TRAVELOG

Kampung Lele Boyolali: Pagar Sawah yang Berdampak Besar bagi Warganya

Mampus aku! Jentik-jentik kolam depan rumah makin banyak, begitu juga dengan para emaknya yang kian hari menganggu orang serumah buat menghisap darah. Nyamuk kurang ajar!

Kedatangan nyamuk beserta jentik-jentik itu bermula usai panen lele di kolam depan rumahku menjelang Idulfitri. Kolam menjadi kosong tak terisi, kecuali genangan air sisa panen. Memang tak mengenakkan jika ada genangan air yang dibiarkan lama, karena pada akhirnya bakal jadi sarang nyamuk dan jentik-jentiknya. 

Hal itulah yang akhirnya membuat kami—aku, Aji, dan ibuku—berencana mengisi lagi kekosongan kolam dengan menebar bibit lele yang baru. Sabtu sore (18/4/2026) kami berangkat bersama menuju Kampung Lele, salah satu dusun di Kecamatan Sawit yang terkenal dengan budi daya ikan lelenya.

Gapura masuk Kampung Lele Boyolali (Dolan Boyolali TV)
Gapura masuk Kampung Lele Boyolali/Tangkapan layar video YouTube Dolan Boyolali TV

Kolam-kolam Ikan yang Terbentang

Setelah beberapa waktu perjalanan berlalu, akhirnya kami pun sampai di Kampung Lele. Lokasinya di Dukuh Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kabupaten Boyolali. Tampak pemandangan sawah-sawah yang tak terisi padi ataupun tanaman lainnya. Bila ada orang yang pertama kali lihat pun pasti bakal keheranan. 

Weh! Tak kira sawah, ternyata isinya kolam semua,” lontar Ibuku. Jika dilihat dari Google Maps, akan terlihat jelas sebuah dusun kecil dengan rumah para penduduk yang diapit lahan luas berisi kolam-kolam. Tak heran jika dinamakan Kampung Lele.

Kami mendatangi rumah salah satu warga, yakni Pak Hardjono, pelaku budi daya ikan lele dan penjual bibit, pakan, serta produk olahan ikan lele. Cukup mudah menemukan rumahnya. Jika masuk melalui gapura sebelah barat, lurus saja ke arah timur sekitar 700 meter. Sebuah plang biru di kiri jalan akan menjawab pencarian itu.  

Kami dipersilakan mengunjungi pekarangan rumahnya. Kami pesan 1.000 bibit ikan lele. Bersama istrinya, Ibu Sulastini—-setelah menyambut kami—Pak Hardjono lantas segera mencari wadah dan menghitung bibit lele.

Pak Hardjono dan Bu Sulastini sedang menghitung bibit lele (Danang Nugroho)
Pak Hardjono dan Bu Sulastini sedang menghitung bibit lele/Danang Nugroho

Berangsur-angur cahaya matahari mulai memudar. Karena malam hampir tiba, Pak Hardjono harus ke kolam untuk memberi pakan lele di lahannya. Kami pun diajak.

Sore yang kian menghilang tidak sebanding dengan semangat Pak Hardjono. Ia masih gesit menebarkan pelet ke kolam-kolam miliknya. Begitu juga semangat mengedukasinya. Tidak ada “enggak usah tanya”, tetapi “tanya saja yang banyak nanti saya jawab.” Itu yang membuat kami bersemangat belajar darinya..

Pak Hardjono tidak setengah-setengah soal ilmu budi daya ikan lele, baik dalam belajar maupun mengedukasi. Pak Hardjono pernah disekolahkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan memiliki sertifikasi di bidang pertanian ikan. Bahkan ia memperbolehkan jika ada siswa praktik kerja lapangan (PKL), mahasiswa magang, dan mahasiswa yang sedang skripsi. Tak hanya itu, ia juga sering mengisi acara-acara mengenai pembudidayaan ikan lele.

Pak Hardjono memiliki 24 kolam di lahannya. Masing-masing kolam diisi 1.200 ikan lele. Satu siklus panen lele berlangsung 3–4 bulan dengan modal 18 juta. Hasil kotor panennya bisa 22–23 juta per kolam. Menggiurkan? Tentu, tapi ada ilmu dan ketekunan di balik angka itu.

Pak Hardjono sedang memberi pakan untuk ikan lelenya (Danang Nugroho)
Pak Hardjono sedang memberi pakan untuk ikan lelenya/Danang Nugroho

Sejarah Kampung Lele Boyolali

Sebelum menjadi seperti sekarang, Pak Hardjono tetap tak melupakan sejarah seseorang yang berjasa dalam hidup dan kampungnya. Kisah itu bermula dari seorang guru yang mencoba-coba budi daya ikan lele. Namanya Pak Daryadi, guru di SMPN 2 Teras.

Awalnya, budi daya itu dicoba lewat bak mandi rumah. Dari situ Pak Daryadi berhasil hingga panen. Jualnya masih di pasar terdekat. Kemudian setelah itu muncul ide dengan dua temannya untuk mencoba budi daya ikan lele di sawah.

Mengapa di sawah? Karena waktu itu lahan pertanian dirasa kurang menjanjikan. Selain itu, ada juga masalah yang terjadi di sawah. Banyaknya ayam, kambing, dan tikus yang masuk ke area sawah untuk memakan padi menyebabkan kerugian panen.

Atas dasar itu, lahirlah ide untuk memagari sawah dengan kolam yang diisi ikan lele. Dengan adanya kolam-kolam itu, berangsur-angsur selama tiga bulan lele itu bisa tumbuh sampai panen. Dan setelah dihitung-hitung, ternyata penghasilan dari ikan lele lebih besar dari pada menanam padi di sawah. 

Lantas, Pak Daryadi mulai membuat kolam persegi panjang yang lebih besar. Bukan seperti sebelumnya yang hanya kolam memanjang sebagai pagar di sisi sawah. Awalnya banyak orang yang belum yakin dan takut tidak ada pasar yang menerima. Namun, karena keyakinan dan ketekunan Pak Daryadi, akhirnya ia mendapat untung yang lumayan. Perlahan, warga lain mulai mengikuti jejaknya untuk budi daya ikan lele di sawah.

Hamparan lahan berisi kolam-kolam ikan lele di Kampung Lele Boyolali (Dolan Boyolali TV)
Hamparan lahan berisi kolam-kolam ikan lele di Kampung Lele Boyolali/Tangkapan layar video YouTube Dolan Boyolali TV

Akan tetapi, mengikuti jejaknya tidaklah mudah. Tahun 1997–1998 Indonesia menghadapi krisis moneter yang berdampak pada kenaikan harga pakan lele. Meski demikian, mereka tetap bertahan dengan solusi meminjam modal ke bank agar lele tetap bisa makan.

Namun, masih ada masalah lagi. Saat itu bank belum terlalu yakin apakah hasil budi daya lele di sana bisa mengembalikan utang mereka. Buktinya, kala itu ada dua proposal yang diajukan ke bank, yaitu ternak ayam dan lele. Namun, modal pinjaman usaha ternak ayam lebih cepat dicairkan. Untungnya masih ada bank lain (BPR) yang mau memberi pinjaman, sehingga budi daya lele tetap bisa dilanjutkan. 

Karena budidaya bisa terus berlanjut, pada 2006 warga kampung bisa menghasilkan tujuh ton ikan lele per hari. “Itu sebaiknya jangan pakai Dusun Mangkubumen lagi, karena satu hari sudah punya produk lele segar tujuh ton. Sebaiknya diberi nama Kampung Lele saja,” ujar Pak Hardjono menirukan pernyataan Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah saat itu.

Sejak itulah Dusun Mangkubumen berubah penyebutan menjadi Kampung Lele sampai sekarang. Menurut Pak Hardjono, budi daya ikan lele sangat memengaruhi ekonomi masyarakat di sana.

Deretan kolam ikan lele milik Pak Hardjono (Danang Nugroho)
Deretan kolam ikan lele milik Pak Hardjono/Danang Nugroho

Dampak Ekonomi dan Harapan Warga Kampung Lele

Siapa sangka, yang dulu awalnya hanya membuat kolam untuk pagar sawah agar tak dimasuki hewan, kini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga di Kampung Lele. Penyerapan tenaga kerja tinggi, hasilnya pun tinggi.

“Di sini itu ibarat hidup di desa [tapi] penghasilan kota. Buruh kasar pun penghasilannya tinggi,” ungkap Pak Hardjono.

Di Kampung Lele, semua warganya usaha budi daya ikan lele. Terdiri dari tiga RT dengan jumlah warga sekitar 125-an KK. Di antara mereka ada yang usaha budi daya hanya untuk sambilan, yang bahkan pendapatannya bisa lebih besar dari pekerjaan utama. Sistemnya pun sudah terbentuk, mulai dari sumber pembelian bibit dan pakan, hingga tujuan atau sasaran penjualan.

Selain Mangkubumen, budi daya lele juga merembet ke kecamatan tetangga, seperti Banyudono, Teras, dan Klaten. Namun, pelakunya tetap orang-orang dari Kampung Lele. Tidak hanya budi daya, terdapat juga kelompok yang menjual produk jadi dari olahan lele yang dihasilkan ibu-ibu PKK, seperti abon dan keripik. Sasaran penjualannya toko-toko oleh-oleh di jalan raya Solo–Jogja.

Pak Hardjono berharap, budi daya ikan lele bisa bertahan sampai anak cucu kelak, agar mereka tidak hanya tahu akan sejarahnya, tetapi juga menjadi pelaku yang meneruskan pendahulunya. Katanya, untuk mempertahankan ekosistem yang sudah terbentuk, jangan sampai memakai obat untuk budi daya, karena ditakutkan terjadi degradasi lahan dan penyakit pada ikan lele.

Bibit lele depan rumahku saat pagi hari usai diberi pakan pelet (Danang Nugroho)
Bibit lele depan rumahku saat pagi hari usai diberi pakan pelet/Danang Nugroho

Menurut Pak Hardjono,  jika lele terkena penyakit aeromonas atau penyakit lainnya, hanya ditabur garam saja sudah cukup, dengan dosis setengah kilogram per meter kubik. Jika kolamnya beralas tanah, pemberian garam dengan cara ditabur Namun, jika kolam dari terpal maka harus dilarutkan terlebih dahulu. Masyarakat tidak perlu menggunakan obat-obatan khusus karena akan merusak kualitas ikan lele.

“Obat itu berbahaya. Merusak daging lele, merusak ekosistem, dan banyak lagi,” ungkap Pak Hardjono.

Usai memberi pakan lele, kami kembali ke rumah Pak Hardjono untuk menemui Bu Sulastini yang sudah menghitung biaya 1.000 bibit lele pesanan kami. Setelah membayar, kami pamit pulang ke rumah. Sebab, bibit lele harus segera dipindahkan ke kolam depan rumahku.

Di perjalanan pulang, aku membayangkan kolam di rumah sembari berkata, “Mampus kau, jentik-jentik! Nanti kalian nggak bisa hidup di kolam depan rumahku lagi dan emakmu nggak menghisap darah orang serumah lagi!”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Danang Nugroho

Danang Nugroho, lahir 2004 di Boyolali. Kini sedang menempuh pendidikan di Jogja. Suka berkelana serta menikmatinya. Dapat dihubungi via instagram @danang.kulo_real atau email [email protected].

Danang Nugroho

Danang Nugroho, lahir 2004 di Boyolali. Kini sedang menempuh pendidikan di Jogja. Suka berkelana serta menikmatinya. Dapat dihubungi via instagram @danang.kulo_real atau email [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Dari Juwana ke Jogja: Peluh untuk Menjual Bandeng Presto (1)