Pilihan EditorTravelog

Sebuah Pesan dari Desa Adat Penglipuran

Awal Maret 2020, dengan memanfaatkan miringnya harga tiket pesawat, saya terbang ke Bali. Saya tidak liburan mewah ala turis; di sana saya tinggal di kos kawan lama yang dulu tinggal di Surabaya. Lokasi kos kawan saya berada di Renon, Denpasar. Jadi, tidak terlalu jauh dari Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Setelah mendarat dengan selamat, saya makan di sebuah warung yang menyajikan menu-menu makanan Jawa. Karena saya terlalu lapar, jadi tidak sempat mencari warung yang menjual menu khas Bali.

Kawan saya mengajak mampir ke emperan depan kampusnya. Karena masih jam 6 sore, saya mengiyakan. Saya kira emperan yang ia maksud adalah sebuah angkringan, ternyata tidak. Benar-benar emperan, di depan sebuah kantor bank swasta. Kami duduk di sana, memesan es teh, menikmati suasana Bali di malam hari tetapi tidak mewah seperti di Kuta atau Seminyak. Kami bercerita ini itu sampai perut saya lapar lagi.

Untungnya, di sebelah emperan tersebut ada pasar kaget. Ada para penjual pakaian, aksesori, dan, paling banyak, penjual makanan dan minuman. Saya memutuskan membeli bakso. Sebelum memesan, kawan saya menjelaskan bahwa ada dua jenis bakso yang dijual, yakni bakso sapi dan bakso ayam.

Bakso sapi umumnya dibeli oleh konsumen yang beragama di luar Hindu, sedangkan bakso ayam dibeli oleh mereka yang beragama Hindu. Harganya murah, 10 ribu rupiah satu porsi, dan rasanya enak.

Keesokan hari, saya melanjutkan perjalanan menuju Desa Adat Penglipuran di daerah Bangli. Sepertinya, hampir setiap orang yang berlibur di Bali pasti datang ke desa ini. Saya pun tak kalah penasaran.

Setelah membayar tiket masuk seharga 15 ribu rupiah per orang, kami—saya dan kawan—berjalan santai menyusuri setiap lekuk Desa Adat Penglipuran. Jalan di desa ini naik dan turun dengan landai, dicor rapi dengan batu-batu berukuran sedang di atasnya sehingga tetap terlihat estetis.

Jalan utama Desa Adat Penglipuran/Izzatul Mucharrom

Dahulu, jalanan di desa ini adalah tanah liat. Perbaikan jalan dilakukan sejak adanya potensi pariwisata yang dapat dikelola untuk memperkenalkan budaya dan memberdayakan penduduk Desa Adat Penglipuran. Karena tak ingin mengubah bentuk jalan menjadi terlalu modern, dibuatlah model seperti itu.

Di kanan dan kiri jalan desa yang relatif lurus, terpasang janur kuning (penjor) yang membikin desa ini tampak seperti contoh-contoh gambar perspektif bila dipotret dari sudut yang tepat.

Rumah-rumah penduduk masih mempertahankan gaya tradisional Bali, dengan gerbang klasik yang disebut angkul-angkul. Penduduk desa sepakat untuk mempertahankan bentuk bangunan sebagai upaya pelestarian budaya Bali.

Di depan rumah-rumah penduduk terdapat sanggah, pelinggih (bangunan) untuk meletakkan canang dan dupa, sebuah altar yang biasanya dibebat saput poleng, kain kotak-kotak hitam-putih khas Bali.

Salah satu sanggah di Penglipuran/Izzatul Mucharrom

Desa ini bersih sekali, sampah yang saya temui hanyalah dedaunan yang jatuh secara alami dari dahan-dahan pohon. Tong sampah yang disediakan di sepanjang jalan memilah sampah organik dan non-organik.

Penduduk diberdayakan untuk menjual oleh-oleh khas Bali, seperti pakaian, aksesori, mainan, atau hiasan rumah. Jadi, ketika datang ke Desa Adat Penglipuran, kita bisa membeli minuman, makanan, ataupun buah tangan. Stan-stan tersebut menyatu dengan rumah penduduk asli desa, sehingga desa ini tetap terlihat rapi dan asri.

Saat asyik mengedarkan pandangan, seorang laki-laki berusia senja menghampiri saya. Ia memakai kemeja dan celana kain, bersandal jepit, serta topi biru yang menutupi rambutnya yang telah memutih. Ia menyapa dan bertanya, ”Permisi. Dari mana, Bu?”

Saya tersenyum kepadanya, ”Saya dari Surabaya, Pak.”

Ia melanjutkan pertanyaannya, ”Ada keperluan apa di Bali? Liburan atau kerja?”

“Saya main-main saja kemari, Pak. Kebetulan, teman saya ini tinggal di Denpasar.”

Lalu, saya balik melempar pertanyaan kepada beliau, “Bapak warga asli desa ini?”

Obrolan kami berlanjut. Beliau begitu ceria dan menyenangkan. Yang saya dapatkan dari obrolan tersebut adalah: namanya Wayan Alus, warga asli Desa Adat Penglipuran, suku Bali asli, yaitu Bali Aga.

Wayan Alus sekeluarga melanjutkan pendahulu mereka yang juga tinggal di Desa Adat Penglipuran. Yang diperbolehkan tinggal menetap hanyalah orang asli Desa Adat Penglipuran, dari suku Bali Aga, beragama Hindu, dan dari keluarga yang sejak dahulu sudah tinggal di situ.

Salah seorang putra Wayan Alus merantau dan menikah dengan perempuan Manado beragama Islam. Meskipun tetap memeluk Hindu, putranya tidak diizinkan tinggal di Desa Adat Penglipuran.

Alasannya, putra Wayan Alus tidak menikah dengan sesama penduduk Desa Adat Penglipuran, serta istrinya tidak beragama Hindu. Kini, putra Wayan Alus tinggal di Denpasar dengan keluarga kecilnya. Meski begitu, tak ada masalah yang serius, mereka sama-sama memahami hukum dan aturan adat, dan mereka mematuhinya.

“Kita semua ini sama, kewajiban kita juga sama, melakukan kebaikan. Agama apa pun toh sama, ya; semua mengajarkan kebaikan. Saya Hindu, kamu Muslim, tapi ndak apa-apa, di mata Tuhan kita semua sama,” tutur Wayan Alus.

Penduduk Desa Penglipuran/Izzatul Mucharrom

Saya mengangguk-angguk, kagum dengan apa yang ia ucapkan. Lalu ia melanjutkan, ”Tugas kita sebagai manusia adalah saling toleransi, itu yang paling penting. Orang beda agama tidak masalah, sama-sama berdoa dan meminta. Saya dengan menantu saya beda agama, tak masalah. Saya sangat menghargai toleransi.”

Mata saya berlinang. Iya, toleransi antaragama, itu yang harus kita miliki.

Saya juga baru tahu bahwa ada peraturan adat yang mengatur bahwa penduduk asli Desa Adat Penglipuran tidak diperbolehkan memadu atau menikah lebih dari satu kali. Yang melanggar peraturan adat ini akan diberi hukuman pengucilan. Maksudnya, ditempatkan di sebuah bangunan yang juga disebut memadu.

Mereka yang telah tinggal di memadu tidak diperbolehkan beraktivitas bersama penduduk desa lainnya, juga tidak boleh melintasi jalan utama desa. Itu merupakan hukuman tegas karena telah melanggar peraturan adat.

Tetapi, menurut pengakuan Wayan Alus, belum ada satu pun penduduk Desa Adat Penglipuran yang melanggar peraturan adat tersebut.

Bila ada penduduk desa yang meninggal dunia, mereka tetap melaksanakan ngaben. Jika keluarga memiliki cukup dana, ngaben dapat segera dilaksanakan. Sementara bila keluarga belum memiliki dana, jasad orang yang meninggal dunia dapat dikuburkan di pemakaman.

Letak pemakaman tersebut tidak jauh dari desa. Yang dimaksud dikuburkan adalah meletakkan jasad di atas tanah. Jasad laki-laki diletakkan telentang, sedangkan jasad perempuan diletakkan tengkurap. 

Setelah cukup berbincang, Wayan Alus pamit kembali ke rumahnya. Saya melanjutkan langkah menuju memadu dan hutan bambu. Memadu dikelilingi tanaman-tanaman yang segar dan rapi, menunjukkan bahwa tempat tersebut memang dirawat sebaik mungkin. Dan di ujungnya terdapat pepohonan bambu.

Hutan bambu di Desa Adat Penglipuran berada di jalan penghubung desa ini dengan desa lainnya. Karena itu tak heran bila banyak kendaraan lalu-lalang. Namun, harus saya akui, hutan bambu di sini termasuk luas. Dengan jalanan yang berkelok dan sempit, cocok bila dijadikan tempat berfoto ala anak indie.

Usai menelusuri hutan bambu, saya kembali ke jalan utama desa. Wah, ternyata sudah penuh dengan rombongan mahasiswa yang, setelah saya cari informasi, berasal dari Jogja. Mereka datang seperti koloni semut yang mengerumuni sebuah donat. Saya sampai kesusahan untuk lewat.

Banyak dari mereka yang mengenakan sarung, udeng, atau aksesori lain khas Bali. Pokoknya, mereka berdandan semaksimal mungkin agar terlihat seperti turis. Sebagian besar dari mereka sibuk berfoto dengan berbagai gaya, mulai dari foto selfie hingga foto ala-ala selebgram.

Ada yang merekam video dengan berbagai peralatan—kamera ponsel, mirrorless, hingga DSLR—bahkan ada juga yang live Instagram.

Sampai sini saya baru menyadari, sejak datang kemari saya hanya beberapa kali mengambil foto. Saya terlalu menikmati suasana desa, apalagi ketika berbincang dengan Wayan Alus.

Ah, sangat disayangkan suasana setenang itu harus hancur seketika karena rombongan ini. Tidak bisa disalahkan; mungkin saya yang salah waktu. Dan tidak saya sesali. Sudah saya dapatkan hal yang berharga di desa adat ini.

Kebaikan dan toleransi antaragama, keduanya harus berjalan beriringan, maka hidup ini akan baik-baik saja.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Izzatul Mucharrom

Gemar membaca, begitu tertarik pada dunia tulis-menulis dan jurnalistik, dan pencinta kopi.
Related posts
Travelog

Berbekal Kamera SLR Analog, Menelusuri Jateng-Jatim

Travelog

Pelajaran dari Baduy

Travelog

Kasih Ama Sepanjang Jalan*

Travelog

Idul Fitri, Pram, Rindu, dsb.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *