Pilihan EditorSemasa Corona

Bermodal Percaya, Mengajar Daring Semasa Corona

Minggu malam itu saya menerima kabar bahwa mulai besok, 16 Maret 2020, universitas resmi menerapkan bekerja dari rumah. Seminggu sebelumnya kegiatan perkuliahan di kampus sudah dibubarkan, berganti kelas daring, tapi dosen masih boleh datang ke kampus. Tapi mulai Senin esok dosen pun harus kerja dari rumah.

Buat saya yang rumahnya cukup jauh dari kampus (sekitar 29 km jaraknya), pengumuman itu sedikit menyenangkan. Setidaknya saya bisa hemat dua jam setiap hari. Itu waktu yang saya habiskan di jalan untuk berangkat dan pulang kerja.

Saya menulis cerita semasa corona ini di bulan Juli, setelah empat bulan bekerja dari rumah. Ada pengalaman-pengalaman unik yang rasa-rasanya sayang kalau tidak diabadikan, terutama soal kuliah (dan ujian), bimbingan skripsi, dan ujian skripsi yang semuanya bergantung pada listrik dan internet.


Suatu kali, saat ujian akhir semester berlangsung, ada seorang mahasiswa yang mengirim pesan. Ia mengabarkan bahwa ia terlambat mengirim makalah ujian karena di rumahnya listrik mati dan sinyal internet hilang. Ia sudah mencoba pergi ke kampung tetangga dan berupaya mendapatkan sinyal internet, tapi nihil. Dan waktu ujian pun lewat.

Saat itu saya dilanda dilema. Perlu percaya atau tidak? Pesan dari mahasiswa itu tidak langsung saya jawab. Lima menit berlalu, saya menerima pesan lain di grup dosen. Ada seorang dosen senior yang gemar bercerita. Kali ini ia berkisah soal kekhawatirannya belajar daring dan kemungkinan mahasiswa curang saat mengerjakan ujian. Ada kalimat yang saya ingat dan rasanya pas dengan situasi saya: “Dengan daring, ada banyak hal yang tidak bisa kita kontrol, termasuk kejujuran mahasiswa.” Setelahnya, saya mengirimkan alamat surel saya ke mahasiswa yang tadi. Ya, saya hanya bermodal percaya saja.

Kalau soal bimbingan skripsi, saya selalu merasa di masa pandemi ini sebagian besar mahasiswa bimbingan gusar ingin buru-buru lulus. Surel dengan judul “Bimbingan Skripsi” datang tak henti setiap hari. Ah, mungkin karena kebanyakan pulang ke rumah; ada orangtua yang selalu bertanya kapan selesai skripsi. Mungkin itu yang membuat mereka lebih cepat mengerjakan skripsinya. Selalu ada hikmahnya, ya.

Tentang ujian skripsi daring, ini sering bikin deg-degan. Nasihat saya ke mahasiswa bimbingan yang akan diuji daring biasanya lebih panjang ketimbang saat ujian di kampus. Jika waktu ujian luring saya biasanya hanya mengingatkan soal persiapan presentasi saat ujian, masa-masa ujian daring ditambah, “Pastikan kuota internetnya cukup, kamarnya diberesin supaya background ujiannya nggak mengganggu, jangan di tempat rame, daya laptop dicek jangan sampai kehabisan baterai.”

Nasihat-nasihat itu kadang-kadang juga tak kuasa melawan takdir. Lucunya, justru saya yang mengalami hal-hal yang tak diinginkan itu. Saat sedang menguji, misalnya, pernah tiba-tiba listrik di rumah padam. Jaringan internet (Wi-Fi) otomatis mati. Saya hilang dari Zoom. Tersambung sepuluh menit kemudian, ketua penguji sedang bertanya jawab dengan si mahasiswa. Pertanyaan saya pun sudah buyar. Sampai mana tadi, ya?

Buat mahasiswa, ujian skripsi selalu jadi momen sakral. Biasanya kampus meriah kalau ada yang ujian. Teman-teman mahasiswa heboh menyiapkan hadiah—bunga, selempang, camilan. Suasana ujian skripsi daring tentu saja tak sama. Ada mahasiswa yang harus mengungsi ke rumah teman yang ada Wi-Fi-nya, ada yang di kamar kos adiknya, ada yang di rumah dan ujian skripsinya sempat diinterupsi kunjungan tetangga. Selesai ujian skripsi, karena banyak mahasiswa yang sudah pulang kampung, hadiah yang biasanya diberikan langsung pun dikirim via kurir atau ojek. Saya salut mereka tetap bisa bergembira dalam situasi yang serba tidak pasti ini.

Tidak jarang saya iseng memantau media sosial mahasiswa yang baru saja ujian. Ada saja hal lucu yang diunggah. Paling sering adalah tulisan “lulus jalur corona.” Belakangan tren berganti menjadi “sarjana new normal.”


Sehari sebelum saya menulis ini, ada email baru yang dikirim oleh pihak kampus. Perkuliahan daring diperpanjang sampai Desember tahun ini. Kesibukan saya dan para kolega pun mulai bergeser ke persiapan kelas, semisal bikin podcast, video, atau modul materi kuliah. Menyongsong semester besok, yang jaraknya tinggal sebulan dari sekarang, persiapan harus lebih matang ketimbang semester lalu.

Merantau dari Banjarmasin ke Yogyakarta sejak 2005. Kadang mencuri waktu untuk jalan-jalan di antara kesibukan meneliti dan mengajar di universitas.

Vidiadari

Merantau dari Banjarmasin ke Yogyakarta sejak 2005. Kadang mencuri waktu untuk jalan-jalan di antara kesibukan meneliti dan mengajar di universitas.
Artikel Terkait
IntervalPilihan Editor

Suka Duka di Balik Panen Raya

IntervalPilihan Editor

NuArt Talks dan Renungan Menjelang Hari Anak Nasional

Pilihan EditorSemasa Corona

Empat Babak Corona

Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *