Interval

Rupa ‘Overtourism’ di Destinasi Wisata Indonesia

Semenjak negara kita semakin menggebu-gebu mencari target wisatawan, bahaya laten overtourism semakin nyata. Degradasi lingkungan yang terjadi akibat pariwisata bukan isapan jempol belaka. Beberapa waktu yang lalu ramai diberitakan mengenai wacana wisata super premium yang menargetkan Pulau Komodo sebagai langkah awal untuk memulainya.

Beragam protes mulai berdatangan, memprotes kebijakan pemerintah yang satu ini. Mulai dari urusan penduduk pulau yang harus terusir karena pembangunan, hingga opini bahwa wilayah jelajah komodo yang semakin sempit. Lalu, sewaktu hari-hari tertentu seperti perayaan 17 Agustus kemarin, pengunjung gunung-gunung membludak, padahal dalam kondisi pagebluk, keadaan ini tentu bisa memperparah penyebaran COVID-19 disamping dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Berikut beberapa tempat wisata di Indonesia yang mengalami overtourism.

1. Borobudur

overtourism indonesia
Candi Borobudur via TEMPO/Abdi Purnomo

Maskot pariwisata Indonesia yang berada di Jawa Tengah ini menjadi primadona untuk wisata monumen. Sebagai salah satu mahakarya arsitektur Indonesia, tidak mengherankan jika Borobudur selalu menyedot perhatian para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjunginya. Tercatat pada 2019 jumlah kunjungan selama setahun sebanyak 4,39 juta orang yang berarti jumlah pengunjung harian rata-rata mencapai 12 ribu orang! 

Menko Maritim dan Investasi, Luhut Pandjaitan turut menomentari meledaknya jumlah pengunjung mempengaruhi kepada struktur candi, seperti dilansir TEMPO pada 21 Maret 2021, Borobudur kan diimplementasikan “wisata berkualitas” yang mengacu pada rencana induk 1979. 

2. Gunung Semeru

overtourism indonesia
Pendaki di Puncak Gunung Semeru via TEMPO/Fajar Januarta

Gunung-gunung di Indonesia umumnya sekarang sedang mengalami overcrowded diakibatkan pengunjung yang semakin banyak dari hari ke hari. Kekuatan sosial media yang memperlihatkan foto-foto estetik tentang gunung menarik para pendaki baru untuk mencoba kegiatan pendakian. Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa juga mengalami hal ini. Awal booming Semeru karena salah satu film yang mengangkat kisah para pemuda yang melakukan pendakian. Semenjak tersebut, Semeru semakin ramai dikunjungi. 

Untungnya pengelola sudah mengantisipasi lonjakan pengunjung dengan menerapkan sistem booking online yang mampu membatasi kuota pendakian. Penutupan rutin dan insidentil juga membantu mengurangi lonjakan pengunjung dan memulihkan ekosistem yang telah rusak akibat pendakian.. 

3. Pulau Komodo

overtourism indonesia
Wisatawan memotret komodo di Pulau Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) via TEMPO/Rully Kesuma

Satu-satunya habitat komodo di dunia ini rupanya menarik minat wisatawan untuk terus mengunjungi tempat yang sudah menjadi warisan dunia oleh UNESCO ternyata juga terancam dengan kedatangan wisatawan yang terus menerus bertambah setiap tahun.

Pemerintah mencanangkan Pulau Komodo menjadi destinasi super premium, namun hal itu tentu menjadi pertentangan banyak pihak. Pembangunan masif  “Jurrasic Park” yang ditujukan untuk membangun kawasan tersebut dianggap mengganggu kehidupan komodo yang sudah terganggu semenjak wisata ini kian populer. Protes berdatangan dari banyak pihak, termasuk UNESCO yang meminta ditinjau ulang mengenai dampak lingkungan yang dihasilkan. 

4. Malioboro

overtourism indonesia
Saat pagabluk, Malioboro tetap padat pengunjung via ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

Ikon Jogja ini tampak selalu ramai. Orang-orang yang bertandang ke Jogja pasti singgah di Malioboro. Terletak di jantung utama Kota Yogyakarta, mau tidak mau Malioboro menjadi pusat keramaian. Ekonomi tumbuh subur di daerah sini, tetapi yang disayangkan akibat terlalu ramai, Malioboro terlihat kumuh dengan parkir-parkir yang tidak tertata rapi. Belum lagi banyaknya kasus warung-warung yang mematok harga selangit akibat persaingan dagang yang semakin ramai. 

5. Bali

overtourism indonesia
Pantai Kuta via ANTARA/Fikry Yusuf

Bali memang menjadi tujuan utama orang-orang yang bepergian ke Indonesia, khususnya dari mancanegara, tetapi bagi wisatawan lokal pun Bali tetap menjadi tujuan utama untuk berlibur. Pariwisata tumbuh pesat di sini dan menjadi pencaharian hampir setiap orang. Pemanfaatan sumber daya yang berlebihan akibat pariwisata berakibat buruk bagi warga lokal. Kualitas dan kuantitas air di seluruh Bali mengalami penurunan. Penyusutan lahan juga terjadi akibat pembangunan fasilitas pariwisata. Lahan-lahan persawahan yang dulu mudah dijumpai di perkotaan, kini beralih fungsi menjadi menjadi pusat bisnis. Belum lagi abrasi yang mengancam pesisir Bali yang terus menerus menggerogoti pantai.


Ditulis oleh: M. Irsyad Saputra

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.
Artikel Terkait
IntervalSemasa Corona

Menghadiri Pernikahan di Masa Pandemi

Interval

Menyusuri Sulawesi lewat Buku “Cerita yang Datang dari Pulau Berkaki Empat”

Interval

Eksistensi PLTA sebagai Destinasi Wisata

IntervalSampah Kita

Lautan yang Indah Kini Menjelma Tumpukan Sampah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pariwisata Inklusif versus Eksklusif, Menang Siapa?