Di balik kemegahan arsitektur kolonial dan napas sejarah Bandung, kota ini merupakan kawah candradimuka bagi kreativitas kuliner tatar Sunda. Dari sekian banyak kudapan yang lahir di sini, satu nama telah bermutasi dari jajanan pinggir jalan menjadi fenomena nasional, bahkan global: seblak. Namun, di balik sensasi kenyal dan uap pedas yang menggugah selera, tersimpan riwayat panjang yang melampaui sekadar tren street food modern.
Akar sejarah seblak ternyata membentang melampaui batas administratif Kota Kembang. Jejak kuliner serupa telah ditemukan di Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, sejak era 1940-an dengan nama “kerupuk godog”. Terdapat perbedaan mendasar pada bahan bakunya. Jika versi Sumpiuh menggunakan kerupuk udang yang direbus, inovasi di Bandung dan Cianjur justru memopulerkan penggunaan kerupuk aci.
Di Cianjur dan Garut, eksistensi kerupuk léor—penggunaan kerupuk aci bertekstur lemas (ngaléor)—dilaporkan sudah eksis sejak zaman prakemerdekaan. Kreasi ini muncul sebagai solusi kreatif akibat krisis pangan di era kolonial. Fenomena serupa juga ditemukan di Ciamis melalui variasi lokal, seperti kulub babanggi atau belekem, yang menerapkan teknik perebusan kerupuk serupa sebagai alternatif kudapan masyarakat setempat.
Dengan demikian, boleh dikata seblak adalah “makanan bertahan hidup” bagi masyarakat dengan ekonomi rendah. Apa yang kini kita nikmati sebagai gaya hidup modern, dulunya merupakan manifestasi ketahanan pangan sederhana yang lahir dari keterbatasan, membuktikan kelezatan kerap muncul dari upaya manusia untuk tetap berdaya di masa sulit.
Kehadiran seblak adalah bukti nyata kecerdikan masyarakat Sunda dalam mengolah bahan makanan dengan prinsip nol sampah. Alih-alih membuang sisa kerupuk aci yang tidak sempat digoreng atau sudah melempem, masyarakat mencari cara agar bahan tersebut tidak terbuang sia-sia. Dengan teknik memasak yang berbeda, bahan sederhana ini ditransformasikan menjadi hidangan yang memiliki nilai rasa baru yang lebih dalam.


Kekuatan Identitas dalam Karakter Rasa
Seblak adalah manifestasi nyata daya cipta dari Bandung. Hidangan ini bukan sekadar tren rasa pedas yang bersifat sesaat, melainkan sebuah fenomena gastronomi yang berhasil menembus batas administratif, kelas sosial, hingga sekat budaya global.
Memahami sejarah seblak merupakan upaya penting untuk menghargai sebuah narasi ketahanan pangan. Popularitasnya saat ini membuktikan bagaimana kreativitas yang lahir dari keterbatasan ekonomi mampu melahirkan karya kuliner yang tetap relevan bagi lidah modern. Maka, penting kiranya menyelisik pemaknaan terhadap akar linguistik dan karakter rasa yang mendefinisikannya secara fundamental.
Secara etimologis, istilah “seblak” menyimpan kedalaman sensorik yang mencerminkan pengalaman saat menyantapnya. Berdasarkan Kamus Basa Sunda (2006), seblak atau nyeblak merujuk pada sensasi hati yang tersengat saat teringat sesuatu yang kurang mengenakkan. Namun, dalam disiplin gastronomi, kata ini merupakan akronim dari segak dan nyegak, dua istilah bahasa Sunda yang mendeskripsikan aroma serta rasa yang menyengat dan menusuk hidung.
Karakteristik menyengat ini tidak semata-mata dihasilkan oleh cabai, tetapi formula bumbu yang membentuk identitas autentik seblak melalui perpaduan tiga elemen kunci, yang meliputi kerupuk aci berbahan baku tepung tapioka—direbus hingga mencapai tekstur lemas namun kenyal (ngaléor)—serta penggunaan bawang merah dan bawang putih sebagai fondasi yang memperkuat dimensi rasa gurih alami.
Namun, yang paling penting adalah kehadiran kencur (cikur) sebagai “jiwa” dari seblak. Rempah ini memberikan karakter rasa yang earthy, tajam, dan kesegaran gurih nan unik, yang membedakannya dari sekadar tumisan pedas biasa. Mengenai inovasi pengolahan kerupuk aci yang tidak biasa ini, Prof. Murdijati Gardjito dkk1 mencatat:
“Seblak adalah inovasi kuliner yang berasal dari Kota Kembang, yaitu pengolahan kerupuk (berbahan dasar aci) dengan cara yang tidak biasa. Jika pada umumnya, kerupuk dinikmati dengan cara digoreng terlebih dahulu dan disajikan sebagai pelengkap makanan, maka oleh orang Bandung, kerupuk dinikmati dengan cara direbus hingga lunak, kemudian ditumis dengan aneka macam bumbu”.
Berdasarkan uraian tersebut, pengertian seblak sejalan dengan definisi KBBI V: “makanan khas yang terbuat dari kerupuk mentah yang direndam hingga kenyal, biasanya dicampur dengan bakso, ceker, dan sebagainya, serta dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, kencur, dan cabai”.


Rahasia Komposisi dan Diversifikasi Varian
Banyak orang salah kaprah menganggap kunci utama seblak adalah ledakan rasa pedasnya. Bagi foodie sejati, “jiwa” dari hidangan ini adalah aroma kencur yang earthy, tajam, dan memberikan kesegaran yang unik. Dalam tradisi bumbu Sunda, kencur adalah elemen penting yang memberikan karakter gurih yang menonjol dan membedakannya dari tumisan pedas biasa.
Untuk menjaga kemurnian rasa autentiknya, bumbu dasar seblak harus diracik dengan komposisi yang tepat: bawang merah, bawang putih, garam, penyedap rasa, dan tentu saja kencur. Untuk urusan cabai, para ahli masak menyarankan penggunaan cabai rawit demi mendapatkan sengatan pedas yang kuat, yang dipadukan dengan cabai keriting untuk menghasilkan warna kuah merah merona yang menggoda secara visual. Kombinasi rempah ini harus ditumis hingga harum aromatiknya keluar sebelum dipadukan dengan bahan lainnya.
Sejak viral tahun 2000-an, seblak telah menempuh perjalanan evolusi yang luar biasa. Berawal dari sekadar kerupuk basah berbumbu, kini seblak tampil sebagai hidangan modern dengan aneka pugas yang memanjakan lidah—mulai dari ceker ayam, bakso, sosis, daging sapi, jamur, hingga mi. Transformasi ini membuat seblak tetap relevan dan mampu melakukan ekspansi budaya dari Jawa Barat merambah ke Jakarta, Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan luar Jawa.
Seiring perkembangannya, pedagang makin kreatif menggunakan berbagai bahan baku sebagai pelengkap seblak. Kini, kita bahkan menjumpai seblak ramen yang memadukan unsur kuliner Jepang, hingga seblak tteokbokki yang mengadopsi cita rasa Korea. Inovasi bahan ini secara signifikan mendongkrak popularitas seblak di masyarakat, terutama kalangan generasi muda.
Menurut penelitian, tercatat 92% responden milenial pernah mencicipi seblak. Seblak memiliki daya tarik tersendiri bagi generasi milenial terhadap kuliner tradisional. Selain itu, tren ini terbukti mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat.2
Salah satu daya tarik seblak bagi generasi muda adalah adaptasi sistem level kepedasan. Penggemar seblak dapat menyesuaikan ambang batas toleransi rasa pedas mereka, mulai dari level 0–5, bahkan mencapai level 7 bagi para petualang rasa. Inovasi level kepedasan yang diukur dari jumlah sendokan sambal ini menjadikan seblak bukan sekadar makanan, melainkan sebuah tantangan kuliner yang seru untuk dinikmati bersama.


Namun, seberapa pun meriahnya topping yang menyertai, kesempurnaan fondasi seblak tetap bertumpu pada tekstur kerupuk itu sendiri. Menciptakan kerupuk yang kenyal namun tidak hancur menuntut ketelitian pada detail kecil dalam proses memasaknya. Banyak orang gagal karena kerupuk berakhir terlalu keras atau justru menjadi bubur yang terlalu lembek.
Aturan emas pertama adalah proses perendaman; pastikan kerupuk oren mentah direndam dalam air hangat selama kurang lebih 20 menit sebelum mulai dimasak. Tujuannya untuk melunakkan serat kerupuk sehingga tidak membutuhkan waktu perebusan yang lama.
Aturan emas kedua: urutan memasak. Masukkan kerupuk yang telah direndam pada tahap paling akhir setelah bumbu dan bahan protein lainnya matang. Detail teknis ini menjamin kesempurnaan tekstur seblak yang nikmat saat disantap.
Namun, ada satu hal terpenting yang harus diwaspadai: dampak kesehatan. Di balik sensasi pedasnya yang nagih, makan seblak berlebihan—apalagi versi instan yang sangat pedas—ternyata menyimpan risiko kesehatan. Jika tidak dibatasi, kegemaran makan seblak pedas dapat memicu masalah pencernaan serius, mulai dari lambung perih (gastritis) hingga GERD. Selain itu, kandungan garam, MSG, minyak, dan karbohidrat rendah gizi yang tinggi di dalamnya juga mengintai kesehatan jantung, ginjal, serta meningkatkan risiko obesitas jika dikonsumsi terus-menerus.3


Seblak di Panggung Global
Pada tahun 2025, seblak mencapai titik kulminasi dalam ekspansi budayanya dengan menjadi tren viral di Thailand. Melalui platform TikTok, konten kreator internasional seperti @TheChanisara memicu gelombang ketertarikan global. Daya tarik utamanya terletak pada eksotisme tekstur yang unik serta antusiasme yang timbul dari perpaduan rasa pedas-gurih yang belum pernah ditemui sebelumnya dalam khazanah kuliner global.
Seblak, dengan demikian, telah menempuh perjalanan panjang hingga panggung global. Dari Sumpiuh hingga Cianjur, dan akhirnya menemukan panggung utamanya di Bandung, seblak membuktikan bahwa inovasi yang lahir dari keterbatasan dapat menjadi sebuah legenda budaya yang dicintai.
Seblak adalah bukti autentik bahwa kuliner merupakan arsip sejarah yang hidup. Ia bukan sekadar tren rasa pedas yang membakar lidah, melainkan manifestasi dari daya tahan, kecerdikan, dan ketangguhan manusia dalam menghadapi masa-masa sulit. Setiap suapan seblak mengandung makna mendalam tentang penyelamatan bahan pangan (zero waste) dan dinamisme identitas budaya Sunda yang adaptif terhadap zaman.
Sebagai sebuah “legenda” gastronomi Nusantara, seblak mengajarkan kita bahwa inovasi yang lahir dari keterbatasan dan penghormatan terhadap akar budaya akan selalu menemukan relevansinya, baik di meja makan sederhana maupun di panggung dunia.
- Murdijati Gardjito, Heni Pridia Rukmini Sari, Marosimy Millaty, Kuliner Sunda Nikmat Sedap Melegenda (Yogyakarta: UGM Press, 2019). ↩︎
- Stefanie P. Atteng, Fransiska Maria A. Nana, Rossa Kamila, Izma Aliyyatussaadah, dan Rahayu Setio Asih, “Tren Kuliner Seblak Sebagai Faktor Pendukung Perekonomian Masyarakat di Era Milenial”, De Cive: Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 1 No. 3, Maret Tahun 2021 (Hal. 73–78). https://journal.actual-insight.com/index.php/decive/article/view/289/272. ↩︎
- Halodoc, 2026, Maret 2, “Suka Seblak? Hati-hati, Ini Bahaya Makan Seblak!”, https://www.halodoc.com/artikel/suka-seblak-hati-hati-ini-bahaya-makan-seblak?srsltid=AfmBOooc7A7eQAEBs4r7gqFVkMp-RTNikreuIxHC1MKmwYv55z7-11z1. ↩︎
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia


