Travelog

Mengintip Pasar Kaget di Ruas Jalan Lingkar Selatan Sukabumi

Pasar kaget—atau pasar dadakan—kerap bermunculan di akhir pekan atau hari libur lainnya di sejumlah wilayah. Dengan memanfaatkan area publik, termasuk sebagian ruas jalan raya, yang mestinya steril dari aktivitas berniaga.

Sebagian lahan kebun dan ladang itu kini berubah wujud menjadi jalan. Namun, masih berupa tanah merah kecoklatan. Supaya menjadi jalan raya yang layak dilalui kendaraan bermotor, masih perlu pembangunan konstruksi, termasuk proses pengerasan dan kemudian pengaspalan serta pemasangan rambu dan fasilitas jalan.

Kulangkahkan kaki perlahan menyusuri jalan yang masih belum 100 persen rampung itu, Minggu (6/2/2022) pagi silam. Di depanku, tiga ibu melenggang didampingi anak mereka, yang kutaksir masih berusia sekolah dasar.

Jalan yang masih berupa tanah itu adalah bagian dari proyek Jalan Lingkar Selatan Sukabumi. Berjarak beberapa belas meter di depannya, terbentang jalan layang (overpass) Cibeureum, Sukabumi, Jawa Barat, yang baru saja kelar dibangun, dan telah beraspal mulus, namun belum dilalui banyak kendaraan bermotor.

Overpass Cibeureum
Overpass Cibeureum, Sukabumi/Djoko Subinarto.

Di bawah jalan layang Cibeureum, terbentang jalan kereta api tunggal untuk rute Cianjur-Sukabumi-Bogor. Dari atas jalan layang, jika cuaca kebetulan cerah, kita bisa melihat barisan pegunungan di sisi utara dan selatan Sukabumi.

Beberapa pesepeda terlihat memarkir sepedanya persis di atas jalan layang. Sebagian dari mereka terlihat berfoto-ria sembari menikmati panorama pagi dari atas jalan layang. Belasan bendera sebuah parpol yang terpasang di pagar jalan layang berkibar-kibar karena tertiup embusan angin. 

Aku berjalan ke arah selatan. Di ujung jalan layang, aku melongok ke arah barat laut. Samar-samar terlihat sekilas Gede-Pangrango. Sementara itu, di sebelah kanan dari tempatku berdiri, seorang pedagang minuman tengah sibuk melayani pembeli.

Semakin bergerak ke sisi selatan, suasana semakin ramai. Suara gamelan yang ditabuh pemain doger monyet terdengar nyaring, seolah memanggil anak-anak untuk berkumpul. Sang monyet sedang beratraksi duduk di sebuah kursi kayu sembari menyeruput air dari cangkir batok kelapa. Seorang ibu yang yang kebetulan sedang melintas di depan atraksi doger monyet itu mencemplungkan uang kertas ke kantong plastik yang diletakkan persis di tengah jalan.

Aku terus bergerak ke selatan. Dan yang kini kudengar adalah suara musik dangdut koplo yang mengiringi puluhan ibu-ibu, mayoritas berseragam merah, yang sedang melakukan senam kebugaran. Mereka begitu bersemangat melakukan aneka gerak yang dicontohkan instruktur senam di depan mereka.

  • Overpass Cibeureum
  • Overpass Cibeureum
  • Overpass Cibeureum

Tak begitu jauh dari lokasi senam, para pedagang sibuk melayani mereka yang berbelanja. Sebagian ruas Jalan Lingkar Selatan pada Minggu pagi itu menjadi pasar kaget lantaran warga memanfaatkannya untuk menggelar dagangan. Dari mulai penjual makanan, penjual sayuran, penjual pakaian, penjual perabotan, penjual mainan anak-anak hingga badut karakter tumplek blek di sana.

Tak jauh dari penjual basreng (bakso goreng), kulihat seorang pria penjual sate tengah mengipas-ngipas puluhan tusuk sate ayam. Pria yang lainnya, tengah memotong-motong ketupat. Satu porsi sate ayam dihargai Rp12.000. 

Di depan penjual sate, sebuah minibus tua buatan negeri Sakura berwarna biru gelap berhenti. Seorang perempuan berkaus oblong putih bertuliskan “Oneday at A Time” dan bercelana jeans turun dari pintu depan. Ia bergegas menurunkan sejumlah barang. Sejurus kemudian, ia dengan cekatan memasang tenda.

“Duh, kesiangan, euy,” celetuknya, saat salah seorang teman sesama penjual bertanya kenapa ia baru datang ke lokasi pasar kaget.

Aku kemudian menyeberang dan balik kanan. Terlihat tukang rambutan sedang menawarkan dagangannya. Ia mengangkut buah rambutan dengan mobil pick up yang diparkir di pinggir jalan. Sebagian buah rambutan dia geletakkan di atas terpal berwarna biru, sehingga calon pembeli lebih mudah untuk memilihnya.

Sementara itu, di tengah jalan, penjual jambu klutuk merah tengah melayani pembeli, seorang perempuan berkerudung. Begitu selesai memberi uang kembalian, penjual memberikan bonus tambahan satu buah biji jambu klutuk lagi kepada perempuan itu.

Pasar kaget seperti yang kusaksikan di kawasan Jalan Lingkar Selatan, Sukabumi, tentu saja menggerakkan ekonomi lokal. Roda ekonomi warga berputar. Para ibu rumah tangga juga ikut terbantu. Mereka dapat berolahraga atau rekreasi di  Minggu pagi bersama anak mereka sembari berbelanja keperluan sehari-hari.

  • Overpass Cibeureum
  • Overpass Cibeureum
  • Overpass Cibeureum

Tersisa satu segmen

Jalan Lingkar Selatan Sukabumi sendiri memiliki panjang sekitar 19 kilometer, yang terbagi pembangunannya ke dalam empat segmen. Segmen 1 membentang dari kawasan Cibolang ke Jalan Pelabuhan dengan panjang 6,9 kilometer. Segmen 2 mulai dari Jalan Pelabuhan ke kawasan Baros, sepanjang 2,2 kilometer. Sedangkan segmen 3 mulai dari Baros ke Sukaraja, sejauh 4,4 kilometer. Ketiga segmen ini sudah rampung seluruhnya.

Adapun yang belum rampung adalah segmen 4, yakni mulai dari Sukaraja ke Jalan Raya Sukabumi-Bandung, sejauh 4,4 kilometer. Pada awal Februari 2022, tahapan segmen 4 tengah memasuki proses usulan untuk pembebasan sejumlah lahan dan pembangunan konstruksi.

Saat seluruh pembangunan Jalan Lingkar Selatan ini nanti rampung diharapkan dapat ikut mengurai kemacetan arus lalu-lintas di sebagian wilayah Kabupaten dan Kota Sukabumi, serta ikut mendorong ekonomi warga semakin meningkat.

Sudah barang tentu, ketika Jalan Lingkar Selatan ini telah seluruhnya berfungsi, kemungkinan besar tak akan ada lagi pasar kaget di ruas jalan raya ini. Bagaimanapun, jalan raya sama sekali bukan tempat yang tepat untuk melakukan aktivitas jual-beli, meski di hari Minggu atau hari-hari libur lainnya. Kecuali kalau memang jalan raya itu sengaja ditutup oleh otoritas berwenang dan lantas diperuntukkan secara khusus di waktu-waktu tertentu untuk arena pasar kaget, di mana warga dapat memanfaatkannya untuk menggelar dagangan mereka dan bertransaksi dengan para pembeli.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Solo — Jogja: Naik KRL, Berangkat dari Stasiun Gawok

    Travelog

    Menyusuri Lawang Sewu di ‘Kota Atlas’

    Travelog

    Mencari Sejarah yang Terkubur di Kuburan Londo, Sukun

    Travelog

    Menyambangi Gedung Sate Menjelang Momen Puncak Reformasi 1998

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Membelah Kebun Teh Gambung Menuju Pangalengan