NusantarasaTravelog

Kisah Kopi Hitam di Warung Tadasih

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa penggemar kopi di tanah air semakin banyak, terlihat dari maraknya keberadaan kedai-kedai kopi baru di berbagai lokasi, dari mal besar di pusat kota hingga ruko-ruko pinggir jalan dan kompleks perumahan.

Pada hari Minggu sore, paman saya mengajak kami sekeluarga untuk mengunjungi Tadasih, sebuah warung kopi yang berada di lantai 2 dari pusat perbelanjaan Metro Atom di Pasar Baru, Jakarta Pusat.  

Jalan menuju ke sana cenderung berliku dan kami sempat tersesat karena tidak biasa dengan denah gedungnya. Setelah bertanya kepada beberapa pegawai yang sedang berjaga di toko lain, akhirnya kami menemukan warung yang menurut sepupu saya seduhannya kopinya enak. 

Terhimpit diantara toko-toko sekitarnya yang sudah tutup, warung Tadasih bernuansa modern minimalis dengan gaya industrial, memadukan warna abu-abu semen dari dinding yang tidak dicat dan coklat dari sekat kayu pemisah area barista dengan ruang duduk pengunjung. Tirai biru pendek yang menjuntai di sisi kanan mengingatkan saya akan ramen shop di Jepang, hanya bedanya terdapat aksara Jawa pada tirai tersebut.

kopi warung tadasih
Ferza, pemilik Warung Tadasih/Nydia Susanto

Tadasih, punya arti merindukan bulan dalam Bahasa Jawa, mengacu pada era kopi gelombang ketiga, atau third wave coffee, yang mengedepankan kualitas biji dan metode penyajian kopi secara lebih detail untuk mendapatkan rasa terbaik.

Untuk diketahui, warung Tadasih hanya menyediakan kopi hitam tanpa gula, susu, creamer dan sejenisnya yang dibanderol Rp30 ribu per gelasnya. Otomatis, varian menu seperti caffe latte, cappuccino, serta  teman ngopi lain seperti biscott dan gorengan, tidak tersedia. 

Jenis kopi yang ditawarkan adalah arabika single origin, yang berarti biji kopinya berasal dari 1 daerah saja. Bila ditanya kopi dari daerah manakah yang umumnya disajikan ke konsumen setiap harinya, semua itu tergantung dari pilihan Ferza, sang barista sekaligus pemilik warung. 

Pada kunjungan kami, biji kopi yang tersedia adalah Toraja. Presisi dan konsistensi takaran kopi sangat diperhatikan dalam proses penyajian, seperti menimbang bubuk kopi hingga 12 gram yang diseduh dengan air yang suhunya antara 82 hingga 88 derajat celcius.

Selama pesanan kopi kami masih dalam proses, kami banyak berbincang dengan Ferza yang membagikan pengalaman menjalankan usahanya selama hampir 2 tahun terakhir.

Mengandalkan kekuatan sosial media

kopi warung tadasih
Berinteraksi di Warung Tadasih/Nydia Susanto

Ia mengakui bahwa lokasi yang kurang populer sebagai tempat nongkrong anak muda tidak membuatnya kesulitan mendapatkan pengunjung berkat kekuatan Instagram, @tadasih.jkt, sebagai alat komunikasi dengan masyarakat luas. 

Dalam Instagram yang sudah memiliki 17 ribu pengikut, Ferza lebih banyak menceritakan kejadian sehari-hari di warung dan pengalaman dengan para tamunya daripada melulu menbahas hal-hal teknis tentang kopi yang rumit. Feed yang enak dibaca dan tidak terkesan hard-selling mampu mengakrabkan para pembacanya, dari pengopi sejati hingga orang awam. Bahkan, banyak dari konsumennya adalah pemula yang ingin belajar menikmati kopi hitam.

Mungkin sebagian orang menduga bahwa penulis dibalik konten-konten tersebut adalah freelancer atau social media manager. Padahal, setiap narasi dalam feed Instagram Tadasih adalah hasil rangkaian kata Ferza sendiri, yang menunjukkan bahwa ia juga jago menulis selain jago soal kopi-kopian. 

Pastinya, keberadaan sosial media mampu menghemat banyak biaya operasional karena harga sewa di Metro Atom hanya Rp30 juta per tahun, yang tidak mungkin didapat di mal besar. Terlebih, Ferza tidak mempunyai pegawai untuk operasional karena baristanya hanya ia seorang.

Bahkan ketika warung dalam keadaan ramai, yang pernah menimbulkan antrian panjang hingga mencapai eskalator gedung, Ferza tetap tidak menambah pegawai untuk membantunya. 

Menyeduh kopi sama dengan memasak

kopi warung tadasih
Kopi bubuk Toraja/Nydia Susanto

Baginya, menyeduh kopi hampir sama dengan memasak. Lain tangan, lain hasil walaupun pegawai sudah memahami standarisasi dengan baik dan sering latihan. Maka menyeduh sendiri lebih baik supaya kualitas tetap terjaga.

Jumlah maksimum kopi yang dapat disajikan adalah sekitar 70 gelas per harinya. Diluar itu, ia memilih untuk tutup warung daripada kelelahan dan akhirnya tidak dapat memberi pelayanan terbaik untuk para tamunya. 

Saya sempat mencoba mengangkat teko yang Ferza gunakan untuk menyeduh kopi, dan ternyata cukup berat juga bila harus diangkat berulang kali dalam durasi cukup lama. Pantas saja ia membatasi diri bila sudah diluar kemampuannya.

Jam operasional pun berubah-ubah tergantung sikon dan ada libur di hari tertentu, yang selalu diberitahukan sehari sebelumnya melalui Instagram. Rata-rata warung beroperasi antara 5 hingga 6 jam per harinya.

Hasil seduhan kopi di Tadasih memberikan sensasi baru di indera pengecap saya. Diawali dengan rasa asam khas kopi arabika yang tidak terlalu intens, lalu disusul aftertaste manis buah yang lembut. Sebagai pengopi awam, baru kali ini saya dapat menikmati kopi tanpa susu dan gula karena tidak pahit apalagi gosong. Bahkan lebih terasa ngeteh daripada ngopi

Kopi yang disangrai secara medium roast dan suhu air yang tidak melebihi 100 derajat merupakan segelintir faktor penentu yang membuat kopi tidak terlalu pahit. Menurut paman saya, sebelumnya Ferza pasti berguru dengan roaster yang sangat piawai. Bisa jadi betul.

Namun, saya percaya bahwa kecintaannya akan dunia kopi juga memegang peranan penting yang membuat kegiatan sehari-harinya di warung dilakukan dengan sepenuh hati tanpa menganggapnya sebagai pekerjaan, sehingga hasilnya optimal dan memuaskan para tamunya.Hal lain yang menarik perhatian saya adalah gelas-gelas tanah liat yang digunakan memiliki warna, corak dan ukuran berbeda, yang membuatnya nampak artistik bila dipajang berbarengan. Bentuknya pun mengingatkan saya akan gelas teh di restoran Jepang daripada gelas kopi. Desainnya yang berseni ini membuatnya sarat dengan peminat yang ingin membelinya untuk koleksi pribadi, yang harus dipesan sebelumnya karena tidak ready stock di warung.

Karyawan swasta merangkap travel blogger.

Nydia Susanto

Karyawan swasta merangkap travel blogger.
Artikel Terkait
Travelog

Hidup Produktif bersama Perpustakaan Bung Hatta

ItineraryNusantarasa

Puas Berwisata di Purworejo dengan merasakan makanan khasnya

Travelog

Melawat ke Makam Kehormatan Belanda

Travelog

Coban Pelangi dan Kenangan Apik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *