Travelog

Ketulusan Alam dan Manusia: Cerita dari Hutan

Perjalanan menuju desa yang terletak di Bengkulu Selatan, Desa Air Tenam, menjadi hadiah awal tahun 2020 yang menyenangkan untuk saya, karena itu adalah kali ketiga saya bepergian ke daerah sebelum kebijakan PSBB dan larangan untuk melakukan perjalanan ke luar kota diterapkan akibat wabah COVID-19 yang melanda Indonesia.

Desa Air Tenam adalah desa baru yang secara definitif mulai berdiri pada tahun 2016, di bawah administrasi Kecamatan Ulu Manna, setelah sebelumnya bergabung dengan dusun lain. Sejak banyak penduduk baru datang ke Air Tenam pada 1990-an untuk berladang, wilayah itu kemudian menjadi tempat persinggahan untuk beristirahat oleh orang-orang dari kampung lain yang ladangnya jauh dari tempat mereka tinggal. Karena alamnya yang sejuk dan nyaman serta subur, para penduduk kampung lain kemudian memutuskan untuk menetap dan tinggal hingga akhirnya membangun sebuah desa yang kini dikenal sebagai Desa Air Tenam.

Foto aerial Desa Air Tenam/Dian Setiawan

Kehangatan dan keramahtamahan penduduk Air Tenam terpancar jelas dari senyum semringah semua warga yang berkumpul di lapangan menyambut kami. Sejak datang kami sudah dianggap layaknya keluarga oleh mereka. Sore itu, kami disambut dengan tarian andun yang gerakannya menyampaikan pesan untuk membangun kebersamaan dan harmoni (namun, jika dilakukan pasangan laki-laki dan perempuan, tari ini untuk mencari jodoh atau pasangan hidup).

Ada suguhan camilan lokal yang menarik perhatian saya, yaitu pempek. Pempek yang disajikan spesial, terbuat dari ikan pelus, endemik di Sungai Ulu Manna. Rasanya agak berbeda dari pempek pada umumnya, lebih kenyal, ikannya lebih berasa, dan sangat enak. Rasa khas makanan lokal selalu membuat saya tertarik, bahkan sering saya rindukan setelah kembali ke kota. Sore yang sempurna itu kami tutup dengan meminum kopi lokal jenis robusta produksi warga Air Tenam menggunakan gelas bambu.

Sambutan masyarakat Desa Air Tenam/Dian Setiawan

Hari kedua kami mengunjungi hutan yang dikelola oleh masyarakat Air Tenam dan hutan lindung tempat pohon-pohon bisa diadopsi. Praktik adopsi pohon ini menarik. Caranya adalah dengan memberikan insentif kepada masyarakat yang akan menjaga dan merawat pohon dan hutan tersebut. Program adopsi pohon ini digagas agar pohon yang sudah tumbuh puluhan bahkan ratusan tahun di hutan tersebut bisa tetap berfungsi secara ekologis terhadap ekosistem di sekitarnya. Di Desa Air Tenam, program adopsi pohon oleh masyarakat ini didampingi Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI.

Saya kemudian memutuskan mengadopsi satu pohon atas nama saya dan memberikan kompensasi berupa uang. Jumlahnya disesuaikan dengan biaya perawatan yang cukup untuk merawat pohon tersebut agar dapat berdiri tegak selama setahun—sampai kuat—di dalam hutan.

Sejuknya hutan yang masih terjaga dilengkapi senda gurau warga yang menemani kami membuat perjalanan selama tiga jam itu tidak terasa.

Kebetulan hari itu juga merupakan hari peluncuran program adopsi pohon di Desa Air Tenam. Pak Sarno, warga yang terlibat dalam program ini, menyambut program adopsi pohon dengan antusias karena merasa perjuangan mereka selama ini dalam menjaga hutan telah mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tinggal di kota.

Sorenya kami bersama warga mengunjungi Air Terjun Air Tenam yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama empat puluh lima menit dari desa. Ketika sampai di air terjun, saya dan teman-teman tidak ragu melompat dan berenang ke kolam alaminya. Sejuknya air dan segarnya udara di hutan yang terjaga membuat kami merasa nyaman untuk menghabiskan sore bersama warga di sini. Sepulang dari air terjun, kami disuguhi buah durian yang masak di pohon. Rasa manis dan legitnya lebih enak dari durian yang biasa saya beli di kota.

Air Terjun Air Tenam/Dian Setiawan

Malamnya kami berkemah di hutan yang tidak jauh dari desa. Saya sempat berbincang dengan seorang nenek bernama Juriah dan seorang ibu bersama Susmi yang selalu menyiapkan makanan kami selama di Desa Air Tenam. Saya dianggap cucu dan anak angkat oleh mereka. Saya pun bercanda meminta mereka memasakkan makanan khusus untuk saya. Dan, benar saja, kedua perempuan baik hati itu membuat makanan spesial berupa sambal ikan sidat, endemik Sungai Ulu Manna yang hanya bisa hidup di sungai berair jernih dan tidak tercemar.

Foto bersama warga saat kemping di hutan/Dian Setiawan

Ketulusan mereka tidak hanya diucapkan melalui kata-kata, tapi sungguh-sungguh dicerminkan dalam tindakan. Saya selalu merasakan kehangatan ketika mengunjungi daerah-daerah di interior Indonesia, menjadi candu yang membuat saya merindukan tinggal di desa. Suasana kekeluargaan yang hangat di hutan bersama tim dan warga serta senda gurau kami malam itu masih terekam jelas dalam ingatan saya hingga saat ini.

Di hari ketiga kami menjelajahi Sungai Ulu Manna dengan arung jeram. Lagi-lagi saya terkesima melihat dinding batu alami di tepi sungai, pohon-pohon, dan tumbuhan dengan warna dan bentuk unik yang memukau mata. Saya betah untuk terus memandangnya. Kadang juga terlihat kera ekor panjang Macaca fascicularis yang duduk di tepi sungai mencari makanan dalam kelompok. Burung-burung pun tidak mau ketinggalan terbang mengitari kami. Meskipun kegiatan arung jeramnya sangat menantang, masyarakat Air Tenam sudah menyiapkan prosedur yang aman untuk pemula karena didampingi pemandu yang profesional.

Menjelajahi sungai dengan arung jeram/Dian Setiawan

Perjalanan empat hari tiga malam ke Desa Air Tenam membuat saya bersyukur, sebab bisa menyaksikan keelokan alam bebas—hutan yang masih terjaga dan udara segar—sebelum kembali ke kota serta mendapatkan keluarga baru yang hangat.

Bagi siapa pun yang membaca cerita ini, jangan lupa untuk menjadikan Air Tenam sebagai salah satu tujuan perjalanan kamu selanjutnya. Jangan takut untuk terus melangkah jauh menjelajahi Indonesia dan hutannya, untuk mengenali masyarakat. Dan jika kamu mengunjungi tempat mereka, jangan lupa untuk ikut menjaga alamnya. Alam dan hutan akan selalu menyertaimu ke mana pun kamu pergi dengan oksigen dan air bersih yang kamu nikmati setiap hari.

Hutan selalu menjadi tempat yang tepat untuk saya pulang, selain kampung halaman saya sendiri. Alam memang tidak pernah berdusta tentang ketulusannya dalam memberi; ini semakin mengasah kepekaan saya. Mendatanginya seolah candu yang tak ingin saya hilangkan. Candu ini membuat saya terus ingin berkontribusi menjaga alam dan hutan dengan berbagai cara.

Sejak kecil hingga remaja hidup berdekatan dengan hutan. Bersemangat untuk berkontribusi menjaga lingkungan dan alam Indonesia.

Diyah Deviyanti

Sejak kecil hingga remaja hidup berdekatan dengan hutan. Bersemangat untuk berkontribusi menjaga lingkungan dan alam Indonesia.
Artikel Terkait
Travelog

Sepakbola dan Perjalanan: Fragmen-fragmen

Travelog

Suatu Malam di Studio Rap Abepura

Travelog

Magang Hari Kedua

Travelog

Bertiga ke Jayapura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *