Travelog

Monumen Kresek dan Kisahnya

Suatu hari, saya dan salah seorang kawan ditugasi untuk survei tanah wakaf yang ada di Madiun. Tanah ini akan digunakan untuk pembangunan Masjid Kampus Urup, Pusat Pembelajaran Gratis. Siang hari kami berangkat dari Malang menuju Nganjuk menggunakan bus. Meski dalam keadaan pandemi, bus masih beroperasi, mengantarkan kami yang hendak melakukan perjalanan. Tentu dengan menggunakan protokol kesehatan, seperti memakai masker, hand sanitizer, dan lain-lain. 

Kami sampai di Terminal Nganjuk sore hari, kawan saya langsung menelpon dua orang teman untuk menjemput kami dan dibawa ke rumahnya untuk beristirahat menunggu pagi tiba, rencana pagi harinya kami akan melanjutkan misi ke Madiun, kota yang lekat dengan guru bangsa Hos Tjokroaminoto. 

Berada di bus, dari Malang menuju Ngajuk/Atmaja Wijaya

Pagi harinya, setelah sarapan, kami pun bersiap-siap untuk mencari lokasi tanah wakaf tersebut. Bermodalkan Google Maps kami meluncur dengan motor Karisma yang sudah lumayan tua, sekira keluaran tahun 2000an. Motor Karisma tua itu melaju dengan kecepatan cukup kencang, berada diantara bus-bus yang berseliweran di jalan raya dari Nganjuk-Madiun. Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih dengan jarak 60-an km/jam, kami sampai di Madiun.

Jalan yang kami tempuh kebanyakan jalan kecil dan terjang, sekira sepanjang 15 km jalan sepi dan gersang. Kiri kanannya dipenuhi tanaman pohon jati. Konon, katanya pohon jati ini adalah proyek pemerintah yang suatu waktu tanah tersebut bisa di klaim menjadi milik pemerintah, itu salah satu pembicaraan kami di sembari mengendara sepeda motor.

Rasa haus dan ngantuk dengan perjalanan yang kami tempuh membuat kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di warung milik warga, cukup minum es cappucino berharap rasa ngantuk kami hilang. Kami pun langsung melanjutkan perjalanan, menuju lokasi yang terlihat tinggal beberapa kilometer lagi pada layar Google Maps.

Sesampai di lokasi sesuai petunjuk, kawan saya menerima telepon bahwa tanah yang akan diwakafkan belum bisa di survei. Katanya tanah itu belum selesai dibicarakan dengan keluarganya. Jadilah kami tak tahu harus kemana lagi.

Mengunjungi Monumen Kresek

Beberapa menit kami menunggu di sebuah gubuk tepi sawah, kami pun diperintah untuk melanjutkan survei untuk mencari tempat DIKSARNAS atau Pendidikan Dasar Nasional, sebuah pendidikan bagi kaum muda dari Yayasan Peneleh Jang Oetama tempat kami dibina. Kami diminta melakukan survei ke Monumen Kresek.

Melihat lokasi yang tidak jauh dari tempat kami istirahat, kami langsung menuju ke sana, akan tetapi jalan yang ditunjukkan Google Maps ini tetap jalan kecil dan terjal, di kiri kanan hanya ada satu dua rumah warga dan jarak antar rumah yang satu dengan yang lain pun cukup berjauhan.

15 menit dalam perjalanan, kami sampai di Monumen Kresek, di Desa Kresek, Kecamatan Dungus, Kabupaten Madiun. Monumen Kresek dijadikan tempat wisata bersejarah, tak sedikit orang yang mengunjungi. Saat tiba, kami bertemu dengan orang-orang yang berduyungan datang pergi sekeluarga besar meski hanya untuk sekedar makan bersama. 

Tugu Monumen Keresek/Atmaja Wijaya

Monumen Kresek merupakan salah satu peninggalan bersejarah, menjadi saksi bisu atas kejadian pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengenang peristiwa tersebut dan juga mengenang jasa para korban.

Di sini terdapat rekam jejak para korban kekejaman PKI yang berjumlah 17 orang. Mulai dari TNI sampai pamong desa. Daftar nama-nama korban tertulis pada sebuah di area monumen yang dekat dengan sepasang gapura. Sedangkan tepat di depan tugu terdapat ornamen patung yang menggambarkan bagaimana PKI melukai para korban.

Monumen Kresek
Lorong keluar Area monumen/Atmaja Wijaya

Tak jauh dari tugu, terdapat sebuah pendapa berukuran sekitar 6 x 2 meter, berlantai keramik hitam. Di sini kami mengamati dua patung dengan makna yang berbeda. Untuk dapat melihat lebih dekat, kami harus menaiki tangga.

Patung tersebut menggambarkan kisah seorang kiai atau pemuka agama yang mengalami kekejaman oleh PKI. Diceritakan, PKI banyak menyerang pesantren dan membunuh kiai lantaran mereka tidak suka pada otoritas seorang kiai.

Di bawah patung terdapat aliran air langsung tersambung dengan kolam di bagian bawahnya. Dekat dengan area monumen terdapat taman-taman berisi gobuk-gobuk ramai diduduki pengunjung. Hiasan di jalan lorong jalan keluar area monumen menggunakan payung-payung gantung warna-warni. 

Selepas mengamati dan mempelajari sedikit cuplikan sejarah di Monumen Kresek ini, kami beranjak pulang ke Nganjuk, tempat kami menginap semalam. Sekira magrib, kami tiba di penginapan yang berjarak kurang lebih 60 km dari lokasi survei tadi.

Artikel Terkait
Travelog

Hidup Produktif bersama Perpustakaan Bung Hatta

Travelog

Melawat ke Makam Kehormatan Belanda

Travelog

Coban Pelangi dan Kenangan Apik

Travelog

P4S Tranggulasi: Bukan Hanya Sekedar Kelompok Tani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *