Pilihan EditorTravelog

Mengenang Histori dan Kultur Jawa Melalui Koleksi Museum Sonobudoyo

Yogyakarta begitu terik siang itu. Suara kendaraan bermotor berderu keras dari jalan utama Alun-alun Utara menjelang jam makan siang. Dari balik pagar, saya melihat sejumlah bus berjalan pelan dari kawasan Titik Nol Kilometer, tanda musim liburan telah tiba. Topeng karakter wayang menyambut saya dan seorang teman kala kami turun dari sepeda motor. Bangunan bergaya keraton, dengan bangunan putih dan pagar hijau khasnya, mengundang kami untuk segera menjelajahinya. Setelah membayar tiket masuk senilai Rp3.000,00 per orang, kami bergegas masuk dengan antusiasme seorang anak sekolah yang sedang karyawisata.

Suara gamelan yang berdenting lembut menegaskan suasana anggun dan aura kuat dari Keraton Yogyakarta. Saya menyempatkan diri untuk mencatat kesan pertama saya terhadap Museum Sonobudoyo selama kami memenuhi syarat untuk berwisata di masa pandemi. Saya membayangkan sebuah museum klasik tanpa adanya teknologi atau sentuhan modern, seperti museum di dalam kawasan Keraton. Namun, Museum Sonobudoyo berdiri tegak dengan arsitektur Jawa yang apik sekaligus teknologi yang membuat kunjungan lebih nyaman dan interaktif. Contoh sederhananya, ada air conditioner di museum ini. Kunjungan jadi nyaman dan menyenangkan, terutama di tengah panasnya Kota Yogyakarta. 

Museum Sonobudoyo
Ruang koleksi pertama yang bernuansa keraton dengan ornamen yang kental akan budaya Jawa/Dyah Sekar P

Dua ruang pertama di Museum Sonobudoyo membuat saya dan teman saya menolak untuk berjalan berjauhan. Ruangan pertama, dengan nuansa warna cokelat dan penerangan yang muram, memajang artefak Jawa klasik. Tempat tidur beratap dari kayu yang mewah, cawan kuningan, guci, wayang kulit, dan beberapa artefak lain dipajang di ruangan tersebut. Nuansa Jawa kental dan tidak adanya pengunjung menciptakan aura mistis sekaligus menakjubkan. 

Di ruangan selanjutnya, terdapat peninggalan purbakala seperti alat-alat batu dan tulang serta tengkorak manusia purba. Terdapat kubur batu di bagian lantai, dengan kerangka manusia yang entah asli atau replika, menjadi highlight dari bagian prasejarah di Museum Sonobudoyo. Sebagai generasi Z, tidak dapat dipungkiri bahwa kami ingin mengabadikan apapun yang kami lihat di museum. Namun saat itu, terdorong respek, rasa kagum, sekaligus bergidik, kami menyimpan ponsel dalam tas masing-masing dan memutuskan menyaksikan bukti kejayaan nenek moyang yang terpajang di seluruh museum. 

Ruangan selanjutnya merupakan ruang yang memajang artefak dari candi Hindu-Buddha di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta serta peninggalan Mataram Islam. Benda-benda seperti cermin, miniatur patung Ganesha, artefak pemujaan bernama gentha dan darpana, guci, replika kapal, dan teko antik terpajang cantik dan dapat diamati melalui kaca. Ruangan ini juga dihiasi oleh stained glass—kaca berwarna-warni—khas Eropa yang dipajang dekat dengan langit-langit museum. Uniknya, stained glass tersebut berdampingan dengan dinding kayu khas Keraton, menciptakan perpaduan arsitektur Jawa-Eropa yang cantik. 

Kesenian merupakan tema dari ruang-ruang berikutnya. Terdapat ruangan yang memamerkan kain batik dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Di ruangan tersebut, terpajang juga pakaian pengantin khas Yogyakarta dan informasi mengenai filosofi yang terkandung di dalamnya. Terdapat ruang yang memajang berbagai wayang kulit, mulai dari wayang berbentuk manusia, seperti tokoh dewa-dewi dan pahlawan, hingga hewan seperti kancil dan buaya. Ruangan wayang dilengkapi oleh layar besar yang menampilkan video animasi wayang yang menceritakan kisah Ramayana. 

Ruangan selanjutnya memamerkan topeng dari pelbagai daerah, lengkap dengan informasi mengenai bagian, cara pembuatan, hingga karakter dari topeng. Kali ini, tidak hanya budaya Jawa yang dibawakan. Topeng-topeng khas Bali, seperti leak dan barong, juga terpajang apik. Usai menjelajah ruangan tersebut, saya kembali diingatkan akan kekayaan dan keindahan budaya negeri kita. Itupun baru Jawa Tengah dan Yogyakarta, bagaimana dengan daerah lain? Pastinya menakjubkan dan kaya sekali!

Sebuah ruangan luas dengan dinding berhiaskan ukiran khas Jawa menjadi tempat saya dan teman beristirahat sejenak. Mengagumi ukiran-ukiran kayu yang kami taksir harganya mencapai ratusan juta rupiah, berbincang sebentar, hingga mengambil foto di depan dinding dan pintu kayu yang cantik. Cahaya siang yang masuk melalui pintu kaca di sebelah barat membuat ruangan ini terlihat kian apik pada lensa kamera. Cocok untuk mengabadikan momen berkunjung ke Museum Sonobudoyo! 

Ternyata, tidak hanya artefak dan peninggalan budaya Jawa saja yang disimpan di Museum Sonobudoyo, tetapi juga artefak Bali. Seusai menjelajahi peninggalan Jawa berupa keris dan permainan tradisional, pengunjung diarahkan ke ruangan besar yang memajang peninggalan khas Pulau Dewata. 

Museum Sonobudoyo
Nuansa khas Bali di tengah Kota Yogyakarta/Dyah Sekar P

Patung dewa-dewi Hindu yang megah, pintu dan ukiran kayu bernuansa keemasan, dan masih banyak lagi. Di bagian outdoor dari kawasan Bali, terdapat sebuah taman kecil bergaya Bali dengan gapura dan adanya patung berkain kotak-kotak. Terdapat juga pendopo dengan arsitektur khas Bali di balik gapura. Nuansa Bali yang kental membuat kita merasa bukan lagi berada di Yogyakarta. Cocok untuk berfoto dan “menipu” para followers di sosial media bahwa kita sedang berlibur di Bali. 

Kunjungan yang tak terbilang panjang ke Museum Sonobudoyo tersebut mencetak pengalaman berharga untuk kami. Selama tiga tahun berkuliah di Kota Pelajar, hal ini menjadi satu momen dimana kami diingatkan akan pesona dan kekayaan kultur Jawa. Koleksi, artefak, dan karya seni yang terpajang rapi dalam gedung museum menjadi pesan pada generasi saat ini mengenai budaya, kecerdasan, dan pamor nenek moyang bangsa Indonesia. 

Tak ada alasan untuk tidak mengunjungi museum ini bila berkunjung ke Yogyakarta. Lokasi di pusat kota, mudah diraih oleh berbagai moda transportasi, hingga tiket masuknya yang ramah untuk dompet menjadi alasan Museum Sonobudoyo layak menjadi tempat wisata yang populerhits. Entah untuk wisata bernuansa kental budaya Yogyakarta atau sekadar membunuh kebosanan, Museum Sonobudoyo akan menjadi tempat yang saya rekomendasikan.  


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.

Dyah adalah seorang mahasiswi semester akhir di Yogyakarta. Kadang mengerjakan skripsi, kadang menulis, kadang memikirkan ide aksi lingkungan, kadang jalan-jalan, kadang bermimpi.
    Artikel Terkait
    Arah SinggahTravelog

    Diplomasi Sepakbola Timur

    Arah SinggahTravelog

    Memulai Kebun Pertama di Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Harap Cemas Penantian Mekko

    Arah SinggahTravelog

    Lontar, Kacang Hijau, dan Gula Sabu

    1 Comment

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.