TRAVELOG

Bulan Madu yang Tidak Biasa di Gili Gede Lombok

Ini bukan sekadar catatan perjalanan biasa. Ini perjalanan yang kami pilih untuk merayakan awal kebersamaan sebagai pasangan. Setelah mempertimbangkan banyak pilihan, selain menghabiskan waktu di Bali, kami sepakat mencari tempat lain yang menawarkan ketenangan. Perlahan nama Gili Gede di Lombok masuk ke dalam rencana honeymoon (bulan madu) kami.

Kami tiba di Bali (27/6/2026) dan menghabiskan waktu sekitar satu minggu di sana. Hari-hari diisi dengan berbagai aktivitas: berwisata ke pantai, menikmati kafe, hingga menjelajahi sudut-sudut kota. Bali memang menawarkan pengalaman yang lengkap, tetapi juga menghadirkan kepadatan yang tak bisa dihindari.

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Lombok (1/7/2026). Dari Pelabuhan Padang Bai, Bali, kami menyeberang menggunakan kapal feri menuju Pelabuhan Lembar. Perjalanan laut itu memakan waktu sekitar tujuh jam.

Bagi suami saya, ini adalah pengalaman pertamanya menaiki kapal feri. Ada rasa antusias sekaligus sedikit canggung di awal, tetapi perlahan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan. Selama ini ia bekerja di dunia IT dengan ritme yang sangat profesional, bahkan sering saya bercanda, “Profesionalitasmu sudah seperti CEO yang tidak pernah libur.” Saat menikah, ia hanya mengambil cuti dua hari dan baru saat bulan madu ini ia benar-benar mengambil satu bulan penuh. Di dek kapal, kami duduk memandangi laut lepas, membiarkan angin membawa rasa lelah sekaligus harapan.

Saya sendiri juga datang dari fase hidup yang cukup transformatif. Saya baru saja resign dari pekerjaan saya dua minggu sebelum pernikahan kami. Rasanya seperti menutup bab besar sebelum membuka bab baru. Setibanya di Lombok, kami tidak langsung menuju Gili Gede. Kami memilih untuk menginap semalam di Mataram. Hari itu kami gunakan untuk mengunjungi Pantai Ampenan, menikmati sate Rembiga, dan beristirahat.

Kami berdua juga memiliki kesamaan kecil yang sering membuat perjalanan ini terasa ringan: kami sama-sama penggemar One Piece. Pernah suatu kali saya bercanda bahwa ia bisa menjadi Luffy versi nyata ketika nanti kami mengunjungi pulau-pulau dengan topi jerami. Di tengah laut dan pulau-pulau kecil itu, kadang kami memang merasa seperti sedang menjalani versi sederhana dari cerita bajak laut. Bukan untuk mencari harta, melainkan mencari waktu dan ruang yang lebih pelan.

Pemandangan saat merapat ke Pelabuhan Lembar
Pemandangan saat merapat ke Pelabuhan Lembar/Halimatu Sa’diah Koruch

Jejak Lama di Gili Asahan

Perjalanan ini sebenarnya tidak hanya tentang bulan madu. Ada lapisan memori yang jauh lebih lama, yang saya bawa kembali ke tempat ini. Pada tahun 2018, saat masih menempuh pendidikan S-1, saya pernah datang ke Gili Asahan sebagai relawan pengajar di sekolah dasar selama satu minggu.

Saat itu, kondisi saya sangat berbeda. Sebagai mahasiswa S-1, saya datang dengan keterbatasan. Saya bahkan bisa menyebut diri saya “bokek” dan tidak bisa menjelajahi pulau-pulau lain di sekitar Gili Asahan. 

Namun, justru dari kesederhanaan itulah, saya menyimpan kenangan yang kuat. Suasana pulau yang tenang dan laut yang terlihat begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari memori yang tidak pernah hilang. Saya selalu bertanya-tanya bagaimana rupa pulau-pulau lain, yang dulu hanya bisa saya lihat dari kejauhan.

Karena itu, kembali ke Lombok dalam perjalanan kali ini bukan hanya tentang liburan. Ada keinginan untuk menyambung kembali potongan masa lalu itu, mengunjungi kembali pulau yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, sekaligus memperkenalkannya kepada suami saya yang berasal dari Eropa dan sebagian besar hidupnya dihabiskan di kota.

Momen saat menjadi relawan pengajar di sekolah dasar Gili Asahan tahun 2018/Halimatu Sa’diah – Koruch

Menjelajahi Gili Gede

Dibandingkan beberapa pulau lainnya di sekitarnya, Gili Gede tergolong cukup besar. Kondisi ini memberi kami ruang untuk benar-benar menjelajahi pulau, bukan hanya tinggal diam di satu titik. Hampir setiap hari kami bergerak dari satu titik ke titik lain hingga akhirnya perlahan berhasil mengelilingi Gili Gede.

Pengalaman ini membuka cara pandang baru tentang pulau kecil yang ternyata menyimpan banyak variasi ruang hidup. Tidak hanya pantai dan laut, tetapi juga jalan-jalan kecil, permukiman warga, hingga sudut-sudut yang tidak tersentuh wisata massal. Dalam proses penjelajahan itu, kami menemukan ritme perjalanan yang lebih cair. Tidak dibatasi itinerary, tetapi mengikuti rasa ingin tahu.

Kami juga mencoba berbagai tempat makan lokal—total sekitar 12 tempat makan selama berada di sana. Dari semua pengalaman kuliner tersebut, yang paling berkesan adalah Sasak Resto, yang menyajikan makanan sederhana dengan cita rasa khas masyarakat Sasak. Sebagai pencinta seafood, saya cukup terkejut karena harga seafood di Gili Gede relatif lebih mahal dari perkiraan. Namun, setelah mencicipinya, hal itu menjadi masuk akal: rasanya segar dan langsung dari laut.

Di sela penjelajahan, kami juga menikmati hal-hal kecil yang justru menjadi inti pengalaman. Kami mencari kerang di beberapa titik pantai untuk dibawa pulang, menikmati sunset yang perlahan tenggelam dengan pemandangan Gunung Rinjani, dan menyaksikan sunrise yang muncul pelan dari balik laut. Kami juga menyusuri jalan-jalan kecil dan resort yang terbengkalai, mengunjungi spot kapal karam, dan melihat perahu-perahu yang menjadi bagian dari lanskap pulau.

Semua pengalaman itu terasa spontan, tetapi justru membentuk satu kesatuan perjalanan yang utuh. Di sana, kami tidak sekadar berwisata, tetapi juga hidup di dalam ritme pulau.

Pemandangan senja di Gili Gede
Pemandangan senja di Gili Gede/Halimatu Sa’diah – Koruch

Melihat Indonesia sebagai Negeri Kepulauan

Selama di Gili Gede, salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika kami juga menjelajahi pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kami menyewa kapal dengan biaya sekitar 700 ribu untuk satu hari, lalu menghabiskan waktu berkeliling empat pulau di sekitar Gili Gede: Gili Layar, Gili Asahan, Gili Rengit, dan Gili Goleng. Gili Asahan menjadi salah satu yang paling bermakna bagi saya secara pribadi. Kembali ke pulau itu setelah delapan tahun membawa perasaan yang sulit dijelaskan. Kali ini, saya tidak sendiri. Saya membawa suami saya dan itu memberi makna baru pada perjalanan lama yang pernah saya jalani.

Di Gili Asahan, saya juga kembali mengunjungi sebuah resort yang dikelola oleh teman saya, seorang warga Jerman yang tinggal di sana dan aktif berkontribusi pada kehidupan pulau. Ia terlibat dalam upaya pendidikan anak-anak pulau. Termasuk renovasi sekolah dasar serta penggalangan donasi untuk mendukung beberapa anak agar tetap bisa melanjutkan pendidikan tinggi. Kunjungan ini menambah lapisan lain dalam pengalaman kami bahwa pulau kecil ini tidak hanya hidup dari alam dan pariwisata, tetapi juga dari jejaring kepedulian lintas negara.

Dalam perjalanan ini, kami juga menghabiskan waktu snorkeling di dua titik berbeda. Pemandangannya sangat indah: terumbu karang yang masih terjaga, ikan-ikan yang bergerak bebas, dan kehidupan bawah laut yang terasa hidup dan jernih. 

Potret warga lokal yang sedang memancing di tepi laut
Potret warga lokal yang sedang memancing di tepi laut/Halimatu Sa’diah – Koruch

Momen berada di dalam air itu menjadi salah satu bagian paling membekas dari seluruh perjalanan. Ada satu hal yang semakin terasa jelas: Indonesia benar-benar negara kepulauan yang luas dan berlapis. Setiap pulau memiliki kehidupannya sendiri dan ritmenya sendiri.

Kami meninggalkan Lombok (10/7/2026) dan terbang kembali ke Yogyakarta. Setibanya di Yogyakarta, kota tempat ibu saya tinggal, kami menghabiskan sekitar dua minggu sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Eropa. Rasanya seperti menutup satu rangkaian panjang yang bergerak pelan dari laut, pulau, hingga kembali ke rutinitas yang berbeda di benua lain.

Bagi kami, Gili Gede adalah tempat bertemunya memori pribadi dan ruang berbagi pengalaman bersama. Tidak hanya suami saya yang diam-diam membawa semangat Luffy dalam cara ia memandang hidup: penuh petualangan, sedikit nekat, dan selalu mencari harta di luar materi. Saya pun ternyata begitu, meski tanpa topi jerami. Kabar baiknya, kami sama-sama belum berhasil membajak kapal yang karam sekalipun.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Halimatu Sa'diah - Koruch

Halimatu Sa’diah - Koruch kini berdomisili di Polandia. Ia memiliki minat pada jurnalisme dan fotografi. Ia menempuh pendidikan S-1 di Indonesia dan S-2 di Thailand. Ia tertarik pada topik lingkungan, perempuan, sosial, dan budaya.

Halimatu Sa'diah - Koruch

Halimatu Sa’diah - Koruch kini berdomisili di Polandia. Ia memiliki minat pada jurnalisme dan fotografi. Ia menempuh pendidikan S-1 di Indonesia dan S-2 di Thailand. Ia tertarik pada topik lingkungan, perempuan, sosial, dan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Lombok