Di kampung lawas Nusukan, Kota Surakarta, saya berfokus utama melacak makam keluarga Raden Ngabehi (R.Ng). Prodjosoekemi di Astana (makam) Bibis Luhur dan Astana Ngadisono. R.Ng. Prodjosoekemi merupakan pionir seni ukir Jepara sekaligus arsitek kepercayaan Ir. Thomas Karsten dan keluarga Mangkunegaran.
Masing-masing kompleks makam berjarak sekitar satu kilometer. Tidak butuh waktu lama untuk berpindah lokasi, hanya saja luasnya wilayah dan banyaknya makam jadi sedikit penghalang., ekspedisi saya mulai.
Berbekal dua foto nisan makam dari Pandu—seorang rekan yang notabene cicit dari R.Ng. Prodjosoekemi—saya memasuki gapura berinskripsi Astana Bibis Luhur, lalu nantinya berakhir di Astana Ngadisono. Berdasarkan informasi dari keluarga, anak keturunan Prodjosoekemi diketahui dimakamkan di dua kompleks makam tersebut.


Sang Pionir Seniman Ukir Jepara
Masa lalu R.Ng. Prodjosoekemi bagai pahlawan yang tidak ingin dikenali dan tidak ingin mendapat tanda kehormatan negara. Tidak ditemukan catatan detail tentang masa kecil Prodjosoekemi. Berbeda dengan koleganya, Ir. Herman Thomas Karsten dan Ir. Mas Aboekassan Atmodirono. Pun minimnya cerita keluarga, membuat nama Prodjosoekemi bagai hilang ditelan bumi. Cerita latar belakang masa lalu kehidupannya di Kabupaten Jepara dan Kota Surakarta juga tidak banyak ditemukan. Hanya dua surat kabar dan satu penelitian mengenai Prodjosoekemi yang berhasil ditemukan.
Merujuk Agus Dono Karmadi dan M. Soenjata Kartadaramdja dalam bukunya Sejarah Perkembangan Seni Ukir di Jepara, yang diterbitkan Depdikbud Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Jakarta tahun 1985, diketahui jika Prodjosoekemi merupakan pimpinan Openbare Ambachtschool jurusan mebel dan ukir kayu yang didirikan pemerintah Belanda di Jepara tanggal 1 Juni 1929. Pendirian sekolah tersebut sebagai bentuk perhatian pemerintah Belanda di Jepara kepada R.A. Kartini. Sebelum wafat, Kartini gigih mempertahankan seni ukir kayu untuk mendatangkan kesejahteraan masyarakat dan seniman ukir kayu di Jepara, dari yang sebelumnya hanya memproduksi sebagai “pemuas hasrat mewah” priayi bumiputra dan Belanda.
Prodjosoekemi lantas didaulat sebagai pemimpin sekolah tersebut pada tahun 1929–1934. Ia mengembangkan motif ukir kayu perpaduan ukiran bergaya Majapahit dan Mataram. Pada tahun kedua masa kepemimpinannya, sekolah tersebut berganti nama menjadi Ambachtschool Leergang.
Tidak lama setelah ia menyelesaikan kepemimpinannya, Ambachtschool Leergang dipimpin oleh Mas Ngabehi Wignjopangukir dari Keraton Kasunanan Surakarta selama 1934–1937 dan mengembangkan motif ukir bergaya Pajajaran dan Bali. Hiasan seni ukir kayu yang mereka hasilkan terinspirasi dari motif relief pada candi Hindu-Buddha.
Motif relief makhluk hidup dikombinasikan motif sesuluran sehingga tampak lebih hidup dan menggambarkan cerita kehidupan. Ini membuat Prodjosoekemi menuntut para siswanya untuk berusaha mengembangkan seni ukir kayu yang sudah ada sebelumnya dengan detail yang mengagumkan.


Tidak lama setelah pensiun, Prodjosoekemi tetap menekuni seni ukir kayu hingga akhirnya bertemu Ir. Thomas Karsten dalam sebuah acara pameran seni di Kota Semarang. Takjub dengan hasil karya ukiran kayunya, Prodjosoekemi lantas diajak berkolaborasi dalam hal arsitektural dan seni ukir di Kota Surakarta.
Proyek kolaborasi pertama mereka di Kota Surakarta adalah renovasi Pura Mangkunegaran. Sebagai wujud terima kasih dan apresiasi, Prodjosoekemi diganjar beberapa penghargaan, di antaranya gelar Raden Ngabehi dan diterima bekerja sebagai arsitek sekaligus seniman ukir kayu di Pura Mangkunegaran.
Merujuk surat kabar Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode (27/2/1952), diketahui jika R.Ng. Prodjosoekemi terlibat sebagai kurator pameran barang-barang seni dari Kota Solo (Surakarta) yang digelar di ruang baca Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Cikawo, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.
Surat kabar tersebut menambahkan, setahun sebelumnya Prodjosoekemi menuai sukses dan menarik perhatian masyarakat dengan pameran seni dan kerajinan rakyat kecil yang diselenggarakan di tempat yang sama. Kedua pameran terbuka untuk umum dan berlangsung selama dua minggu. Tampaknya, pameran tersebut memamerkan hasil seni ukir kayu dari Kabupaten Jepara dan Kota Surakarta, serta pameran seni arsitektural. Sayang, tidak ada informasi lain setelah pameran seni ukir kayu selesai hingga wafatnya yakni Prodjosoekemi.
Merujuk surat kabar Suara Merdeka (7/10/1953), diketahui jika Prodjosoekemi wafat pada Rabu, 30 September 1953, pukul lima pagi akibat sakit mendadak. R.Ng. Prodjosoekemi wafat di usia 60 tahun. Upacara pemakaman dilakukan Kamis, 1 Oktober 1953, di Astana Ngadisono.
Prodjosoekemi wafat dalam masa perawatan di Rumah Sakit Pusat Kadipolo Surakarta di Kampung Laweyan. Keluarga yang berduka yakni Bendara Raden Adjeng (B.R.Aj) Prodjosoekemi (istri), bernama asli Raden Nngateni (R.Ngt) Achadinah, Raden Ngateni Bei (R.Ngt. Bei) Martosasmito, Raden Ngabehi (R.Ng) Soedijoko, R.Ng. Walujo, R.Ng. Soetomo, R.Ng. Soedijono, dan R.Ng. Soedjono. Mereka mengucapkan terima kasih kepada dokter dan perawat di rumah sakit, serta kolega yang memberikan dukungan kepada keluarga dan mendiang ketika masa perawatan sampai upacara pemakaman.




Pusara Keluarga di Astana Bibis dan Astana Ngadisono
Selayaknya makam keluarga, mereka yang dimakamkan di Astana Bibis dan Ngadisono merupakan keluarga dan kerabat Pura Mangkunegaran. Untuk dapat menemukan makam yang dicari di kedua kompleks, lebih baik jika memiliki foto makam atau bersama keluarga yang mengetahui letak makam tersebut. Selain itu, jangan sungkan meminta bantuan juru kunci kedua kompleks makam. Sebab, saking banyaknya makam dan luasnya kompleks, tentu tidak mudah menemukan makam yang akan diziarahi meski letaknya berdampingan.
“Ada foto makamnya, Mas? Kalau ada, saya lihat dulu untuk memastikan lokasinya,” kata sang juru kunci.
Tidak lama, seorang pemuda yang datang membawa sapu lidi diperintahkan mengantar saya menuju lokasi makam R.Ng. Soedijoko dan istrinya, R.Ngt Achadinah, yang notabene putra dan menantu Prodjosoekemi. Sesampainya di lokasi, ia segera membersihkan rumput liar yang tumbuh dan mempersilakan saya berdoa dan mengabadikan makam.


Ada dugaan, Prodjosoekemi memiliki hubungan dengan keluarga Patih Dalem Mangkunegara V dan VI, yakni Raden Mas Tumenggung (R.M.T) Djojopranoto, sehingga ia dimakamkan berdampingan dengan Djojopranoto di Astana Ngadisono. Putra dan menantu lain dari Prodjosoekemi berada tidak jauh dengan kompleks makam Soedijoko di Astana Bibis.
Puas mengabadikan lanskap dan berdoa, tujuan saya berikutnya adalah Astana Ngadisono, untuk melacak makam R.Ng. Prodjosoekemi. Setelah 30 menit memotret sekitar dan memperhatikan inskripsi batu nisan gaya Mataram yang ada, mata lensa terfokus pada satu-satunya batu nisan gaya art deco.
“Loh, menarik ini! Sekitarnya bergaya Mataram, tapi kenapa hanya satu yang gaya art deco?” batin saya. Sayangnya batu nisan tersebut tanpa inskripsi. Bahkan juru kunci pun tidak tahu itu makam milik siapa.


Nisan Art Deco, Diduga Pusara Akhir R.Ng. Prodjosoekemi
Satu hal unik di Astana Ngadisono adalah batu nisan gaya art deco di barat gapura pintu masuk. Selama proses dokumentasi, tiba-tiba pikiran terbayang fasad depan Hotel Savoy Homann di Kota Bandung. Sama-sama gaya art deco dengan ciri khas elemen garis simetris dan pilar lurus di fasad depan. Hal yang sama saya temukan di batu nisan diduga milik Prodjosoekemi.
Jika membaca kembali riwayat Prodjosoekemi sebelumnya, yakni sebagai kurator pameran seni di Hotel Savoy Homann dan arsitek, tidak heran jika batu nisannya bergaya art deco daripada Mataram. Namun, hal tersebut masih perlu kajian mendalam mengenai latar belakang mendiang.
Hal lain yang menjadi pertimbangan, pada tahun 1952 ketika Prodjosoekemi wafat, gaya seni art deco masih mendominasi hingga pertengahan tahun 1960, saat gaya seni jengki mulai marak sebagai gaya seni baru akibat jenuhnya gaya seni kaku. Gaya seni jengki lebih banyak untuk gedung daripada pemakaman.


Saya menduga, batu nisan tersebut pemberian rekan sejawat arsitek beliau. Pemasangan batu nisan dilakukan beberapa waktu setelah selesai upacara pemakaman. Hal tersebut lumrah terjadi sebagai wujud penghormatan kepada mendiang dan keluarga. Hanya saja, tidak diketahui pasti kapan pusara dipasang dan siapa sosok mendiang yang dikuburkan dengan batu nisan gaya art deco tersebut.
“Sesepuh belum bisa memastikan benar atau tidaknya makam itu milik diduga kakek buyut Prodjosoekemi. Bagus sekali, Mas, satu-satunya makam art deco,” ungkap Pandu mewakili keluarga.
Mungkin lain kesempatan, sosok yang dimakamkan dengan batu nisan art deco tersebut akan terungkap. Besar harapan saya mengenai keberadaan makam bergaya art deco tersebut terjaga seiring waktu.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.


