Pilihan EditorTravelog

Aksara Jawi dalam Inskripsi di Kalimantan Selatan

Saya mengeja huruf-huruf yang tertulis di sebuah kertas kuning. Buku itu menjelaskan bab-bab keagamaan yang berhubungan dengan tuhan. Sembari mendengarkan guru, saya mendengarkan dengan seksama kata per kata yang beliau bacakan. Saya mengangguk tanda mengerti. Kata-kata di kitab ini bukan kata-kata dengan huruf latin yang mudah dipahami, kitab ini biasa disebut kitab kuning atau kitab arab gundul. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Banjar dengan aksara Jawi. 

Aksara Jawi memang sudah terkenal seantero Nusantara sebagai salah satu aksara yang populer digunakan pada masa Islam. Untuk di Banjar, penggunaan aksara Jawi sendiri secara resmi digunakan setelah Kerajaan Banjar setelah pengganti Kerajaan Nagara Daha itu resmi sebagai kerajaan Islam. Setelah diislamkan oleh Khatib Dayan sebagai perwakilan dari Demak, beberapa arsitektur serta budaya Banjar mulai berasimilasi dengan budaya Islam-Jawa.

Paling nampak mencolok selain arsitektur, salah satunya adalah penggunaan huruf Jawi. Huruf yang diadopsi dari huruf Hijaiyah ini digunakan dalam berbagai acara resmi kerajaan dan penyebaran informasi seperti kegiatan surat-menyurat, penulisan kitab-kitab agama, penulisan inskripsi, dan sebagainya. Pada kegiatan keagamaan, penulisan kitab-kitab kuning yang beraksara Jawi mulai ramai semenjak Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Masa inilah masa dimana Kerajaan Banjar berada di puncaknya.

Tulisan beraksara Huruf Jawi banyak saya temukan dalam bangunan cagar budaya. Masjid Sultan Suriansyah sebagai masjid pertama dari Kerajaan Banjar mempunyai dua buah inskripsi pada lawang agung yang terdapat di dekat tempat imam. Kedua inskripsi ini berukuran 50×50 cm dan berbentuk segi delapan. Inskripsi ini menjelaskan pembangunan lawang agung oleh Kiai Damang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidullah II yang bertarikh 1159 Hijriah atau 1746 Masehi. 

Pelan-pelan mata saya mengamati lekuk demi lekuk garis lengkung yang membentuk huruf  tersebut. Huruf-huruf yang dipahatkan di kayu ulin itu memang lebih sukar dibaca dibanding inskripsi lainnya yang pernah saya lihat. Tulisannya terlihat indah dengan gaya tsuluts, gaya yang umum digunakan sebagai gaya penulisan ayat Al-Quran ataupun Hadist sebagai hiasan mesjid atau hiasan dekorasi.

Salah satu inskripsi lainnya yang pernah saya kunjungi adalah yang berada di makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Seorang ulama besar Kalimantan yang berjasa banyak dalam bidang keilmuan masyarakat Kalimantan. Karyanya yang paling terkenal adalah Sabilal Muhtadin, kitab fiqih yang menjadi rujukan hingga mancanegara.

Suara lantunan ayat-ayat suci terus menerus mengisi ruangan, menciptakan suasana syahdu di kalangan peziarah, termasuk saya yang hening dalam doa. Saya mengabadikan momen-momen para peziarah yang khusyuk berdoa dan inskripsi yang digantung tepat di pagar makam, “Adalah wasiat syarak tuan pada anak cucu sayidina yang mudik ka Kalampaian minta bacaan qul huwallah tiga belas kali dan salawat empat belas kali dan fatihah dan qul a’udzu bi rabbbil falaq dan qul a’udzu birabbi naas sakali dan demikian lagi daripada yang lain daripada anak cucu sayidina intaha sanah 1228”.  

Tulisannya menggunakan gaya naskhi yang mudah dibaca serta terkesan ringan. Umumnya gaya naskhi digunakan dalam penulisan kitab atau surat-surat yang bersifat administrasi. Inskripsi tadi berisi panduan berziarah ke makam beliau yang berada di Desa Kalampaian. Pada komplek tersebut tidak hanya terdapat makam beliau, melainkan juga cucu buyut beliau yang juga menjadi orang-orang al-alim al-alamah

Umumnya inskripsi Jawi jarang ditemukan di makam-makam pada jaman dahulu, sebab menurut kepercayaan, menuliskan tulisan pada makam dapat membuat yang membaca menjadi sakit mata. Kepercayaan ini ditambah dengan kuatnya ilmu-ilmu tasawuf yang ada di daerah Kalimantan Selatan, menuliskan nama dianggap sebagai memperbesar diri, hal yang sangat tabu dalam tasawuf karena bagian dari sifat sombong. 

Seperti yang pernah saya tulis di sini sebelumnya, sumber data skripsi yang saya kerjakan adalah sebuah inskripsi yang berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Berdasarkan pembacaan dari hasil skripsi terdapat delapan baris kalimat dengan bunyi: “Bahawa ini parintah daripada sultan barang siapa mamainkan dan riyam dan mangamas dan manggapap yaitu mantjuri paikat dan batung paring dan buluh lumu tiap bulan manguturi yang telah tersebut itu tamat kalam”. Dalam kesimpulan yang saya dapat, inskripsi ini menuliskan tentang larangan mencuri bambu-bambuan yang ada di wilayah sekitar tempat dikeluarkannya inskripsi dan juga berjudi.

Dasar larangan tersebut adalah Undang-Undang Sultan Adam 1835 yang memuat 38 pasal, salah satunya adalah tentang kewajiban tetuha kampung  untuk mengatur wilayahnya masing-masing berdasarkan apa yang terjadi di daerahnya. Inskripsi ini mempunyai keunikan dibanding yang lainnya. Nuqthah (titik) pada huruf Jawi hanya menggunakan satu titik yang bisa mewakili apakah titik tersebut menunjukkan dua titik atau tiga titik. Gaya yang diadopsi ini merupakan gaya riq’ah yang sering digunakan untuk penulisan umum yang mementingkan kecepatan menulis. Nuqthah pada riq’ah cenderung tajam sedangkan pada inskripsi ini cenderung membulat.

Meskipun penggunaan aksara ini terlihat umum di masa lalu, dalam kehidupan sehari-hari, aksara ini mulai dilupakan. Tidak pernah saya mendapati pengajarannya dalam sekolah-sekolah berbasis pendidikan modern. Pembelajaran huruf Jawi justru lestari pada kalangan santri-santri yang mempelajari kitab kuning sebagai sumber bacaan mereka. Penerapannya pun terhitung mundur, saya hanya melihat di beberapa kantor kabupaten di Kalimantan Selatan yang juga menuliskan aksara Latin berdampingan dengan aksara Jawi. Orang-orang sedikit demi sedikit, mulai melupakan aksara Jawi, yang di masa dahulu merupakan sebuah identitas, kini menjadi sebuah kelangkaan di tengah kepungan huruf latin. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.

Penikmat budaya lintas masa dan lintas benua.
Artikel Terkait
Travelog

Bersumpah Berhenti Merokok di Bibir Jonggring Saloko

Travelog

Liburan Indie di Kakek Bodo Campground, Pasuruan

Travelog

Purun yang Menjadi Nyawa Kampung Purun

Semasa CoronaTravelog

Bersepeda Pagi Menuju Stadion Manahan Surakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Arkeologi Maritim dan Harta Karun yang Tergadaikan