito, dkk sebagaimana disebutkannya di buku Soto, Nikmat dari Indonesia untuk Dunia (2018), ada 75 ragam soto di Indonesia yang tersebar di 22 dari 34 daerah kuliner. Data ini bisa bertambah mengingat penelitian profil soto dibatasi daerah kulinernya, juga mengingat di luar daerah kuliner yang diteliti, informasinya konon sangat sulit dan sedikit didapat. 

Soto memang ikon kuliner Indonesia yang luar biasa. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki versi soto masing-masing, dengan karakteristik yang berbeda. Begitu pun soto Kudus. Soto Kudus adalah soto gaya Kudus yang memiliki keunikan tersendiri, sejak dari cita rasa, cara penyajian, dan lauk pelengkapnya.

Cita rasa kelezatan soto Kudus pertama-tama terletak pada kuahnya yang gurih dan berbumbu. Taburan irisan bawang putih—yang digoreng garing—menjadi ciri khas sekaligus memperkaya cita rasa dan aroma kuahnya. Selain gurih, kuahnya juga bercita rasa segar. Warnanya sedikit lebih gelap atau kecoklatan berkat tambahan kecap—yang sekaligus membuat cita rasanya gurih manis. 

Soto Pak Denuh
Soto kudus Pak Denuh menawarkan soto ayam dan soto kerbau dengan lauk pelengkap yang menggoda selera/Badiatul Muchlisin Asti

Gaya penyajian soto Kudus juga unik. Soto Kudus umumnya disajikan dalam sebuah mangkuk kecil—namun ada juga yang mangkuk biasa, sudah tercampur dengan nasi, dengan isian meliputi potongan kecil daging kerbau atau suwiran daging ayam, taoge yang sudah direbus, dan daun bawang.

Selain sotonya yang sudah bercita rasa lezat, lauk pelengkap yang disajikan sebagai teman menyantap sotonya juga sangat menggoda. Dalam tradisi persotoan di Kudus, soto dinikmati dengan aneka sate seperti: sate kerang, sate telur puyuh, sate ayam, dan sate ati ampela; juga ada perkedel; tempe dan tahu goreng; serta kerupuk.

Istimewanya lagi, sotonya diracik di sebuah pikulan yang dulu biasa dijadikan sebagai alat untuk berjualan soto dengan cara berkeliling kampung, dari kampung satu ke kampung lainya. Dulu, saat awal-awal perintisan soto Kudus di masa kolonial Jepang era tahun 1940-an, soto Kudus memang dijajakan dengan pikulan berkeliling kampung.

Meski pikulan itu sekarang tidak lagi dipikul untuk berjualan keliling, namun dalam tradisi persotoan Kudus, pikulan itu seolah ‘wajib’ dipajang di warung. Boleh jadi hal itu untuk mengenang awal-awal masa perintisan soto Kudus tempo dulu yang penuh gempita perjuangan.

Soto Pak Denuh dan Bu Jatmi

Di Kudus, ada sejumlah soto legendaris di Kudus. Namun di antara yang legendaris itu, soto Pak Denuh dan soto Bu Jatmi, bolehlah dijadikan sebagai ‘representasi’ cita rasa kelezatan soto Kudus. Keduanya sama-sama populer, karena sama-sama menawarkan soto Kudus yang masyhur kelezatannya.

Baik soto Pak Denuh maupun soto Bu Jatmi, sama-sama menyajikan dua versi soto Kudus. Dalam khazanah pustaka kuliner Kudus, soto Kudus memang memiliki dua gagrak soto, yaitu soto kerbau dan soto ayam. 

Sejumlah sumber menyebutkan, resep asli soto Kudus menggunakan daging kerbau meneruskan tradisi leluhur—sesuai dengan sejarah awal penyebaran Islam di Kudus, dimana Sunan Kudus berfatwa melarang umat Islam menyembelih sapi sebagai satwa sakral dalam doktrin Hindu, dengan tujuan agar tidak melukai hati umat Hindu yang saat itu masih menjadi agama mayoritas di Kudus. 

  • Soto Pak Denuh
  • Soto Bu Jatmi
  • Sate Kerang
  • Sate Ayam
  • Sate soto kudus
  • Soto Bu Jatmi

Fatwa itu masih ditaati oleh warga Kudus hingga kini, karena itu jangan heran bila di Kudus banyak dijumpai sajian berbahan daging kerbau, termasuk dalam sajian sotonya. Namun untuk mengakomodasi orang-orang yang tidak menyukai daging kerbau, dalam perkembangannya, dibuatlah varian soto Kudus yang menggunakan protein daging ayam. Baik soto Kudus versi daging kerbau maupun ayam, keduanya sama-sama enak, tergantung selera.

Soto Pak Denuh berada di Jalan AKBP Agil Kusumadya, Kudus. Selain di tempat ini, soto Pak Denuh juga bisa dijumpai di dua cabang lainnya—masih di wilayah kota Kudus, yaitu di Taman Bojana Kios No. 55, 56, 57, Kudus; dan di Terminal Bus kios No. 6. Soto Pak Denuh tidak buka cabang di luar kota. Adapun  soto Bu Jatmi berada di Jalan KH. Wachid Hasyim 43, Kudus.

Dari sisi masa tempuh, boleh jadi soto Bu Jatmi lebih muda usianya. Soto bu Jatmi eksis sejak tahun 1982, sedang soto Pak Denuh sudah eksis sejak tahun 1945. Namun, meskipun hadir belakangan, cita rasa soto bu Jatmi tidak kalah dengan soto Pak Denuh. Keduanya memiliki penggemar masing-masing, dari kalangan masyarakat biasa hingga pejabat dan pesohor.

Boleh juga, bila ingin menjelajah, berburu soto Kudus legendaris lainnya. Seperti soto Pak Di yang menawarkan soto Kudus dengan tekstur kuah yang lebih kental. Atau soto Karso Karsi yang masih bertahan dengan penggunaan kayu bakar dalam memasak kuah sotonya. Yang jelas, pesona soto Kudus begitu memikat. Cita rasa kelezatannya layak untuk dicoba.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia
Artikel Terkait
EventsNusantarasa

30 Menit di Pameran ‘Rijsttafel: Cita Rasa Indonesia dalam Memori’

ItineraryNusantarasa

Ada Apa dengan Babi dalam Budaya Masyarakat Batak?

ItineraryNusantarasa

Menyantap Tiram Bakar Khas Barru

NusantarasaTravelog

Sarapan dengan Semangkuk Lontong Kari Kebon Karet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Worth reading...
Tahu Pong, ‘Signature Dish’ Kota Semarang