Semasa CoronaTravelog

Terpaksa Berkendara Semasa Corona

Sudah hampir dua minggu ini saya tak ke mana-mana, kecuali menuju yang benar-benar perlu. Misalnya dua sore yang lalu, ketika saya benar-benar perlu mampir ke gua Jalan Kaliurang dan Nyonya perlu ke Tamsis.

Dengan cairan pembersih tangan di tas pinggang dan masker di wajah, kami berdua meluncur di atas dua roda membelah Jalan Parangtritis yang lengang. Pemotor-pemotor yang berpapasan dengan kami sebagian besar bermasker. Bukan masker gambar gigi yang menjengkelkan itu; masker beneran.

Terakhir kali saya mendapati orang bermasker sebanyak itu kala Kelud meletus 2014 silam. Meskipun sang Kelud terpaku di Jawa Timur sana, angin membawa “droplet-nya” sampai Jogja. Langit dan jalan dan jok-motor dan genteng dan lain-lain kelabu penuh abu vulkanik.

Tapi langit tak kelabu itu kali. Sore yang cantik, malah. Matahari sudah condong ke barat. Persawahan yang sesekali mengintip dari balik bangunan tampak keemasan. Ah, udara pasti segar. Sayang, saya tak mau ambil risiko melepas masker hanya demi udara segar. Telanjur dibekap paranoia saya memang. Tapi, kata Justito Adiprasetio dalam Amatan Remotivi.or.id, saat ini kita membutuhkan paranoia, lebih dari kapan pun.

Kami berhenti sebentar mengikuti sinyal lampu merah di perempatan Bakulan. Ini boleh saja senjakala manusia, tapi saya tetap komit untuk berhenti ketika APILL menyala merah. (Tolong setelah wabah sekiranya otoritas bisa pakai istilah “lampu merah” yang lebih prokem.) Saya berhenti di lampu merah bukan untuk memuaskan otoritas, tapi supaya sendiri selamat.

Saya berhenti di lampu merah karena egois.

Perempatan Jalan Kaliurang, 26 Maret 2020/Ajo
Indomaret di samping Ring Road, Gamping, yang menyediakan air, sabun, dan tisu untuk mencuci tangan, 26 Maret 2020/Ajo

Di depan kami adalah sebuah mobil LCGC warna merah. Di kaca belakangnya ada tulisan sentence case “Jangan nilai aku berdasarkan jarene.” Tulisan “Jangan nilai aku berdasarkan” warna putih, sementara “jarene” merah. “Jarene” artinya “katanya.” Jadi, tulisan itu berarti “jangan nilai aku berdasarkan katanya.”

Noted.

Begitu merah berganti hijau, satu per satu kendaraan melaju. Tak ada yang mengklakson. Bagus. Kita memang mesti sabar dan tak terburu-buru. Buru-buru pun mau ke mana? Kita toh cuma berputar-putar tak jelas di bumi ini, mengambang tanpa arah di larutan materi gelap sambil menebak-nebak alasan keberadaan kita di semesta, dan mengisi waktu dengan pura-pura bikin batas—dan main perang-perangan untuk mempertahankannya.

Kita tak ke mana-mana. Jauh sebelum kampanye tagar #dirumahaja, kita sesungguhnya sudah di rumah saja. Cuma, kita tidak sadar saja.

Dari Ring Road Selatan, kami terus ke utara menelusuri Jalan Parangtritis. Jalanan sekitar Prawirotaman masih ramai meskipun bar-bar banyak yang tutup. Entah karena masih terlalu “pagi” atau memang sudah menganugerahi perlop pada para karyawan sampai pandemi COVID-19 mereda.

Tak terasa kami sudah tiba di lampu merah Jokteng Wetan. Saya tiba-tiba teringat suatu dini hari ketika saya dan Roiz sedang berpusing naik Avanza hitam barunya beberapa tahun lalu. Di Jokteng Wetan sini, kami lihat sebuah mobil ringsek bagian depannya karena baru saja menabrak pagar taman Jokteng Wetan. Dan tahukah kau siapa yang pertama datang menolong pasangan sial itu? Penyair Saut Situmorang!

Setidaknya menurut saya itu Saut Situmorang.

Hijau. Saya mengarahkan motor ke Jalan Kolonel Sugiyono, melewati beberapa lampu merah, melenggok ke utara menyusuri Tamsis, lalu masuk jalan kecil yang barangkali akan masuk ke dalam kategori gang seandainya dibikin satu senti saja lebih sempit.

Saya hentikan motor di depan garasi sebuah rumah merangkap salon kecantikan. Nyonya turun dari jok lalu melangkah naik ke beranda. Ia ketuk pintu sambil mencoba mengontak sang empunya rumah lewat WhatsApp. Itu adalah rumah O, kawan SMA-nya. Rasa senasib sepenanggungan karena pernah seasrama memang membuat Nyonya dan kawan-kawan seangkatannya kompak sampai sekarang.

O membuka pintu. Nyonya dan O saling sapa tanpa bersalaman. Norma baru. Dari balik pintu, O menyodorkan seplastik putih nugget tempe bikinan ibunya; tujuan utama kami ke sini. Salon ibu O sudah sekitar seminggu tutup. Supaya dapur terus berasap, perlu ada usaha lain.

“Sini,” Nyonya melambaikan tangan. “Aku mau potong rambutmu.”

Sudah berbagai upaya ia lakukan untuk bikin rambut saya jadi pendek. Tapi mentok-mentok cuma bisa sampai “sependek” Jim Morisson—atau Bunga Citra Lestari, kata Tedjo si Dewa Samgong. Tidak, Nyonya tidak benar-benar ingin memotong rambut saya. Ia hanya sedang cari alasan untuk mengobrol sebentar dengan O.

Saya selalu senang ikut nimbrung. Maka saya buka helm, saya sangga motor dengan standar tunggal, lalu jalan ke beranda. Ternyata apa yang saya kira sebagai ruang tamu itu adalah pusat gravitasi salon ibu O. Bayangkan bentuk salon. Ya, begitu. Semula saya kira salonnya ada di garasi.

“Terus semua proyek dihentikan dulu, nih?”

Saya bertanya. Suara saya masih jelas meskipun ditapis masker. Saya merasa kurang ajar sebenarnya bicara memakai masker begini. Apalagi O tak bermasker. Tapi, ya, apa boleh buat. Beberapa waktu lalu saya baru tahu soal betapa ribetnya cara membuka masker. Jangan pegang bagian kertasnya, tapi talinya….

“Iya,” jawab O waktu kami duduk di ruangan penuh cermin itu. Proyek di LSM tempat ia berkarya terpaksa ditunda dulu. Karena lembaganya fokus membangun tempat tinggal, setiap pekerjaan pasti mensyaratkan pertemuan. Buruh bangunan tak bisa “work from home.” Rumah takkan ada artinya jika cuma ada di AutoCAD.

Lampu merah (bangjo) dekat Alun-alun Paseban, Bantul, 26 Maret 2020/Ajo

Tak bisa lama-lama di rumah O, kami pun pamit. Dari Tamsis kami ke utara sampai ke pertigaan Jalan Kusumanegara, lalu meluncur ke timur, terus sampai ke persimpangan Gedong Kuning, JEC, kemudian tiba di Ring Road Timur. Jalur lambat lumayan sepi, juga jalur cepat. Kami lalu naik jalan layang, menikung lagi ke timur, lalu berhati-hati belok kiri menuju Jalan Babarsari.

Kampus Atma Jaya lengang. Orang hanya bisa masuk lewat celah kecil di depan tiap-tiap kampus. Sebelum masuk, mereka akan ditembak satpam dengan termometer.

Pom bensin Seturan tak seramai biasanya. Antrean tak seberapa. Hanya ada satu sepeda motor yang mengisi Pertamax sore itu. Antrean Pertalite lebih panjang—jelas. Kalau ada yang murah, kenapa beli yang lebih mahal?

Dari daerah pom bensin Seturan, kami melanjutkan perjalanan ke daerah Nologaten. Saya mesti beli cadangan tembakau untuk beberapa minggu. Saya bawa sepeda motor lewat Jalan Magersari yang kecil. Dekat ujung jalan, sudut mata saya menangkap beberapa orang sedang memasang spanduk di depan warung/kafe. Tulisannya: “Hanya Melayani Bungkus/Order Online.”

Di toko tembakau, saya minta Nyonya menunggu di luar. Biasanya, setiap kali belanja saya memasrahkan semuanya padanya. Tapi jika keadaannya seperti ini, cara itu tak lagi etis bagi saya. Bergegas saya beli empat bungkus Jangkar, sebungkus Mars Brand, lima bungkus Pak Ayem, dan empat paket Melawan. Ini akan cukup untuk dua minggu. Masih ada Warning di rumah.

Untuk ke Jalan Kaliurang, kami melintasi jalan utama Nologaten, melipir ke Mrican, lalu menelusuri Gejayan yang selama ini saya hindari sore-sore jam pulang kantor seperti itu. Begitu tiba di ujung utara, dekat Togamas, betapa kagetnya saya mendapati perempatan Gejayan-Ring Road Utara itu sepi.

“Hah? Jam segini ini motor dan mobilnya cuma (sedikit) begini?” Nyonya juga terheran-heran di boncengan.

Ring Road Utara biasa-biasa saja, mungkin karena ruas itu jadi jalan lintas dari Solo ke Semarang di pesisir utara atau Purwokerto dan Bandung di barat. Sebelum perempatan Jalan Kaliurang, kendaraan-kendaraan dengan tertib memilih lajur: ada yang ke kanan lewat underpass, lainnya terus di permukaan. Kami ikut rombongan kedua.

Lampu merah lagi. Begitu hijau, saya langsung memacu motor ke utara. Sebentar lagi tiba.

Tapi ini masih setengah jalan—dan kami mesti mampir dulu ke toko bangunan. Nanti usai urusan, dengan masker menutupi mulut dan hidung, kami mesti kembali menyisir jalan ke arah selatan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Related posts
Travelog

Berbekal Kamera SLR Analog, Menelusuri Jateng-Jatim

Semasa Corona

Perjalanan Duka di Masa Pandemi

Semasa Corona

Ramadan dan Lebaran yang Lalu

Travelog

Pelajaran dari Baduy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *