Travelog

Sensasi Makan “Seafood” di Warung Lesehan Pak Ndo Semarang

Sore kemarin saya kembali mengorbit di kawasan Taman Indonesia Kaya Semarang. Tujuannya hanya untuk mencari keberadaan “Warung Wahing” yang dulu sering jadi tempat makan malam saya dan teman-teman kantor. Entah kenapa saya mendadak rindu rasa khas bumbu rica-rica masakan di Warung Wahing. Mungkin karena sudah lebih dua tahun ini saya nggak pernah mampir ke sana.

Satu per satu warung lesehan yang berjajar di pinggir jalan saya perhatikan, namun yang saya lihat hanya spanduk lapak tahu gimbal. Dari aplikasi penunjuk jalan, akhirnya saya tahu kalau Warung Wahing favorit saya ini sudah pindah dari emperan ke sebuah bangunan sekitar satu kilometer dari warung lama.

Kendaraan pun saya bawa memutar, menyusuri jalanan taman yang dulunya dikenal sebagai Taman KB itu. Kepadatan jalan dan suara bising klakson menemani perjalanan singkat saya. Ternyata susah juga menemukan Warung Wahing. Lalu, saat berhenti di pinggir, seorang juru parkir mengagetkan saya yang sedang dilanda kebingungan.

warung lesehan pak ndo
Tampak depan Warung Lesehan Pak Ndo/Mauren Fitri

“Mau ke mana, Mbak? Mau parkir atau mau mundur ke mana?” ia bertanya. Saya jawab bahwa saya hendak ke Warung Lesehan Pak Ndo.

Lho? Kok Warung Lesehan Pak Ndo? ‘Kan tadi katanya mau ke Warung Wahing?

Jadi begini: Warung Wahing ini bukan nama sebenarnya, tapi sebuah code name. “Wahing” adalah bahasa Jawa dari bersin. Soal kenapa Warung Lesehan Pak Ndo bisa jadi “Warung Wahing” ada ceritanya.

Yang memberi nama Warung Wahing adalah rekan-rekan kantor saya. Soalnya, setiap kali menunggu makanan datang, kami sering bersin-bersin disengat aroma bumbu rempah yang sedang diolah dalam wajan. “Pak Ndo” dalam namanya adalah singkatan dari julukan sang pemilik, Pak Ratono, ketika masih muda, yakni “Londo.” Jadi “Pak Ndo” adalah “Pak Londo.”

Menikmati kerang hijau bumbu rica-rica

warung lesehan pak ndo
Memasak “seafood”/Mauren Fitri

Akhirnya, atas petunjuk juru parkir itu, saya menemukan Warung Lesehan Pak Ndo. Meskipun saya kesulitan menemukannya, sebenarnya warung itu berada pada posisi strategis, tepat di belakang Gedung Telkom, kawasan yang menjadi andalan para pegawai kantoran untuk makan siang.

Dibandingkan warung lamanya, Warung Lesehan Pak Ndo sekarang tampak lebih bagus. Warungnya tertata rapi dan nggak terlalu terdampak kebisingan jalan raya.

Seorang pramusaji sedang menggelar tikar ketika saya tiba. Katanya, sekitar sepuluh menit lagi warung baru siap dibuka. Meskipun begitu, saya tetap diperbolehkan menulis pesanan makanan terlebih dulu.

Karena favorit saya adalah kerang hijau bumbu rica-rica, otomatis masakan itu yang saya tulis di deretan paling atas kertas pesanan, disusul seporsi nasi putih, cumi saus Padang, dan es jeruk manis. Sibuk bermain ponsel, saya nggak sadar kalau pesanan sudah mulai dimasak. Pas pesanan saya dimasak, keluar aroma wangi rempah dari dapur Pak Ndo. Gejala wahing pun dimulai.

Menyantap aneka masakan laut

Beberapa macam kerang disajikan di sini. Kamu bisa pilih sesuai selera. Ada kerang hijau, kerang srimping, kerang dara, dan kerang putih. Kalau nggak doyan kerang, ada cumi-cumi, udang, dan kepiting yang bisa jadi alternatif.

warung lesehan pak ndo
Hidangan kerang hijau rica-rica/Mauren Fitri

Bumbu masakannya pun beraneka ragam. Kalau suka pedas, rica-rica bisa jadi pilihan. Ada juga bumbu-bumbu lain yang bisa dipilih seperti goreng margarin, goreng bawang, saus Padang, saus asam manis, saus kacang, tauco, saus asam manis, rebus kuah, kuah gulai, dan acar kuning.

Sejenak saya mengintip dapur Pak Ndo dan mengamati koki memasak kerang pesanan saya. Aroma bumbu rempah menguar dari penggorengan. Hidung saya pun nggak tahan untuk kembali wahing.

warung lesehan pak ndo
Cumi saus Padang, kerang hijau rica-rica, nasi putih, dan sambel/Mauren Fitri

Tak lama kemudian, kerang hijau rica-rica dan cumi saus Padang mendarat di meja. Bumbu ricanya cukup pedas, sangat gurih. Rasa asin dan manisnya pas. Juga, ada semacam aroma gosong yang makin menggugah selera untuk makan lebih banyak. Bisa dibilang rasa kerangnya kalah dari rasa bumbu ricanya. Pokoknya enak deh—setidaknya di lidah saya. Begitu pula dengan cumi saus Padang, yang terasa lebih legit tapi sangat gurih karena dicampur dengan bawang bombay yang cukup banyak. “Maknyus!” kalau kata Alm. Bondan Winarno. Belum ada sepuluh menit, habis sudah dua piring seafood yang saya pesan.

Tiba-tiba saya ingat kalimat ajakan yang dulu sering diucapkan Mbak Seche, senior saya di kantor lama: “Yok, ke Wahing!” Dipikir-pikir, setelah sekian lama nggak mampir ke Warung Wahing—dan meskipun warungnya sudah pindah—rasa dan aroma masakannya masih selezat dua tahun lalu.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI.

Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Avatar

Suka gendong ransel, suka motret, kadang nulis.
Related posts
Travelog

Perjalanan ke Alasa, Nias Utara

Travelog

Tak Sengaja Singgah ke Limanjawi Art House

Travelog

Mengunyah Kapur Sirih di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah

Travelog

Seminggu di Kota Kembang

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *