Pilihan EditorSemasa Corona

Sewaktu Pulang Kerja dengan Kereta

Kereta menjadi medium utama perjalanan saya dalam beberapa tahun terakhir. Dari Jakarta ke kota-kota lainnya di Pulau Jawa sewaktu liburan, dari Depok ke tempat magang semasa kuliah, dan perjalanan yang sudah menjelma rutinitas sejak tahun lalu: dari kantor ke rumah.

Kepraktisan memang yang pertama mendasari pilihan itu. Kantor dan rumah saya dekat dengan stasiun kereta sehingga bisa menghemat ongkos ojek online. Tarif naik kereta antardua stasiun itu pun tidak lebih dari lima ribu rupiah. Alasan ini rasanya juga diperhitungkan oleh ribuan penumpang kereta setiap hari.

Namun, bukan berarti saya terpaksa melakukannya. Alasan pertama telah melahirkan alasan berikutnya, saya menikmati perjalanan dengan kereta. Banyak hal yang bisa diamati karena kemajemukannya. Segala jenis orang menggunakan alat transportasi ini, lantas jadi mencirikan jalur-jalur kereta. Misalnya, kereta yang dipenuhi penumpang dengan tas atau plastik besar tentu berasal dari Stasiun Tanah Abang. Atau, penumpang berpakaian rapi—tetapi tidak terlalu formal—biasanya mengisi kereta jalur Jakarta Kota, terutama Stasiun Gondangdia dan Cikini.

Lebih dari itu, saya diingatkan setiap kali naik kereta dan mengamati para penumpang tersebut: ini bentuk masyarakat, banyak dan berbeda. Melihat apa pun tidak bisa dari sudut pandang saya atau golongan saja, apalagi memaksakan dan menganggapnya yang paling benar. Karena itu, saya selalu berusaha memahami ibu-ibu yang berebut mendahului satu sama lain untuk masuk ke dalam gerbong perempuan. Semua harus dimulai dari hal terkecil, ‘kan?

Satu setengah jam perjalanan pulang kerja dengan kereta juga jadi masa peralihan antara kantor dan rumah bagi saya. Setelah seharian bekerja, saya bisa menggunakan waktu di kereta untuk mencurahkan semua rasa lelah. Mengeluh, mendengarkan lagu, membaca media sosial, melihat jalanan, atau mengamati para penumpang. Mereka pun melakukan hal serupa, dengan wajah capek yang tidak jauh berbeda. Ah, rasanya seperti menemukan kawan-kawan senasib—meski rasa lelah saya mungkin hanya lima persen dari mereka. Lega sekali.

Penumpang Kereta Rel Listrik Commuter Line menunggu kedatangan kereta di peron Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020 via TEMPO/Hilman Fathurrahman

Dengan begitu, energi saya sudah terisi kembali sesampai di rumah. Saya bisa mengobrol bersama orangtua, bertukar kabar dengan beberapa teman, atau melakukan apa pun yang saya suka tanpa terbebani tugas di kantor sekaligus rasa lelah.

Sayangnya, saya kehilangan waktu dan momen perjalanan tersebut sejak sekitar dua bulan lalu.

Kantor saya menerapkan work from home (WFH) bagi para karyawannya sesuai imbauan—akhirnya menjadi aturan—Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan apa pun di rumah akibat pandemi COVID-19. Awalnya, imbauan itu saya anggap sebagai kabar gembira. Saya bisa bangun lebih siang, hemat ongkos, dan punya lebih banyak waktu di rumah. Namun, setelah dijalankan, jam kerja saya justru berubah tidak teratur.

Selama WFH berlangsung, saya tidak punya kewajiban menempuh perjalanan dari kantor ke rumah seperti sebelumnya. Karena itu, mendekati akhir jam kerja, saya terbiasa mengatakan, “Tanggung, deh. Sedikit lagi.” Waktu perjalanan pulang kerja pun berganti menjadi waktu kerja, bahkan beberapa kali sampai tengah malam. Akibatnya, rasa lelah pada hari itu memengaruhi produktivitas saya esok harinya.

Lelah yang bertumpuk, ditambah jenuh melihat pemandangan rumah dan isinya yang itu-itu saja, membuat saya sulit fokus bekerja. Akhirnya, saya bisa menghabiskan setengah hari hanya bengong dan sibuk mengecek ponsel. Setengah hari berikutnya, saya baru mulai menyelesaikan tugas satu demi satu. Siklus jam kerja tidak teratur pun terulang lagi.

Meski perjalanan pulang kantor dengan kereta telah menjadi bagian penting, kini saya gelisah memikirkan nantinya harus kembali melakukan rutinitas itu. Sewaktu COVID-19 mulai parah menyebar di Jabodetabek, sebagian besar penumpang kereta tampak tak acuh. Mereka tetap memegang railing tangga stasiun dengan sembarangan dan berdesak-desakan saat naik atau turun di peron. Kondisi yang sama rasanya bisa langsung terjadi ketika aturan WFH tidak lagi diberlakukan.

Padahal, pencabutan aturan itu bukan menunjukkan pandemi berhasil diatasi, melainkan hanya penyebarannya yang sudah berkurang. Artinya, potensi penularan di masyarakat masih ada. Ini yang membuat saya gelisah. Jika potensi ini kemudian diabaikan, masyarakat pun tidak lagi menjaga jarak satu sama lain, masalah yang sama tentu akan muncul kembali.

Pandemi COVID-19 pada akhirnya akan selesai, lalu lama-kelamaan dilupakan, sama seperti sejumlah wabah yang terjadi sebelumnya. Sayangnya, belum ada yang tahu kapan “akhirnya” itu tiba. Saya mungkin bisa kembali menempuh perjalanan pulang dari kantor ke rumah dengan kereta dalam satu bulan lagi, tetapi entah apakah saya akan menikmatinya, apakah saya akan lega mencurahkan semua rasa lelah, atau justru bertambah gelisah.

Mungkin menyiapkan diri pada berbagai kemungkinan kondisi setelah WFH berakhir jadi langkah terbaik yang bisa saya lakukan saat ini, termasuk meneruskan atau mengganti kereta sebagai medium utama perjalanan saya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Senang menonton serial televisi, membaca novel, jalan-jalan keliling kota, dan mendaki gunung. Ingin selalu berbagi cerita dan menuliskannya.

Andrea Lidwina

Senang menonton serial televisi, membaca novel, jalan-jalan keliling kota, dan mendaki gunung. Ingin selalu berbagi cerita dan menuliskannya.
Artikel Terkait
Semasa Corona

Akhir Perjalanan Tiga Tahun di Kota Istimewa

Semasa Corona

Angkat Ransel Terakhir sebelum Corona

IntervalPilihan Editor

Sepiring Paramaribo di Amsterdam

Pilihan EditorSemasa Corona

Akhirnya Aku Bisa Pulang

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *