Travelog

Anjangsana Kebudayaan, Melihat Pembuatan Gamelan di Boyolali

Dari Blora, saya bersama para peserta International Gamelan Festival 2018 (IGF 2018) melanjutkan perjalanan ke sentra pembuatan gamelan di Pengging, Boyolali.

Boyolali tak kalah panas dari Blora. Beruntungnya lokasi yang kami datangi kali ini tidak berada di kawasan terbuka. Tak ada debu bertebaran. Sinyal ponsel pun terbilang aman. Karena keberangkatan lumayan molor, rombongan saya dan teman-teman media tertinggal cukup jauh.

boyolali

Pak Waldi bersama wayang/Mauren Fitri

Beruntungnya lagi, meski tiba tidak tepat waktu, kami masih punya kesempatan untuk main ke salah satu dari dua usaha kerajinan gamelan di Boyolali, yakni Dalang Art.

Usaha Dalang Art milik Pak Waldi dirintis tahun 1970 oleh kakeknya yang dulunya seorang guru dalang di Keraton Solo. Pak Waldi sendiri adalah generasi ketiga. Kala itu usaha ini masih kecil-kecilan, hanya pekerjaan samben (sampingan). Usaha pembuatan gamelan ini mulai berkembang tahun 1975.

boyolali

Logam yang dibentuk dulu sebelum diselaraskan/Mauren Fitri

Melihat proses pembuatan gamelan di “workshop” Dalang Art Boyolali

Proses pembuatan satu set gamelan ternyata cukup panjang. Dalam satu bulan, Dalang Art bisa menghasilkan satu sampai dua set gamelan lengkap. Menurut Pak Waldi, ada pesanan atau tidak workshop-nya akan tetap memproduksi gamelan.

Hal pertama yang dilakukan untuk membuat gamelan adalah menyiapkan bahan. Timah dan tembaga dengan komposisi 3:10 dilebur lalu ditempa. Setelah wujud gamelan terbentuk barulah nada diselaraskan. Biasanya nada disetel menurut aturan tangga nada slendro dan pelog.

boyolali

Finishing set gamelan/Mauren Fitri

Saya dan rekan-rekan juga dibawa melihat proses penatahan kayu sampai menghasilkan karakteristik gamelan khas Jawa. Yang membuat saya kagum adalah alat yang digunakan masih manual dan tradisional.

Para peserta IGF 2018 yang berasal dari mancanegara tampak terpukau. Meski mahir menabuh gamelan dan gending, kebanyakan dari mereka belum pernah melihat pembuatan gamelan secara langsung.

Proses pembuatan yang sedemikian rupa membuat harga gamelan jadi lumayan. Satu set gamelan perunggu standar harganya sekitar Rp 350 juta. Gamelan kualitas premium harganya mencapai Rp 450 juta. Gamelan dari besi jauh lebih murah. Harganya sekitar Rp 75 juta untuk rancak ukir dan Rp 65 juta untuk lis ceplok.

boyolali

Mengerjakan detail gamelan/Mauren Fitri

Namun harga yang lumayan itu tak membuat gamelan tidak laku. Gamelan Pak Waldi ternyata tak hanya dibeli oleh orang Indonesia, namun juga oleh orang dari Australia, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, dan Singapura.

Saat memandu kami, Pak Waldi sempat menyampaikan harapannya pada para pemuda. Tak apa-apa menyenangi kesenian dari negara-negara lain, namun “Kesenian bangsa sendiri tolong dilestarikan, untuk wilayah mana pun … Sunda, Batak, Minangkabau, dan yang lainnya. Tidak hanya di Jawa.”

boyolali

Seorang peserta IGF memainkan gamelan/Mauren Fitri

Bermain karawitan dan menari topeng ireng bersama

Usai menyambangi workshop gamelan milik Pak Waldi, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah SMA Negeri 1 Boyolali. Di sekolah itu para peserta IGF 2018 diajak melihat penampilan para pengrawit muda Indonesia.

Ketika tiba, kami disambut suara gending gamelan yang mengalun. Gending Jawa kebo giro dipilih sebagai gending kolaborasi antara peserta IGF 2018 dan kelompok karawitan SMA 1 Boyolali. Kolaborasi itu kemudian dilanjutkan dengan tarian topeng ireng.

boyolali

Pengrawit dari SMA Negeri 1 Boyolali/Mauren Fitri

Tarian rakyat ini menampilkan kekompakan dan kerja sama sebagai perwujudan dari sifat gugur gunung. Gerak tarinya sendiri mengacu pada gerak sehari-hari dan kondisi alam Gunung Merapi.

Kostum para peserta yang sama satu sama lain melambangkan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat desa. Sementara lonceng di kaki para penari terinspirasi dari hiruk-pikuknya semangat rakyat dan para pejabat pemerintah untuk membangun Boyolali. Gerak tarian itu begitu sederhana sehingga siapa saja bisa mudah menarikannya. Suasana Anjangsana Kebudayaan di Boyolali ini pun jadi terasa begitu hangat.

boyolali

Menari topeng ireng/Mauren Fitri

Nah, jika di Indonesia seni karawitan diperkenalkan lewat ekstrakurikuler sekolah seperti di SMA Negeri 1 Boyolali, di luar negeri seni karawitan diperkenalkan oleh diaspora Indonesia sampai menjadi begitu digandrungi. (Bahkan pemerintah Indonesia sampai mengirimkan guru untuk mengajar gamelan di luar negeri.)

Dari IGF 2018 saya baru tahu kalau banyak orang dari luar Indonesia yang menggeluti karawitan dengan serius. Selain menjadi musisi, ada juga yang menjadi peneliti gamelan. Yang bikin saya takjub, konon di Inggris sana ada seorang pengrawit yang sudah belajar gamelan lebih dari 30 tahun!

Jika para peserta IGF dan orang-orang mancanegara saja bisa menyukai gamelan, kenapa kita tidak?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Artikel Terkait
Travelog

Belajar dari Para Pejuang Cilik

Travelog

Dansa-dansi di Parkiran Mal Abepura

Travelog

Sepakbola dan Perjalanan: Fragmen-fragmen

Travelog

Suatu Malam di Studio Rap Abepura

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *