#dirumahaja

Yang Mulai Saya Sadari saat di Rumah Aja

Memasuki minggu kedua bekerja dari rumah, sudah mulai muncul tanda-tanda bosan memandangi dinding kamar kosan yang begitu-begitu saja. Saya udah nggak sabar ngopi lagi di kafe bareng sobat-sobat. Udah nggak sabar menelusuri museum dan tempat-tempat bersejarah lagi. Udah nggak sabar buat bepergian meskipun cuma ke kota sebelah.

Di hari-hari ini, masa-masa ketika saya mengandalkan mi instan dan Go-Food untuk makan, cukup banyak kesempatan buat merenungkan keadaan. Di luar sana memang masih kacau, tapi ada beberapa hal positif yang mulai saya sadari saat #dirumahaja.

Salah satunya adalah bahwa pengeluaran saya jadi jauh berkurang. Sebagai orang yang suka nongkrong dan jajan sana-sini, makan di kosan dan mencukupkan diri dengan ngemil makanan apa pun yang tersedia bikin pengeluaran jadi kecil. Mau jajan jadi ragu karena pasti mikirin perjalanan ke warung/toko, belum lagi kebersihan tempatnya. Pertanyaan-pertanyaan berikut pun muncul: Bakal ketemu banyak orang nggak, ya? Bakal ngantre nggak, ya?

Pengeluaran yang kecil ini ngasih saya kesempatan buat nabung. Mungkin bisa untuk jalan-jalan ke luar kota… tentunya setelah semua ini berakhir dan keadaan sudah lebih aman.

Saat melihat ke luar jendela, saya juga jadi sadar sesuatu. Langit Jakarta yang biasanya sangat kelabu sekarang jadi nggak terlalu. Karena nggak banyak kendaraan pribadi keliaran di luar sana, polusi di udara kota padat penduduk ini otomatis berkurang, meskipun barangkali cuma untuk sementara sampai orang-orang bisa beraktivitas seperti sedia kala. 

Jakarta seperti rehat sejenak dari meladeni usikan polusi.

Iseng-iseng saya mengintip Google Maps. Hampir semua jalur yang biasanya berwarna oranye, bahkan merah, berubah jadi hijau semua. Ini karena, setelah imbauan pemerintah dan kampanye di media sosial, sebagian besar warga bekerja #dirumahaja demi mengurangi penularan.

Sisi positif lain yang saya lihat adalah mulai terbentuknya kebiasaan hidup sehat, terutama pada diri saya sendiri. Kesehatan dan imunitas menjadi sangat penting. Setiap hari saya lihat konten kiat-kiat hidup sehat wara-wiri di media sosial, entah tentang cuci tangan pakai sabun, makan sayur dan buah, minum vitamin dan suplemen, rutin berolahraga, dll. Jika terus dilakukan, dalam beberapa bulan ke depan bukan nggak mungkin kalau hidup sehat sudah menjadi norma.

Hal berikutnya yang saya rasakan adalah saya jadi punya waktu lebih banyak untuk mengulik hobi dan mencoba hal baru. Siapa pun yang (sebelumnya) bekerja di kantor tentu sadar bahwa ada waktu yang “terselamatkan” saat bekerja dari rumah. Saya sendiri biasanya ke kantor menumpang kereta sekitar 50 menit. “Surplus” waktu itu sekarang saya gunakan buat menonton film perjalanan dan menulis jurnal. Teman-teman saya ada yang sekarang rajin merawat wajah, belajar memasak, dan bikin konten di rumah. Waktu yang berlebih itu jadi nggak sia-sia.

Pun nggak ngapa-ngapain, dengan di rumah saja sebenarnya kita sudah melakukan hal yang berarti; ini adalah bentuk solidaritas kita terhadap para pekerja medis yang sedang berjuang di garda depan, yang nggak seberuntung kita-kita yang bisa #dirumahaja.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Artikel Terkait
#dirumahajaEvents

Ngobrol soal "Peduli Pekerja Pariwisata" bareng Jonathan Thamrin

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips Bikin Bujet Traveling ala Dayu Hatmanti

#dirumahaja

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Tips supaya Konten Lebih Memikat ala Satya Winnie

#dirumahajaItinerary

Sahabat Perjalananmu X TelusuRI: Ngobrolin Fotografi Perjalanan bareng Ingga Suwandana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *