IntervalSemasa Corona

Berdansa di Antara Anugerah dan Musibah

Agama dan keyakinan merupakan garda terdepan dalam memberikan rasa aman dan ketenteraman bagi masyarakat Indonesia.

Agama juga tidak dapat dipisahkan dari praktik peribadatan di rumah Tuhan. Lebih dari sekadar media penghubung manusia dengan Tuhan, gereja, masjid, candi, dan pura serta tempat peribadatan lainnya telah menjadi pot percampuran untuk beragam aktivitas sosial, misalnya bercengkerama dengan sanak saudara dan tetangga. Masyarakat Indonesia berjejalan memasuki rumah Tuhannya ketika panggilan Tuhan dikumandangkan. Berdoa, meminta ampunan dan keberuntungan serta kasih sayang Tuhan memberikan makna pada kehidupan.

Hubungan antara Sang Khalik dan manusia Indonesia ini menjadi pelik semenjak datangnya wabah pandemik. Di antara jejalan manusia di gereja dan masjid, corona semakin giat mengintai, berlompatan dari satu manusia ke manusia lainnya, berada di tengah-tengah manusia dan Tuhannya.

Petugas PMI menyemprot disinfektan untuk cegah penyebaran COVID-19 di kawasan Katedral Santo Petrus, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 20 Maret 2020 via TEMPO/Prima Mulia

Di Prancis, sebanyak 2.500 orang terinfeksi corona setelah melakukan kegiatan agama di gereja (lihat Reuters). Sejumlah 15 orang Pakistan telah dinyatakan positif corona setelah melakukan ibadah salat berjemaah (lihat The Wall Street Journal). Melihat dua kasus ini, Amerika, dengan jumlah pasien corona sebanyak 273.000 orang dengan jumlah kematian 7.000 orang, melarang kegiatan agama di gereja dan menggantinya dengan kegiatan keagamaan berbasis panggilan video daring (lihat Washington Post). Ini dilakukan untuk mencegah penyebaran corona di gereja sekaligus memberikan kesempatan bagi umat Kristiani agar dapat tetap mendengarkan ceramah nasihat dari pastor atau pendeta mereka.

Lalu, apakah Indonesia dapat mencontoh Amerika? Selama musim corona, rakyat Indonesia semakin resah dan gundah, takut apabila corona dapat membunuh diri dan anggota keluarga mereka. Akan tetapi, keresahan terhadap corona ini dikalahkan oleh keinginan mereka bertemu Tuhannya. Upaya demi upaya dilakukan agar mereka tetap khusyuk bertemu Sang Khalik.

Di Bojonegoro, salah satu kota kecil di Jawa Timur, misalnya, masyarakat telah meningkatkan higienitas dan sanitasi di berbagai masjid. Masyarakat di kota ini telah berinisiatif menyemprot disinfektan dan memberikan sabun cuci tangan serta padasan (gentong) untuk melindungi jemaah masjid dari penyebaran virus corona. Ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa kota tetangga, Jombang dan Surabaya, telah memperoleh gelar zona merah, rawan corona. Meskipun seperti itu, pada akhirnya masjid tetap dibanjiri lautan manusia di hari ibadah salat Jumat. Ini menunjukkan bahwa di Indonesia keyakinan terhadap Tuhan mengalahkan ketakutan terhadap keganasan pandemi corona.

Pemerintah kota juga telah mengimbau agar masyarakat tetap di rumah dan mengurangi kegiatan yang bersifat berkerumun dan riuh. Larangan ini termasuk untuk tahlilan. Tahlilan sendiri adalah kegiatan agama yang lazim dijalankan oleh masyarakat Indonesia yang beragama islam, suatu kegiatan mulia untuk mendoakan mendiang—ayah, anak, ibu, dan anggota keluarga lainnya—yang telah menghadap Ilahi terlebih dahulu. Dikarenakan kemuliaan tahlilan tersebut, banyak yang kemudian membangun pemikiran bahwa kita tidak boleh takut akan corona. Pak Kyai menyatakan, “Mati dan hidup adalah kehendak Allah; meninggal dikarenakan corona saat tahlilan insya Allah syahid.” Syahid dapat diterjemahkan meninggal dengan cara mulia, mendapatkan pahala, dan memperoleh jaminan surga di sisi Tuhannya.

Petugas gabungan melakukan penyemprotan desinfektan dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona Covid-19 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2020 via TEMPO/Subekti

Pemikiran ini menyemangati masyarakat untuk melakukan kegiatan-kegiatan peribadatan seperti sebagaimana mestinya. Bahkan mereka rela secara sembunyi-sembunyi melakukan tahlilan. Dulu, tahlilan harus menggunakan pengeras suara. Tetapi, sekarang, takut jika Satpol PP akan melarang kegiatan tahlilan tersebut, masyarakat memilih untuk tidak menggunakan pengeras suara. Ini merupakan cara ampuh untuk menghindari inspeksi Satpol PP, tim yang mencegah penyebaran corona di kota dan desa. Selesai tahlilan, masyarakat berdoa, berjabat tangan, dan berbagi makanan untuk dibawa pulang. Sebuah kelaziman dimaklumkan oleh masyarakat kebanyakan. (Lagipula, data penyebaran corona masih simpang siur. Kurangnya informasi yang akurat dan terbatasnya sarana-prasarana deteksi dini corona pada akhirnya membuat masyarakat semakin yakin bahwa semua akan baik-baik saja apabila kita rajin berdoa.)

Masyarakat selama pandemi corona seakan-akan berdansa di antara anugerah dan musibah. Anugerah karena Sang Khalik memberikan rasa aman dan tenteram melalui keyakinan beragama beserta kegiatan ibadahnya. Musibah dikarenakan corona tidak dapat menahan diri dalam menularkan infeksi penyakitnya melalui udara, jabat tangan, dan kontak fisik lainnya; musuh tak kasatmata yang tidak disadari telah berada di tengah-tengah manusia dan Tuhannya. Namun, ketakutan dan kekhawatiran terhadap pandemi corona ini terkalahkan oleh pahala utama dalam ibadah berjemaah.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Merdeka Agus Saputra

Peneliti di bidang pengelolaan kelautan (marine governance).
Related posts
Semasa Corona

Nanti ketika Semua Membaik

Semasa Corona

Dalgona dan Melodi "Pupus"

Interval

Setelah Lumpur Menyembur: Menengok Kehidupan “Wisata” Lumpur Sidoarjo

Semasa Corona

Perjalanan Duka di Masa Pandemi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *