INTERVAL

Babakan Hegar Manah, Tanah Sunda yang Masih Memeluk Erat Budaya

“Bantu, atuh. Hari ini kami bantu sawahnya, besok kalau giliran kami yang tanam, mereka juga datang. Sudah begitu dari dulu.” Kalimat sederhana ini masih saya ingat ketika berbincang dengan seorang warga Babakan Hegar Manah, sebuah desa di kaki Gunung Salak.

Bagi saya, kalimat tersebut bukan sekadar cerita tentang gotong royong. Ada cara pandang terhadap kehidupan yang sedang diperlihatkan, bahwa hidup tidak dijalani sendirian. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, yang lain datang. Ketika seseorang memiliki pengetahuan, ia membagikannya. Ketika alam menjadi sumber kehidupan, ia ikut dijaga.

Dari Babakan Hegar Manah, saya perlahan menemukan makna falsafah kehidupan masyarakat Sunda yang selama ini hanya saya kenal sebagai ungkapan silih asih, silih asah, dan silih asuh.

Lanskap alam di Babakan Hegar Manah (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Lanskap alam di Babakan Hegar ManahAdipatra Kenaro Wicaksana

Belajar Hidup dari Sawah dan Warganya

Saya bersama enam rekan dari Bakti Muda Nusantara bermalam di rumah salah seorang warga yang telah lama kami kenal. Kedekatan itu membuat kami tidak diperlakukan seperti tamu. Rumah dibukakan, makanan disiapkan, dan obrolan berlangsung seperti kami sedang berkumpul dengan keluarga sendiri.

Pagi harinya, saya mengikuti aktivitas warga menuju persawahan. Jalan setapak membelah perbukitan, sementara hamparan padi mengikuti kontur lereng. Air sungai yang mengalir dari kawasan Gunung Salak menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Pertanian dan perikanan menjadi sumber penghidupan utama warga.

Namun, yang paling menarik perhatian saya bukan sekadar bagaimana sawah menghasilkan padi atau kolam tambak menghasilkan ikan. Saya justru melihat bagaimana kehidupan masyarakat dibangun dari hubungan yang saling bergantung.

Suatu sore, setelah para petani kembali dari sawah, kami duduk bersama di beranda rumah dan saung bambu. Kopi hitam dan kudapan sederhana menemani percakapan.

“Kalau panen lagi bagus, ya, disyukuri. Kalau kurang bagus, ya, dicari penyebabnya. Namanya juga hidup dari alam,” ujar seorang bapak.

Bagi saya, kalimat itu memperlihatkan hubungan yang sederhana tetapi kuat antara manusia dan alam. Alam bukan hanya tempat mengambil hasil, melainkan juga bagian dari kehidupan yang harus dipahami dan dijaga.

Pemahaman itu semakin terasa ketika percakapan kami berlanjut pada kebiasaan warga saling membantu. Tidak ada kesepakatan tertulis. Tidak ada hitung-hitungan mengenai siapa yang harus membayar kembali bantuan. Ketika seorang warga menanam padi, tetangganya datang membantu. Ketika giliran tetangga yang bekerja di sawah, bantuan yang sama akan kembali diberikan.

Gotong royong di sini bukan kegiatan seremonial yang menunggu agenda. Ia menjadi kebiasaan. Dari situlah saya mulai memahami falsafah silih asih.

Tata kelola lahan persawahan dan distribusi aliran irigasi diatur lewat falsafah kehidupan khas masyarakat Babakan Hegar Manah (Adipatra Kenaro WIcaksana)
Tata kelola lahan persawahan dan distribusi aliran irigasi diatur lewat falsafah kehidupan khas masyarakat Babakan Hegar Manah/Adipatra Kenaro WIcaksana

Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh

Dalam kehidupan masyarakat Sunda, silih asih, silih asah, dan silih asuh bukan sekadar rangkaian kata yang terdengar indah. Di Babakan Hegar Manah, ketiganya dapat ditemukan melalui tindakan sehari-hari.

Silih asih berarti saling menyayangi. Saya merasakannya sejak pertama kali datang. Saya dan rekan-rekan diterima dengan kehangatan yang membuat jarak antara pendatang dan warga terasa begitu tipis.

Rumah menjadi ruang untuk berbagi cerita. Makanan dibagikan. Percakapan berlangsung tanpa sekat. Kehangatan tersebut membuat saya menyadari bahwa menerima orang lain sebagai bagian dari kehidupan bersama juga merupakan bentuk kepedulian.

Kemudian ada silih asah, saling mengasah atau berbagi pengetahuan. Para petani bercerita tentang cara menjaga tanah, mengatur aliran air, hingga menentukan waktu tanam berdasarkan perubahan musim. Pengetahuan tersebut tidak selalu berasal dari pendidikan formal. Sebagian tumbuh dari pengalaman, kemudian diwariskan dari orang tua kepada anak dan diteruskan kembali kepada generasi berikutnya.

Bagi saya, inilah bentuk pendidikan yang sering luput kita lihat. Pengetahuan tidak selalu berada di ruang kelas atau buku. Ia juga hidup di sawah, di sungai, di kolam, dan dalam percakapan antargenerasi.

Sementara silih asuh terlihat dari kepedulian untuk menjaga kehidupan bersama. Ketika saluran irigasi mengalami kerusakan, warga memperbaikinya bersama. Mereka memahami bahwa air tidak hanya menghidupi satu petak sawah, tetapi juga menjadi kebutuhan banyak orang. Ketika ada tetangga yang membutuhkan bantuan, warga datang tanpa harus menunggu diminta.

“Kalau kampung ini mau tetap hidup, ya, semua harus ikut menjaganya,” ujar seorang tokoh masyarakat kepada kami.

Kalimat itu membuat saya kembali memikirkan tiga falsafah tadi. Silih asih membuat manusia peduli kepada manusia lain. Silih asah membuat pengetahuan tidak berhenti pada satu orang. Sementara silih asuh membuat kepedulian itu berkembang menjadi tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama.

Ketiganya tidak berdiri sendiri. Justru karena saling melengkapi, kehidupan masyarakat dapat terus berjalan.

Anak-anak bermain batu dan air sungai di dekat kampung (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Anak-anak bermain batu dan air sungai di dekat kampung (Adipatra Kenaro Wicaksana)

Manusia, Alam, dan Kehidupan yang Seimbang

Semakin lama berbincang dengan warga, saya merasa falsafah kehidupan di Babakan Hegar Manah tidak hanya berbicara mengenai hubungan antarmanusia. Ada hubungan lain yang tidak kalah penting, yakni hubungan manusia dengan alam.

Sawah membutuhkan air. Kolam membutuhkan aliran sungai. Masyarakat membutuhkan hasil pertanian dan perikanan. Karena itu, menjaga air dan lingkungan bukan sekadar persoalan ekologis, melainkan juga bagian dari menjaga keberlangsungan kehidupan kampung.

Dari sini saya kemudian mengenal konsep Tri Tangtu di Buana, yang dalam percakapan kami menjadi cara lain untuk memahami keseimbangan kehidupan masyarakat Sunda. Konsep tersebut memandang kehidupan sebagai kesatuan yang ditopang oleh tiga unsur: Rama, Resi, dan Ratu.

Rama melambangkan rakyat atau masyarakat yang menjaga sumber kehidupan melalui tanah dan pangan. Resi berkaitan dengan nilai, etika, dan kebijaksanaan yang menjadi pedoman kehidupan. Sementara Ratu berperan sebagai pemimpin yang menjaga keteraturan dan kehidupan bersama. 

Ketiganya bukan sekadar pembagian kekuasaan. Justru terdapat hubungan yang saling melengkapi.

Ketika saya melihat kembali kehidupan di Babakan Hegar Manah, konsep tersebut terasa tidak sepenuhnya abstrak. Para petani menjalankan perannya dengan mengelola tanah dan menjaga sumber kehidupan. Tokoh agama menjadi tempat masyarakat meminta nasihat. Pemimpin kampung mendorong kebersamaan dalam berbagai kegiatan.

Nilai-nilai tersebut mungkin tidak selalu disebutkan dengan istilah-istilah filosofis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, praktiknya masih dapat ditemukan.

Saya melihatnya ketika warga membantu tetangga menggarap sawah. Saya mendengarnya ketika seorang petani membagikan pengetahuannya mengenai musim dan tanah. Saya merasakannya ketika warga bersama-sama memperbaiki saluran air.

Dari situlah falsafah tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibicarakan, tetapi menjadi sesuatu yang dijalani.

Sistem pengelolaan air irigasi Babakan Hegar Manah (Adipatra Kenaro Wicaksana)
Sistem pengelolaan air irigasi Babakan Hegar Manah/Adipatra Kenaro Wicaksana

Falsafah yang Menjadi Pedoman Hidup

Babakan Hegar Manah membuat saya melihat bahwa sebuah kebudayaan tidak selalu bertahan karena masyarakat terus mengucapkan nama atau definisinya. Kadang ini justru bertahan karena masih dipraktikkan.

Silih asih, silih asah, dan silih asuh hidup dalam kebiasaan saling membantu. Hadir dalam pengetahuan yang diwariskan, dalam rumah yang terbuka bagi orang lain, dan dalam kesadaran bahwa kehidupan satu orang berkaitan dengan kehidupan orang lain.

Begitu pula hubungan dengan alam. Sungai yang dijaga, sawah yang dirawat, dan sumber air yang digunakan bersama menunjukkan bahwa desa ini bukan sekadar latar tempat manusia tinggal. Alam menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri.

Sebagai orang yang datang dari luar, saya mungkin belum sepenuhnya memahami seluruh lapisan falsafah masyarakat Babakan Hegar Manah. Namun, perjalanan singkat ini memberi saya satu pelajaran penting bahwa kehidupan bersama tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

Ada kalanya ia hanya membutuhkan kemauan untuk saling menyayangi, saling belajar, dan saling menjaga. Bagi saya, di situlah nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh menemukan maknanya. Bukan sebagai peninggalan masa lalu yang disimpan dalam ingatan, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang masih bekerja di tengah masyarakat.

Dan mungkin, selama masih ada orang yang bersedia membantu tetangganya di sawah, berbagi pengetahuan kepada generasi berikutnya, serta menjaga tanah dan air yang menjadi sumber kehidupan bersama, falsafah itu tidak benar-benar pergi.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Adipatra Kenaro Wicaksana

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat dengan Ilmu Terapan Kesehatan Lingkungan, Sesekali menjaga lingkungan agar tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali menyiram tanaman di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Montolutusan di Tanah Karst, Menelusuri Kehidupan Masyarakat Luwuk-Banggai