ItineraryNusantarasa

Tahu Pong, ‘Signature Dish’ Kota Semarang

Kedatangan orang-orang Tionghoa, Arab, Eropa, dan lainnya di kota Semarang, mempengaruhi budaya yang berkembang di kota Semarang yang sebagian besar dihuni oleh orang Jawa. Mereka hidup berdampingan dalam interaksi sosial yang harmonis.

Pergumulan budaya dengan beragam bangsa selama berabad-abad itu, melahirkan budaya lokal Semarangan, termasuk dalam konteks kuliner. Salah satu yang cukup kuat memiliki pengaruh bagi budaya kuliner Semarang adalah kehadiran orang-orang Tionghoa, yang diketahui sudah lama datang dan menetap di kota Semarang. 

Sejumlah hidangan yang kemudian dikenal sebagai kuliner khas Semarang sesungguhnya merupakan hibridisasi dari tradisi dapur Tionghoa. Antara lain yang bisa disebut adalah lumpia dan sejumlah kuliner berbasis tahu. Ya, Kota Semarang memang kaya khazanah kuliner khas berbahan dasar tahu, yaitu tahu gimbal, tahu petis, wedang tahu, dan tahu pong.

Tahu pong Semarang
Sajian tahu pong komplet, yang terdiri dari tahu pong, emplek, gimbal udang, dan telur/Badiatul Muchlisin Asti

Yang disebut terakhir, yaitu tahu pong, adalah kuliner khas Semarang yang cukup populer dan ikonik. Aji ‘Chen’ Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara (2013) menyebutkan, tahu pong adalah salah satu jejak nyata akulturasi kuliner Tionghoa yang saat ini menjadi salah satu signature dish kota Semarang. 

Makanan ini tidak akan ditemui di mana pun di seluruh dunia. Meski tentu saja ‘tahu pong’-nya sendiri banyak terdapat di mana saja. Kota Kediri juga memiliki jajanan tahu pong yang menjadi ciri khas kuliner di sana.

Selayang Pandang Sejarah Tahu

Tahu merupakan hasil olahan kedelai yang menjadi salah satu makanan yang paling populis atau merakyat. Selain harganya murah dibanding daging, tahu juga kaya kandungan protein. Tahu dibuat dengan menggumpalkan susu kedelai.

Sejumlah sumber menyebutkan, tahu berasal dari Tiongkok. Tahu pertama kali ditemukan oleh Liu An—cucu pendiri Dinasti Han, pada sekitar tahun 164 SM. Tahu kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia dibawa oleh para imigran Tionghoa. 

Suryatini N. Ganie dalam buku Dapur Naga di Indonesia (2008) menyatakan, tahu mempunyai sejarah panjang di Tiongkok, tempat asalnya sejak 3000 tahun lalu. Teknologi pembuatan tahu secara cepat menyebar ke Jepang, Korea, dan Asia Tenggara.

Tetapi, kapan tahu mulai hadir di Nusantara, tidak dapat ditetapkan waktunya dengan tepat. Namun, orang Kediri mengklaim sebagai kota pertama di Nusantara yang mengenal tahu, yang dibawa tentara Kubilai Khan pada tahun 1219.

Tahu pong Semarang
Pengunjung kedai Tahu Pong Gajah Mada sedang menikmati sajian tahu pong/Badiatul Muchlisin Asti

Timbul Haryono dalam papernya yang berjudul Makanan Tradisional dalam Kajian Pustaka Jawa (1997) menyatakan bahwa tahu berasal dari Tiongkok. Diduga tahu sudah masuk ke Indonesia sejak milenium pertama. Ini dibuktikan dari temuan arkeologis Perancis, Damais, yaitu Prasasti Watukura di Jawa Timur (902 M) yang di dalamnya berisi kata tahulan. Mungkin sekali kata tahulan ini adalah tahu yang dikenal selama ini. Apalagi budidaya  kedelai telah dikenal sebelum abad 10 M seiring gelombang kedatangan orang-orang Tionghoa di Indonesia.

Adapun sejawaan JJ Rizal sebagaimana dikutip oleh Historia.id mengungkapkan bahwa pada abad ke-10, orang-orang Tionghoa telah menyajikan tahu di Nusantara, meskipun terbatas di kalangan elite. Sehingga tahu lebih tua daripada tempe kalau dilihat dari masa mulai produksinya.

Tahu sendiri berasal dari kata 豆腐, dòu fu (baca: tou fu), yang berbunyi tau hu dalam dialek Hokkian. Sebutan tau hu lama kelamaan menemukan bentuk singkatnya ta hu, yang kemudian ditulis dengan tahu sampai sekarang.

Sajian Tahu Pong ala Semarang

Tak ada data yang jelas sejak kapan tahu pong eksis di kota Semarang. Hanya saja, penulis buku kuliner asli Semarang Aji ‘Chen’ Bromokusumo menyatakan, hasil interview-nya dengan sejumlah sumber menemukan jawaban bahwa tahu pong eksis di Semarang sudah sejak tahun 1930-an.

Tahu pong sendiri adalah tahu yang kopong. Kopong berasal dari bahasa Jawa yang artinya kosong atau tanpa isi. Sehingga disebut dengan tahu pong alias tahu kopong. Bisa juga berasal dari kata péng, yang dalam dialek Hokkian berbunyi “phong” yang berarti menggelembung. Tahu pong memang memiliki tekstur yang berbeda dengan tahu biasa. Bila digoreng, tahu pong bisa menggembung, bagian dalamnya berongga, kulitnya tipis dan kering.

  • Tahu pong Semarang
  • Tahu pong Semarang

Tahu pong seperti itu bisa dijumpai di seantero kota Semarang. Tapi tahu pong dengan sajian istimewa dan dikenal sebagai signature dish kota Semarang, salah satunya dapat dijumpai di sebuah kedai legendaris di Jalan Gajahmada 63B, kota Semarang. Kedai sederhana berlantai dua itu spesialis menyuguhkan hidangan tahu pong dengan berbagai kombinasi yang menggugah selera.

Sutikno dan istrinya, Ngatini, merintis Kedai Tahu Pong Gajah Mada pada tahun 1950. Awalnya lokasi berjualannya belum di Jalan Gajahmada, namun di Jalan Wahid Hasyim. Kemudian pindah lokasi ke Jalan Depok. Baru pada tahun 1972, pindah lagi ke Jalan Gajahmada 63B hingga sekarang. Setelah Sutikno dan Ngatini wafat, usaha tahu pong diteruskan oleh anaknya, Marsiah. Saat ini, kedai Tahu Pong Gajah Mada dikelola oleh generasi ketiga, Sigit Indriatmoko bersama istrinya, Putri.

  • Tahu pong Semarang
  • Tahu pong Semarang

Di kedai Tahu Pong Gajah Mada, tahu pong disajikan dengan pelbagai pilihan pelengkap, seperti tahu pong telur, tahu pong gimbal, tahu pong gimbal telur, dan tahu pong komplit—yang di dalamnya meliputi tahu pong, emplek, gimbal, dan telur.

Dalam sajian tahu pong komplet, tahu pong goreng disajikan dengan emplek goreng. Emplek adalah tahu berwarna putih dan padat—kebalikan dari tahu pong yang dalamnya kopong alias berongga tanpa isi. Lalu tahu gimbal—gorengan udang dalam adonan tepung agak tipis lebar, serta telur rebus yang digoreng.

Paduan tahu pong yang renyah, emplek goreng, gimbal udang, dan telur rebus goreng itu, disantap dengan kuah yang terbuat dari kombinasi kecap, petis, dan bawang , serta dilengkapi irisan mentimun dan lobak segar. Sajian istimewa itu menciptakan cita rasa yang—boleh dikata, Semarang banget

Dalam sajian tahu pong ala kota Semarang ini, kekuatan kuah menjadi penentu kelezatan karena semua komponen dalam sajian tahu pong digoreng tanpa bumbu. Cara menyantapnya, tahu pong dan pelengkap lainnya dicocol dalam kuah, atau kuahnya langsung diguyurkan ke piring saji tahu pong. Bila menyukai pedas, pengelola menyediakan cabai yang sudah dihaluskan dalam sebuah wadah khusus. Bila sedang berada di Semarang, silakan berburu signature dish kota Semarang yang lezat ini: tahu pong!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia
Artikel Terkait
NusantarasaTerkini

Kuliner Prancis dan Arsitektur Jawa dalam Cinema Bakery Yogyakarta

Itinerary

Jalan-jalan ke Curug Cipamingkis, Bogor

Itinerary

Cerita dari Kampung Adat Kuta, Ciamis

Itinerary

Tempat-Tempat yang 'Hilang' di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.