Pilihan EditorSemasa CoronaTravelog

Aku pun Berjalan (2): Antara Raden Saleh Raya dan Kwitang

Jalan Raden Saleh Raya terkenal dengan restoran-restoran Arabnya, a.l. Al Jazeerah, Al Basha, dan Restoran Raden Saleh.

Ada juga Warunk Upnormal, pelopor penjual mi kekinian, yang menempati gedung tua bekas kediamanan pengusaha perkebunan kaya raya pada 1930-an. Sebelumnya gedung itu ditempati oleh Restoran Oasis yang terkenal dengan jamuan rijsttafel-nya.

Kira-kira dua puluah meter ke arah Timur, dari area parkir RS PGI Cikini, aku bisa melihat sisi Landhuis van Raden Saleh alias bekas rumah Raden Saleh. Bangunan megah yang dikelilingi taman luas yang sekarang jadi rumah sakit itu dibangun tahun 1852 dengan gaya mirip istana-istana di Eropa.

Raden Saleh juga membangun masjid dekat rumahnya pada tahun 1860. Rumah ibadah itu sekarang bernama Masjid al-Makmur Cikini dan posisinya pindah ke pinggiran Kali Ciliwung. Menurut cerita, masjid itu dipindahkan dengan cara diangkat bersama-sama oleh warga Kampung Cikini Binatu. (Kampung ini dinamakan Cikini Binatu karena dahulu warga di sana bekerja sebagai pencuci baju tuan dan nyonya Belanda yang tinggal di Cikini. Pencucian baju itu memanfaatkan air Kali Ciliwung.)

Masjid al-Makmur/Daan Andraan

Ada rumor menarik tentang Jalan Raden Saleh ini. Di era 1990-an sampai 2000-an, jalan ini dikenal sebagai tempat melakukan aborsi ilegal. Konon, kalau ada yang berjalan sendirian di sana, seseorang akan mendekat dan bertanya, “Berapa bulan?” Tentu kalimat itu untuk menanyakan sudah berapa bulan usia kehamilan. Dan bila memang ada niat untuk menggugurkan kandungan, biasanya biaya langsung diberi tahu dan tawar-menawar pun dilakukan. Kalau sudah tercapai kata sepakat, orang itu akan diajak ke “klinik gelap.”

Aku kembali melangkah. Satu kilometer lebih jarak dari pertigaan Cikini-Raden Saleh ke pertigaan Raden Saleh-Kramat Raya telah kutempuh. Di pertigaan Raden Saleh-Kramat Raya ini, di sebelah kanan Hotel Acacia, terdapat gedung kosong bertingkat empat. Bangunan berkapur putih yang sudah kusam dengan halaman penuh puing, tanaman liar, dan tampak menyeramkan itu dulunya adalah Kantor CC PKI, dibangun oleh PKI dengan dana patungan anggotanya tahun 1954. Lima hari setelah kejadian Gestok 1965, gedung itu diserbu, dijarah, dan dibakar oleh massa anti-PKI.

Aku bergidik sendiri membayangkan kejadian itu.

Segera aku teruskan jalan ke arah utara, menyusuri Jalan Kramat Raya yang pada tahun 1811 menjadi jalur pasukan Inggris yang mendarat di Cilincing untuk menyerbu pasukan Prancis yang bertahan di Meester Cornelis, Jatinegara sekarang.

Ketika melewati Jalan Kramat 7, aku teringat pernah menjelajahi wilayah ini bersama komunitas Ngopi Jakarta. Jalan Kramat 7 dan 8 ini pernah menjadi kawasan “pengungsian” warga Kristen Maluku, Minahasa, dan Timor setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945. Mereka pindah ke wilayah Kramat karena dituding pro-Belanda oleh massa anti-Belanda saat itu. Masa setelah kemerdekaan disebut Masa Bersiap dan banyak terjadi kekerasan terhadap orang-orang yang dituding pro-Belanda. Masyarakat Kristen Maluku dan Minahasa paling banyak mendapatkan stigma ini, karena banyak yang menjadi pasukan KNIL. (Di Depok pun pernah ada peristiwa “Gedoran Depok.” Tentu saja kekerasan-kekerasan yang terjadi pada saat itu tidak tercatat dalam buku sejarah yang ada di sekolah-sekolah kita.)

Sambil menyeka keringat, kumantapkan kembali langkahku. Belum kuputuskan untuk mengakhiri perjalanan ini.

Setelah berpuluh-puluh langkah, aku berhenti sejenak untuk mengambil foto rumah tua di Jalan Kramat Raya No. 110. Rumah bergaya kolonial dengan ciri pintu dan jendela besar yang berjumlah banyak dengan halaman luas itu tampak kosong—tapi tetap kokoh. Aku sudah mencari di Google tentang rumah ini tapi tidak mendapatkan informasi apa pun. Mungkin peta lama zaman Hindia-Belanda bisa menjelaskan pernah berfungsi sebagai apa rumah itu.

Tak jauh dari rumah tua yang misterius itu ada Museum Sumpah Pemuda. Gedung ini dulu dimiliki oleh Sie Kong Liang yang kemudian disewakan ke pelajar STOVIA. Tahun 1928 rumah ini dijadikan tempat rapat untuk memutuskan penyelenggaraan Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Dari museum aku berjalan kembali. Sebenarnya aku akan belok ke Jalan Kramat 2, tapi aku melipir dulu sebentar ke Jalan Kramat Raya No. 10 di mana Es Krim Baltic berada—iya, es krim lagi. Es Krim Baltic sudah ada sejak tahun 1939 dan tokonya sekarang berada di antara (sisa-sisa) toko buku bekas Kramat.

Setelah membeli es krim stik rasa stroberi, aku berjalan ke utara, kembali ke arah Jalan Kramat 2. Di Jalan Kramat 2 ini tujuanku adalah Maison Weiner, toko roti tertua di Jakarta.

Roti “sourdough” di Toko Roti Maison Weiner/Daan Andraan

Aku membeli roti sourdough selebar kepala bayi seharga Rp40.000. Selain sourdough ada kue soes, kue bloeder, ontbijtkoek, roem horen, dan roti-roti lainnya dengan resep yang sama dari 84 tahun yang lalu. Toko ini didirikan tahun 1936 oleh Lee Liang Mey, akrab dipanggil Nyonya Gem, yang awalnya adalah pegawai toko roti milik seorang Belanda. Interior Maison Weiner berhiaskan foto-foto lama. Sebuah mesin pengaduk adonan jadul juga dipajang di dalam toko.

Sayup-sayup aku mendengar azan Asar berkumandang. Aku pun kembali berjalan. Tujuanku adalah Masjid al-Riyadh Kwitang yang berada lebih kurang 600 meter dari sini.

Masjid ini menerapkan protokol kesehatan untuk salat berjemaah, a.l. memakai masker, membawa sajadah sendiri, tidak bersalaman, dan menjaga jarak sejauh satu meter. Aku pun menjadi makmum masbuk karena salat telah dimulai ketika aku sampai.

Masjid al-Riyadh Kwitang adalah rumah ibadah yang bersejarah dalam perkembangan syiar Islam di Jakarta. Masjid ini didirikan oleh Habib Ali al-Habsyi bin Habib Abdurrahman al-Habsyi atau yang dikenal dengan sebutan Habib Kwitang sekitar tahun 1938. Beliau juga mendirikan Majelis Taklim Kwitang yang menjadi cikal bakal organisasi-organisasi keagamaan lainnya di Jakarta. Sampai sekarang majelis taklim ini selalu dihadiri ribuan jemaah setiap Minggu pagi. Habib Ali Kwitang diceritakan berteman baik dengan Bung Karno dan menjadi penasihatnya. Beliau juga bermenantukan seorang wanita Indo-Belanda yang masuk Islam bernama Maria van Engels.

Setelah salat dan ziarah ke makam Habib Ali, aku gegoleran sebentar di teras masjid. Ubin masjid yang adem mengubah pemikiranku; kuputuskan untuk mengakhiri perjalanan ini. Tapi, sebelum pulang ada satu tempat lagi yang ingin kudatangi.

Jamu Bukti Mentjos/Daan Andraan

Aku memesan ojol, sebab otot kaki sudah mulai kelelahan setelah berjalan sesiangan ini.

Tak sampai sepuluh menit, pengendara ojol sudah datang lalu mengantarkanku ke tujuan terakhirku, Warung Jamu Bukti Mentjos, Salemba. Walaupun menjual jamu, warung yang berdiri tahun 1950 ini cocok untuk tempat nongkrong anak muda. Tampilan meja panjang berbentuk huruf L dengan latar lemari berisi ramuan jamu—kita juga dapat melihat mbaknya meracik—seperti tampilan bar yang menjual minuman beralkohol. Warung jamu ini pun mengikuti protokol kesehatan.

Pesanan jamu pegel linu-ku pun ditaruh di gelas kertas sekali pakai. Pahit ramuan jamu itu pun langsung menangani pegal lelah seluruh badan.

Dan lirik Lagu Pejalan pun terngiang-ngiang dan kudendangkan. Kita berjalan saja….


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.

Daan Andraan

Lahir bulan September di Jakarta dan suka baca.
Artikel Terkait
Travelog

Pengalaman Mengikuti Upacara Kuningan Tengger

Travelog

Berjalan Menembus Hujan di Jalan Asia Afrika Bandung

Travelog

Kopi, Pejalan, dan Lembayung Bali

Travelog

Piknik bersama Keponakan dan Cucu ke Taman Ade Irma Suryani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *