TRAVELOG

“Ngaha Aina Ngoho”, Cara Orang Labu Sawo Menjaga Laut

Labu Sawo bukan nama yang datang dengan gegap gempita. Dusun yang terletak dari pulau-pulau terluar ini tidak menawarkan sensasi, tidak pula menjual janji-janji visual yang sering jadi alasan orang berangkat. Justru dari kesederhanaannya, tempat ini seperti menyimpan sesuatu yang tidak buru-buru ingin dipahami.

Perjalanan ke dusun kecil di utara Sumbawa ini lebih banyak digerakkan oleh rasa ingin tahu yang sulit dijelaskan sejak awal. Kawasan Samota, yang terdiri dari Saleh, Moyo, dan Tambora, sering dibicarakan sebagai lanskap besar dengan potensi yang terus didorong ke permukaan. Namun, di sela narasi itu selalu ada ruang-ruang kecil yang berjalan dengan caranya sendiri.

Samota merupakan Kawasan Strategis Cepat Tumbuh yang mengintegrasikan potensi wisata bahari, pegunungan, dan agroindustri. Wilayah ini juga bukan sekadar istilah dalam dokumen pembangunan, melainkan juga lanskap nyata yang menyatukan laut, pulau, dan gunung dalam satu garis cakrawala.

Dua nelayan sedang beraktivitas di atas perahu kayu di pesisir Labu Sawo (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Dua nelayan sedang beraktivitas di atas perahu kayu di pesisir Labu Sawo, Desa Penyaring saat siang hari/Adipatra Kenaro Wicaksana

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat pesisir di wilayah timur Indonesia sebelumnya menyisakan satu kesan yang terus berulang. Ternyata laut tidak pernah benar-benar bisa dimiliki sepenuhnya. Ia hanya digunakan secukupnya, lalu ditinggalkan tetap utuh sejauh yang mereka mampu jaga.

Kesan serupa kembali terasa di Labu Sawo, ketika saya ada tugas berkunjung ke sana. Namun, dengan bentuk yang lebih sunyi dan tidak banyak dijelaskan. Gerak tangan para nelayan, cara jaring ditarik perlahan, hingga keputusan untuk tidak melaut terlalu jauh ketika tanda-tanda alam berubah, memperlihatkan adanya batas yang dipahami bersama. Batas itu tidak tertulis, tetapi hidup dalam kebiasaan. Masyarakat setempat mengenalnya melalui satu prinsip sederhana, yakni “ngaha aina ngoho”. Secara harfiah berarti “makan, jangan dihabiskan.”

Namun, di Labu Sawo, maknanya melampaui sekadar nasihat. Ia bekerja sebagai cara hidup mengatur jarak antara kebutuhan dan keinginan, antara mengambil dan menjaga, serta memastikan bahwa laut tetap bisa memberi tanpa harus dikuras habis.

Perahu-perahu nelayan bersandar di pesisir Labu Sawo (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Perahu-perahu nelayan bersandar di pesisir Labu Sawo/Adipatra Kenaro Wicaksana

Laut yang Tidak Pernah Dianggap Milik Sendiri 

Dari prinsip yang hidup tanpa banyak diucapkan itu, keseharian di pesisir Labu Sawo bergerak dalam ritme yang nyaris tak berubah. Bukan waktu yang memulai pagi hari, melainkan aktivitas yang sudah berulang begitu lama hingga terasa seperti naluri. Perahu merapat satu per satu, jaring diangkat tanpa tergesa, lalu hasil tangkapan berpindah tangan sebelum akhirnya terbentang di atas pasir.

Tongkol, kakap, dan cumi-cumi disusun rapi di atas anyaman bambu, dijemur di bawah matahari yang perlahan meninggi. Setiap gerakan dilakukan dengan ketelitian yang sama, seolah tidak ada ruang untuk berlebihan.

Tidak ada yang terbuang, tidak ada yang dipaksakan. Hasil tangkapan hari itu tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dimaksimalkan tanpa batas. Ada kesadaran yang bekerja diam-diam bahwa apa yang diambil hari ini harus menyisakan ruang untuk esok.

Dari titik inilah, ngaha aina ngoho tidak lagi terdengar sebagai ungkapan, melainkan terbaca sebagai praktik tanpa masyarakat sadari. Bekerja pelan, menyusup ke dalam keputusan-keputusan kecil yang nyaris tak dianggap penting. 

Pilihan untuk tidak melaut terlalu jauh saat tanda alam berubah, misalnya, bukan semata soal keselamatan, melainkan juga bentuk pengenalan batas. Batas antara yang bisa diambil dan yang sebaiknya dibiarkan. Dalam keseharian nelayan, batas itu tampak dari cara mereka memperlakukan hasil tangkapan. 

Toko di sudut kampung yang juga menyediakan cooling box untuk menyimpan ikan hasil tangkapan nelayan (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Toko di sudut kampung yang juga menyediakan cooling box untuk menyimpan ikan hasil tangkapan nelayan/Adipatra Kenaro Wicaksana

Ikan tidak ditumpuk berlebihan untuk mengejar jumlah, tetapi disesuaikan dengan kemampuan olah dan kebutuhan. Proses pengeringan, pembagian, hingga distribusi berjalan dalam skala yang terukur bukan karena keterbatasan, melainkan karena kesadaran akan siklus.

Ngaha aina ngoho, dalam konteks ini, tidak berdiri sebagai larangan keras, tetapi sebagai mekanisme yang secara langsung menjaga keseimbangan. Ia membentuk cara pandang bahwa laut bukan ruang kosong yang bisa terus diisi ulang tanpa konsekuensi. Ada waktu ketika laut memberi lebih, dan ada saat ketika ia perlu “dibiarkan bernapas”.

Kesadaran itu juga memengaruhi relasi antarmasyarakat. Hasil tangkapan tidak sepenuhnya diposisikan sebagai capaian individual, melainkan bagian dari aliran bersama. Informasi tentang kondisi laut, musim tangkap, hingga pergerakan ikan tersebar melalui percakapan sehari-hari, bukan untuk bersaing, melainkan untuk saling menyesuaikan.

Dalam kerangka yang lebih luas, perilaku ini menunjukkan bentuk pengetahuan ekologis yang terbangun dari pengalaman panjang. Tanpa istilah teknis atau pendekatan formal, masyarakat pesisir di Labu Sawo telah mengembangkan cara menjaga keberlanjutan melalui praktik yang sederhana, tapi konsisten.

Ngaha aina ngoho kemudian menjadi semacam kompas yang tidak terlihat. Tidak mengatur secara langsung, tetapi mengarahkan. Tidak memaksa, tetapi membentuk kebiasaan. Dan justru karena ia tidak selalu disadari sebagai sesuatu yang besar, prinsip ini bertahan hidup dalam tindakan, bukan sekadar dalam kata.

Deretan perahu bercadik milik nelayan Labu Sawo (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Deretan perahu bercadik milik nelayan Labu Sawo. Saksi bisu kegigihan masyarakat pesisir menjaga kehidupan dengan alam/Adipatra Kenaro Wicaksana

Cukup, Bukan Kurang

Gagasan tentang “cukup” di banyak tempat sering terdengar seperti garis akhir penanda bahwa sesuatu berhenti di titik yang sempit. Namun, di Labu Sawo, kata itu justru bekerja sebaliknya. Bukan batas yang membatasi, melainkan batas yang dipilih untuk dijaga. Cukup tidak hadir sebagai kekurangan, tetapi sebagai ukuran yang disepakati secara diam-diam.

Dari bawah matahari yang mulai naik, seorang nelayan paruh baya berdiri di samping perahunya. Tangannya sibuk merapikan jaring, sesekali berhenti untuk memastikan tidak ada yang tersangkut atau robek. Tidak ada tergesa, tidak pula upaya untuk mempercepat.

Perahu yang beliau gunakan tidak penuh. Hasil tangkapan hari itu cukup, tapi tidak berlimpah. Bahkan beliau tidak terlihat mencoba menambah satu putaran lagi ke laut. Dari banyaknya tempat, situasi seperti itu mungkin dianggap sebagai peluang yang belum dimaksimalkan. Namun, di Labu Sawo, keputusan untuk berhenti justru menjadi bagian dari cara bertahan.

Ritmenya bisa dibaca dari hal-hal yang sederhana. Hasil tangkapan tidak dikejar hingga melampaui kemampuan olah. Perahu tidak selalu berangkat hanya karena laut terlihat tenang di permukaan. Ada jeda-jeda kecil yang sengaja diambil, seolah memberi ruang bagi sesuatu yang tidak kasatmata untuk tetap berlangsung.

“Cukup” dalam konteks ini bukan ukuran yang kaku. Ia lebih menyerupai kesadaran yang terus disesuaikan antara kebutuhan, kemampuan, dan kondisi laut yang tidak selalu sama. Ngaha aina ngoho bekerja tepat di ruang itu. Tidak hadir sebagai aturan yang membatasi secara keras, tetapi sebagai pengingat yang membentuk kebiasaan. Nelayan memilih kembali saat hasil sudah dirasa memadai, bukan ketika laut benar-benar berhenti memberi. Ikan yang didapat diolah sesuai kebutuhan, tidak ditumpuk tanpa tujuan.

Bahkan dalam situasi ketika laut terlihat “ramah”, tidak semua peluang diambil. Ada jarak yang sengaja dijaga. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itu, “cukup” perlahan berubah menjadi prinsip yang mengakar. Ia menjaga agar relasi dengan laut tidak berubah menjadi eksploitasi.

Sejauh ini, masyarakat masih berusaha menjaga keseimbangan. Kegiatan bersama, cara mereka mengelola hasil tangkapan, hingga relasi sosial yang terjalin, semuanya masih berpijak pada prinsip yang sama: jangan habiskan apa yang memberi kehidupan.

Ngaha aina ngoho tidak datang sebagai kalimat yang perlu dihafal. Justru di cara hidup yang tenang dan nyaris tak terdengar itu, hubungan antara manusia dan alam menemukan bentuknya yang paling utuh.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
“Montolutusan” di Tanah Karst, Menelusuri Kehidupan Masyarakat Luwuk-Banggai