Semasa CoronaTravelog

Sepinya Aktivitas di Boyolali Saat PPKM

Tepat dihadapanku, terpampang sebuah kertas berisi angka. Sebuah kertas yang seringkali dibagikan ketika tahun baru telah datang. Ya, apalagi jika bukan sebuah kalender yang telah penuh dengan coretan agenda. Sekarang angka tepat berada di barisan bawah, menandakan bulan baru akan segera menyapa. “Tanggal 29, hmmm,” aku bermonolog dengan pikiran yang mulai berkelana. Hari ini, tepat sebulan setelah aku pulang dari kampung halaman. 

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini akan terdengar biasa saja. Namun, bagiku tidak. “Secuil kisah terukir dibalik setiap perjalanan,'”sebuah kalimat yang selalu aku percaya. Termasuk perjalananku kali ini, dimana aku harus membelah jalan di tengah-tengah situasi corona yang tengah merebak. Parahnya lagi, tepat di tanggal ini sebuah regulasi telah diberlakukan. Apalagi kalau bukan PPKM, yang menyebabkan beberapa jalan harus ditutup dengan sengaja. 

Jika kau berpikir aku adalah seorang pelanggar, dapat dipastikan itu salah besar. Tak ada niat setitikpun untukku tak mematuhi sebuah aturan, hal ini terjadi sebab rasa ketidaktahuan. Mungkin, akibat dari kurangnya aktivitas kehidupan televisi di dalam rumah. Hingga pada akhirnya informasi menjadi minim untuk didapatkan. 

Persawahan di daerah Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali via TEMPO/Denny Sugiharto

Sedikit menantang adrenalin, sungguh. Awal perjalanan sepeda motor ini terus melaju. Lancar, tanpa ada kemacetan yang mengganggu. Sehingga kupikir “Ah akhirnya masyarakat bisa sadar untuk tidak bepergian terlebih dahulu.” Namun, kesenggangan jalan semakin membuatku bingung. Barulah jawaban atas pertanyaan di otak terjawab ketika melihat jalan yang ditutup. 

Jalan yang ditutup tersebut ditemukan ketika memasuki kota Boyolali. Akhirnya tanpa pikir panjang, aku membawa sepeda motor ini untuk mencari jalan lain. Melalui jalan kampung dan menjauhi jalan alternatif. Bermodalkan sebuah kata nekat, walau tidak tau arah, aku segera mengikuti motor dan mobil lain dengan percaya diri. Walau di dalam hati sedikit berdoa agar tidak nyasar ataupun tertangkap polisi. 

Setelah mengekor sedikit lama, akhirnya jalur yang kulalui menemukan sebuah titik terang. Dengan kata lain, ibuku—yang membonceng motorku—paham dan memastikan bahwa tersesat. Kami tiba di pasar Sunggingan. Melihat sekitar, aku menemukan sesuatu yang berbeda. Pasar ini ditutup, dan tak ada satupun toko atau warung yang berani untuk membuka tendanya. Sangat berbanding terbalik dengan yang ada di Semarang. Di sini benar-benar patuh akan peraturan. Tidak adanya kehidupan di pasar, membuat keadaan jalanan kembali lenggang. 

Patung Pahlawan di jalan menuju pintu masuk kawasan kompleks terpadu perkantoran Pemerintah Kabupaten Boyolali via TEMPO/Rizki Putra

Setelah beberapa belokan dan kembali menelusuri jalan desa, akhirnya aku menemukan alasan di balik patuhnya masyarakat di sini. Beberapa mobil sedang terparkir dengan rapi. Bukan sembarang mobil, melainkan mobil polisi yang tengah berpatroli. Ditambah lagi, terdapat sebuah tank dengan cairan desinfektan sebagai isi. Terlihat pula beberapa polisi dan TNI sedang memantau para pengendara dengan mata yang sedikit menelisik. Dan tentu saja kembali harap kulantunkan dalam hati. “Semoga tidak ada razia untuk kami.” 

Lagi-lagi Tuhan mendengarkan suara hatiku, dan mereka, para penjaga jalan tidak mengusik bahkan mengganggu. Beberapa pengguna sepeda juga meluncur dengan tersenyum. Menikmati lenggangnya jalan dengan oksigen bersih mengalir menuju paru-paru. Sungguh, seperti inilah suasana kota yang kuinginkan sedari dulu. Aman, nyaman, tidak bising, dan jauh dari asap bahkan debu yang dapat membuat kesehatan menurun. Kecepatan motor saat ini selalu dibawah angka enam puluh. Sengaja, ingin berlama-lama menelusuri jalan di bawah pohon-pohon yang teduh. Lagipula ibuku tak suka jika aku mengebut.

Menempuh perjalanan yang bisa dibilang cukup panjang, akhirnya kami berdua sampai di tempat tujuan. Berusaha tetap menjaga jarak, menjauhkan orang tersayang dari virus yang sedang marak. Menjaga rindu yang tertahan, agar seluruh rumah merasa aman. Semoga saja, kedatangan kami di sini tak membuat suasana menjadi bermuram durja. 

Ibu segera masuk ke salah satu kamar, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Sedang aku hanya menunggu di kursi luar sembari menatap mereka dari kejauhan. Ditemani dengan secangkir teh hangat, dengan beberapa mangkuk buah disampingnya. Sesekali keponakan selalu berusaha untuk mendekat. Seperti dulu bermain bersama tanpa adanya sebuah sekat. Untung saja aku mampu menahannya, berusaha menghindarkan mereka dari virus yang mungkin saja aku bawa. “Huft, ya sudahlah pasrah,” ucapku dengan menghela nafas. 

Kurang lebih keperluan mendesak tersebut selesai dalam waktu dua jam. Tentu saja ada kegiatan pengisi perut sebagai jeda. Hitung-hitung sebagai energi tubuh untuk perjalanan pulang. Bertujuan agar aku dan ibu bisa selamat sampai rumah dengan keadaan sehat wal afiat. Begitu kata bibiku dengan kalimat yang sungguh perhatian. Berat hati kami berpamitan dan memutuskan untuk pulang. Dengan rasa yang sedikit berbeda tentunya. 

Terlepas dari kejadian di desa, perjalanan pulang kali ini juga membuatku sedikit tercengang. Sepanjang jalan dari desa hingga memasuki Kota Boyolali, benar-benar hanya sedikit kendaraan yang kutemui. Bahkan, toko-toko di sepanjang sisi jalan juga terlihat sudah tidak beraktivitas. Para karyawan mereka pulang tepat pukul 16.00. Jelas berbeda dengan Semarang yang masih melonggarkan jamnya hingga setelah adzan Maghrib berkumandang. Salut dan haru mulai menyeruak, kupikir masyarakat telah jenuh karena pandemi terlalu lama dan memilih untuk bertindak gegabah. Nyatanya, masih banyak warga yang taat aturan dan tidak egois dalam menuruti hawa nafsunya. 

Warga mencari ikan di Waduk Cengklik, Kecamatan Ngemplak, Kota Boyolali via TEMPO/Denny Sugiharto

Semoga dengan usaha yang seperti ini, dapat mengurangi angka pasien terjangkit. Dan doa paling serius yang kupanjatkan, semoga kasus COVID-19 cepat berakhir. 

Aamin.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

"Selalu berusaha menjadi yang terbaik dan berguna untuk sesama"

"Selalu berusaha menjadi yang terbaik dan berguna untuk sesama"
    Artikel Terkait
    Travelog

    Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

    Travelog

    Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

    Travelog

    Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

    Semasa CoronaTravelog

    Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Tercengang di Pasar Ngat Paingan