ItineraryNusantarasa

Berani Mencoba “Sate Petir Pak Nano” yang Pedasnya Menyambar Lidah?

Meskipun namanya mengandung kata “petir,” Sate Petir Pak Nano nggak ada hubungannya sama Gundala Putra Petir, Flash Gordon—atau Thor asal Asgard.

“Petir” di sini berkaitan sama spektrum rasa pedas yang disediakan di warung ini, seperti halnya istilah “mercon” dan “gledek” yang sering dipakai untuk menggambarkan sensasi pedas yang kamu dapat saat menyantap kuliner-kuliner lain.

sate petir pak nano

Terletak strategis di pinggir Ring Road Selatan Yogyakarta/masclink_kulineran

Pak Nano yang nama lengkapnya Sutiarno ini adalah pemain veteran dalam industri kuliner sate Yogyakarta. Tak main-main, ia sudah berjualan sate sejak tahun 1984. Pengalaman lebih dari tiga puluh tahun ini tentu saja bikin cita rasa makanan racikan Pak Nano nggak bisa dipandang sebelah mata.

Penggemar makanan yang mampir di Sate Petir Pak Nano nggak cuma orang-orang lokal Yogyakarta, tapi juga interlokal—maksudnya dari luar kota. Bahkan nggak jarang ada turis dari luar negeri yang “disesatkan” kawannya ke warung ini.

sate petir pak nano

Pak Nano sedang memasak tongseng/masclink_kulineran

Nggak cuma sate kambing

Menariknya, warung yang dimiliki oleh laki-laki berusia 71 tahun ini nggak cuma menjual sate kambing. Masih banyak lagi kuliner lain yang disajikan di sini, seperti tongseng daging, tongseng lidah, dan tengkleng. Dalam sehari, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Pak Nano bisa menghabiskan sekitar lima kilogram daging kambing!

Selain menyediakan banyak daging, Sate Petir Pak Nano juga punya stok lombok alias cabe yang nggak sedikit. Makanya kamu bisa pilih level kepedasan sesuai selera—dan toleransi mulut terhadap rasa pedas—dari mulai level PAUD yang nggak pedas hingga level profesor yang pedasnya menyambar-nyambar!

sate petir pak nano

Cabe sedang diiris/masclink_kulineran

Level kepedasan yang ditawarkan Sate Petir Pak Narno justru bikin orang-orang tertantang buat mengetahui batas toleransi mereka terhadap rasa pedas. Suatu kali, bahkan ada pembeli yang minta makanannya dimasak dengan seperempat kilogram lombok. Berani coba?

Lokasi strategis dan nggak pernah libur

sate petir pak nano

Menanti sate selesai dibakar/masclink_kulineran

Sate Petir Pak Nano mudah sekali buat ditemukan. Letaknya di Jalan Ring Road Selatan 90, Dusun Menayu, Kecamatan Tirtonirmolo, Bantul.

Meskipun terletak di luar Kota Yogyakarta, dari mulai buka sekitar jam 2 siang sampai tutup jam 7 malam, Sate Petir Pak Nano selalu saja ramai oleh pelanggan. Jam makan siang, warung ini biasanya penuh para pekerja berseragam. Semakin sore, pelanggannya pun jadi semakin beragam.

Barangkali, selain rasa sate dan tongsengnya yang lumayan (dan nggak bau), hal lain yang bikin pelanggan selalu berdatangan adalah harga makanannya yang cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 23.000 per porsi.

sate petir pak nano

Seporsi sate kambing di Sate Pak Nano/masclink_kulineran

Ketika ditanya kapan warung ini prei alias libur, Pak Nano menjawab sambil bercanda, “Kita mah nggak pernah libur, Mas. Nanti kalau libur (dapat) duit dari mana coba? Sudah 30 tahun lebih saya nggak pernah libur. Libur paling kalau ada layat atau urusan keluarga. Udah, sih, itu aja. Nggak ada kata libur bagi saya. Nanti pada kecewa kalau saya libur.”


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ikuti petualangan kuliner Masclink di sini.

KULINER JOGJA | HALAL Food Only

KULINER JOGJA | HALAL Food Only
Artikel Terkait
Itinerary

Desa Muncar dan Kopi Temanggung

Itinerary

Memahami Lebih Dalam tentang Permakultur

Itinerary

5 Destinasi Budaya 'Memorable' ala Jovita Ayu

ItineraryPilihan Editor

Rumapala dan Cerita Memberdayakan Pala Banda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *