INTERVALNUSANTARASA

Akulturasi dan Tradisi: Narasi Kuliner Tionghoa Legendaris di Semarang

Ekspedisi kolosal Laksamana Cheng Ho (1405–1433) bukan sekadar misi diplomatik dan niaga, melainkan juga katalisator fundamental bagi kristalisasi identitas kuliner Tionghoa di Nusantara. Di Semarang, pengaruh ini tertanam dalam melalui interaksi lintas budaya selama berabad-abad, yang secara elegan menyatukan tradisi leluhur Tiongkok dengan kearifan lokal Jawa.

Pemahaman akan sejarah ini menjadi penting; kuliner merupakan pemuasan indra perasa dan dokumen sosiologis yang merekam adaptasi komunitas diaspora tanpa kehilangan akar budayanya. Pelestarian narasi ini memastikan, setiap hidangan yang tersaji di meja makan hari ini tetap memiliki jiwa dan konteks historis bagi generasi mendatang.

Berdasarkan catatan sejarah, warga Tionghoa telah menetap di Semarang sejak abad ke-14, mengusung komoditas mewah seperti kain sutra dan porselen. Evolusi kawasan permukiman mereka mencapai titik balik formal pada tahun 1746, ketika pemerintah kolonial Belanda menetapkan Gang Lombok dan bantaran Kali Semarang sebagai kawasan Pecinan (China Town). Penetapan ini awalnya bertujuan untuk mempermudah kontrol jalur distribusi hasil bumi, tetapi secara tak sengaja justru mempererat kohesi sosial etnis Tionghoa di satu episentrum yang kini kita kenal sebagai jantung gastronomi kota.

Konsep “akulturasi” dalam kuliner Tionghoa Semarang menunjukkan fleksibilitas budaya yang luar biasa. Kita dapat melihatnya dari evolusi linguistik dan substansi pada istilah ‘Bak’. Secara etimologis, ‘Bak’ merujuk pada daging babi. Namun, melalui proses panjang adaptasi di tanah Jawa yang mayoritas Muslim, istilah ini mengalami transformasi semantik. 

Produk seperti bakpia, bakpao, dan bakcang kini lazim ditemukan dengan isian kacang hijau atau ayam untuk merambah pasar yang lebih luas. Fleksibilitas inilah yang membuat kuliner Tionghoa di Semarang bersifat inklusif dan dinamis, menjadi pondasi bagi teknik memasak spesifik yang dibawa oleh para perantau tersebut.

Filosofi Dapur Tionghoa

Keunggulan kuliner Tionghoa Semarang yang mampu melintasi zaman bersandar pada dua pilar: penguasaan teknik chao dan ketelitian dalam pemilihan bahan mentah. Teknik memasak ini menandakan disiplin gastronomi yang mengutamakan kecepatan dan kontrol api tinggi. Penggunaan bahan berkualitas, mulai dari rempah dasar hingga bahan eksotis, memberikan kedalaman rasa (complexity) yang sulit direplikasi.

Inti dari keahlian memasak ini terletak pada tiga teknik utama: kecepatan gerak, api besar (high heat), dan ketepatan waktu. Melalui metode chao—menumis cepat dengan sedikit minyak—muncul apa yang dalam dunia kuliner disebut sebagai Wok Hei atau “napas kuali”. Panas yang ekstrem menciptakan aroma gosong yang harum (charred aroma) sekaligus mengunci nutrisi serta kelembapan alami bahan makanan. Hal ini membuat sayuran tetap garing dengan warna yang vibran, kontras dengan metode masak lokal yang cenderung melalui perebusan lama.

Berikut adalah rincian bahan dan rempah kunci yang mendefinisikan karakter kuliner ini:

KategoriBahan / RempahCatatan Signifikansi
Bahan EksotisRebung, Sirip Ikan Hiu, Sarang Burung Walet, Bunga TerataiMemberikan tekstur unik dan nilai prestise pada hidangan ritual.
Protein dan NabatiBebek, Kodok, Daging Kura-kura, Tahu, Susu KedelaiMenunjukkan keragaman sumber protein dalam diet peranakan.
Rempah KunciAngkak, Bunga Lawang (Pekak), Jahe, CengkehMemberikan aroma rempah yang hangat dan warna merah alami.
Bumbu CairMinyak Wijen, Arak, Kecap, Saus TiramFondasi rasa gurih (umami) dan aroma yang menggugah selera.

Teknik chao yang mengandalkan kecepatan ini memastikan sel-sel bahan makanan tidak rusak sepenuhnya, sehingga kesegaran tetap terjaga. Manifestasi paling ikonik dari perpaduan teknik dan bahan ini adalah penganan yang menjadi identitas Semarang: lumpia atau lunpia (loenpia).

Episentrum Rasa di Gang Lombok

Gang Lombok adalah “titik nol” gastronomi Tionghoa di Semarang. Meskipun hanya membentang sekitar 200 meter, area ini memiliki nilai sejarah tak ternilai. Di sinilah Kelenteng Tay Kak Sie yang dibangun pada 1746 berdiri teguh, menjadi jangkar bagi kehidupan komunal dan ekonomi di sekitarnya.

Lumpia Semarang lahir dari sebuah simfoni cinta lintas budaya pada abad ke-19 antara Tjoa Thay Yoe, seorang perantau asal Fujian, dan Wasih, seorang gadis pribumi. Pernikahan mereka melahirkan fusi rasa: isian rebung dan daging khas Tiongkok dipadukan dengan selera lokal. 

Warisan resep asli tersebut kemudian diteruskan oleh putri tunggal mereka, Tjoa Po Nio, setelah menikah dengan Siem Gwan Sing pada tahun 1930. Dari pernikahan pasangan generasi kedua inilah lahir para penerus generasi ketiga yang memecah lumpia Semarang menjadi aliran-aliran legendaris dan masih eksis hingga hari ini.

Dalam lanskap modern, aliran warisan tersebut terbagi menjadi tiga pilar utama dengan karakter dan target pasar tersendiri. Pilar pertama adalah Lumpia Gang Lombok No. 11 yang kini dikelola oleh Siem Swie Kiem. Kedai ini sangat mempertahankan orisinalitasnya melalui racikan rebung yang bebas bau serta isian telur dan udang yang tidak amis.

Sementara itu, pilar kedua diwakili oleh Loenpia Mbak Lien di Jalan Pemuda yang menawarkan variasi lebih mewah dengan campuran udang dan ayam kampung, tekstur garing tidak berminyak, serta tempat yang nyaman bagi wisatawan. Pilar ketiga, Lumpia Express di Jalan Gajahmada, menyasar pasar modern melalui kemasan praktis dan layanan pesan antar, namun tetap menjaga silsilah dan autentisitas rasa dari garis keturunan Tjoa Po Nio dan Siem Gwan Sing.

Tolok ukur kualitas lumpia terletak pada pemilihan rebungnya. Perajin lumpia legendaris menggunakan bambu betung, bambu kuning, rampal, ori, atau ater yang memiliki rasa manis alami. Sebaliknya, bambu apus sangat dihindari karena rasanya yang pahit. Secara filosofis, rebung atau tunas bambu melambangkan harapan agar kehidupan terus tumbuh tinggi.

Narasi rasa di area ini diperkaya oleh Rumah Makan Singapore (Siang Kie) di nomor 10 yang menawarkan menu autentik, seperti mie ayam, siomay babi, dan hidangan unik tahubak (tahu isi daging babi). Sebagai penutup yang menyegarkan, Es Campur Gang Lombok No. 9 menyajikan racikan tanpa pengawet yang berisi irisan mangga, kelapa muda, nanas, blewah, pepaya, kolang-kaling, dan cincau hitam yang disiram sirup jambon buatan sendiri.

Dari Pasar Semawis hingga Pujasera Tay Kak Sie

Ruang komunal di kawasan Pecinan memegang peranan penting dalam mendemokrasikan kuliner Tionghoa bagi masyarakat luas sekaligus menggerakkan roda ekonomi kreatif komunitas lokal. Dinamika ini terlihat jelas di Pasar Semawis, pasar malam akhir pekan yang didirikan sejak 2004 untuk memperingati 600 tahun kedatangan Cheng Ho. Tempat ini menjadi pusat kuliner yang menyajikan beragam sajian autentik, mulai dari hangatnya wedang ronde, gurihnya bakcang, hingga sate babi.

Keanekaragaman kuliner kian terasa di Pujasera Tay Kak Sie yang berlokasi tepat di samping kelenteng. Area ini menawarkan spektrum rasa yang sangat kontras, mulai dari stan vegetarian A Heng yang piawai mengolah tepung menjadi “daging” imitasi, hingga stan Pak No yang menyajikan hidangan eksotis seperti swike (paha kodok) dan pimbak (bulus) yang dimasak dengan kuah tauco atau sup kaya rempah.

Sementara itu, Pasar Gang Baru hadir sebagai jantung tradisi yang menyediakan berbagai bahan baku untuk ritual budaya. Suasananya menjadi sangat riuh menjelang Imlek saat warga berburu kue ku berbentuk kura-kura sebagai simbol panjang umur dan huat kue yang mekar sebagai lambang kesuksesan usaha. Di pasar ini pula masyarakat dapat menemukan sayur asin alami yang difermentasi menggunakan air tajin—bahan utama dalam racikan bakut sayur asin.

Eksplorasi Tekstur dan Rasa Autentik

Kuliner peranakan Semarang mewakili harmoni spektrum rasa yang luas dan menjadi bukti nyata akulturasi budaya. Karakter unik ini tercermin kuat pada RM Air Mancur di Gang Pinggir yang menjadi spesialis nasi bakmoy sejak 1957 dengan kuah gurih berisikan tahu dadu serta telur pindang. Serta RM Gajahmada yang menawarkan nasi tim ayam lembut berpotongan jamur besar sebagai pilihan sarapan klasik warga setempat.

Kekayaan cita rasa tersebut makin lengkap lewat sajian gorengan dan hidangan berkuah asam-pedas yang melegenda. Sejak 1949, Tahu Pong Karang Saru menyajikan tahu berkulit renyah dengan bagian tengah kosong (kopong) yang optimal menyerap saus petis encer, dipadukan dengan segar acar lobak sebagai penyeimbang rasa. 

Di sisi lain, asem-asem Koh Liem di Jalan Karanganyar hadir membawa profil rasa asam-pedas yang khas selama lebih dari tiga dekade. Meski sering pula dibandingkan dengan asem-asem RM Rahayu Demak yang dikenal punya kedalaman bumbu tersendiri.

Perjalanan rasa di Semarang ditutup manis oleh ragam produk kuliner yang lahir dari interaksi global antara budaya Tionghoa, Jepang, dan Belanda. Salah satu ikonnya adalah Moaci Gemini yang berpusat di Jalan Kentangan Barat No. 101—dulunya mes karyawan sekaligus tempat produksi. Kudapan kenyal dari beras ketan ini mengadaptasi pengaruh kue Jepang (mochi), yang kini isiannya bervariasi antara kacang tanah original, durian, stroberi, dan cokelat.

Harmoni antarbangsa ini kian terasa saat melangkah ke Toko Oen yang berdiri sejak 1936 sebagai sebuah monumen nostalgia. Lengkap dengan furnitur kayu kuno dan piano tua, Toko Oen konsisten mempertahankan menu fusi “Indo-China-Belanda” seperti capcay dan kwetiau goreng menggunakan resep autentik yang konsisten selama puluhan tahun.

Keberadaan ragam kuliner ini menegaskan kuliner Tionghoa di Semarang sebagai komoditas konsumsi dan dokumen sejarah yang hidup. Dari dermaga tempat Cheng Ho bersandar hingga meja makan di Toko Oen, setiap suapan menyimpan narasi adaptasi dan keteguhan budaya.

Referensi:
Deerona, dan Gagas Ulung. 2014. Jejak Kuliner China yang Melegenda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Marahimin, Hiang. 2011. Masakan Peranakan Tionghoa Semarang. Jakarta: Gaya Favorit Press.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti Penulis lepas di media cetak dan online, menulis 60+ buku multitema, pendiri Rumah Pustaka BMA, dan penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Budaya Sarapan Indonesia, dari Keragaman Menu dan Seni Penyajiannya